Kisah

AKU BESAR DI MASA ORDE BARU

Saya sengaja menulis ini untuk meluruskan sejarah bagi generasi muda yg lahir setelah orde baru atau di akhir orde baru.

Prihatin dengan banyaknya Bulian terhadap Bapak Prabowo Subianto yang mengatakan jika Prabowo menang maka orde baru akan kembali mencengkeram Indonesia! Baiklah sebagai rakyat biasa yg di besarkan di masa orde baru saya ingin memberikan penjelasan bagaimana hidup di masa orde baru!

Apa yang di sebar luaskan pada masa kampanye ini sungguh benar-benar sesuatu yg jauh dari kejujuran dan kebenaran! Bagi saya masa orba adalah masa terbaik dari seluruh pemerintahan yang ada di Indonésia!

Saya bicara sebagai orang awam yg tidak berpihak kepada siapapun! Saya hanya ingin berpihak kepada kebenaran dan kejujuran! Karena itulah perintah Allah SWT.

Tidak pernah bisa saya lupakan ketika saya kecil bersekolah di TK Desa yang berada di kaki Gunung Kelud. Setiap hari sabtu selalu ada pembagian kacang hijau gratis dan susu bubuk seukuran 0.5 kg yang boleh kami bawa pulang. Ketika ada Lomba Guru TK saya, ibu Win, selalu membonceng saya dengan sepeda onthelnya ke Kecamatan untuk mengantar saya. Jika saya menang maka saya membawa pulang hadiah kotak makan, bola bekel, Atau buku, Pèncil dan Kotak Pencil yang pada zaman itu masih merupakan barang mewah bagi kami orang Desa.

Ketika menginjak Sekolah Dasar Kami Hanya cukup mendaftar dengan uang yang sangat kecil nilainya. SPP Gratis dan Buku-buku di bagikan untuk di pinjam selama setahun sesuai tingkatan kelas. Orang tua cukup membeli buku tulis dan pensil saja sebanyak 5 buku karena hanya ada pelajaran Agama, PMP, Bahasa Indonesia dan Matematika. Kemudian kelas 3 baru ada pelajaran IPA dan Ilmu Sosial.

Bagi orangtua kami para petani mendapatkan bantuan pupuk Bibit Padi dan Jagung gratis di Balai Desa. Pernah suatu ketika ada masa dimana Panen gagal karena hama wereng dan tikus dan kami terpaksa harus makan gaplek yaitu singkong yang di keringkan yang kemudian di olah menjadi tiwul sebagai pengganti beras. Semua itu terjadi karena memang tidak ada beras yang bisa dimakan bukan karena kami miskin. Dengan sigap Pak Harto kembali menggelontorkan bibit padi dan pupuk gratis supaya Petani bangkit lagi untuk menanam padi. Dan Anak-anak sekolah tetap menerima bantuan makanan sehat!

Ketika menginjak SMP Orang Tua saya mendapat sumbangan Sapi Powan betina 2 ekor. Sumbangan itu disesuaikan dengan letak geografis karena desa kami terletak di kaki gunung Kelud dan dekat dengan koperasi Susu di Pujon malang. Dengan menggunakan motor butut nya ayah saya selalu mengantar susu sebanyak 2 drum Susu masing-masing berisi 12 liter. Karena 1 sapi bisa menghasilkan susu sebanyak 12 liter tersebut!

Dengan bantuan sapi tersebut orang tua kami bisa menyekolahkan kami. Sedang hasil bertani lebih banyak di gunakan untuk makan dan memperbaiki rumah sederhana kami. Ibu saya di beri pelatihan gratis untuk membuat permen susu dan tahu susu. Semua biaya dari pemerintah.

Desa kami merupakan Desa teladan saat itu begitu juga SD kami adalah SD teladan sehingga sering tamu datang Dari LN dan yang paling saya ingat adalah dari Africa yang di dampingi oleh Pak Harto Sendiri. Mungkin beliau seorang kepala Negara karena saya masih terlalu kecil untuk mengetahui siapa beliau. Yang jelas pastilah seorang petinggi negara karena Bapak sendiri yang harus mendampingi. Dan ibu saya yang pernah tinggal di Singapura dan bisa Berbahasa Inggris selalu di panggil menjadi Penerima tamu bersama ibu-ibu lain yang rata-rata mudanya para bunga desa dan terkenal karena kecantikannya.

Desa kami begitu hidup masyarakat saling membantu dan rukun. Sistim Gotong Royong selalu di aktifkan oleh Pak Harto. Ketika kami membangun rumah tidak perlu biaya terlalu besar untuk membayar tukang karena selalu tetangga kami bergantian datang membantu. Ibu-ibu PKK selalu aktif mengadakan kegiatan begitu pula Karang Taruna (wadah Pemuda Desa) mendapat pelatihan gratis dari pemerintah secara berkala. Desa kami aman tidak pernah ada perampokan meskipun banyak tetangga kami yang kaya. Karena Hansip ada di setiap Desa ronda malam pun selalu aktif!

Ketika saya merenung apa yang terjadi di masa sekarang dan bagaimana pemerintahan setelah masa reformasi barulah saya sadari betapa hebatnya orde baru. Orde Baru adalah masa ke Emas an Indonesia dimana Indonesia sangat disegani di mata dunia! Tentara tentara kita selalu hadir menjadi tentara perdamaian PBB.

Meskipun Pak Harto tidak bisa berbahasa Inggris tetapi Gestur Tubuh beliau menunjukkan kecerdasan beliau. Sehingga beliau di segani di mata Dunia. Tidak ada Negara yang berani menghina Indonesia apalagi berkasak-kusuk seperti saat ini.

Pak Harto adalah seorang yang sangat ngopeni rakyatnya.Beliau tidak mau rakyatnya kekurangan gizi maka beliau bentuk berbagai macam program yang berpihak kepada rakyat kecil.

Ide ide beliau sangat Brilian. Pak Harto lah pembentuk karakter bangsa! Beliau lah yang mencetak orang-orang seperti saya. Bukan hanya gizi yang beliau pikirkan tapi juga akhlak dan moral masyarakat.

Tidak banyak perampok maling dan pencopet di masa pak Harto krn beliau sangat tegas dengan hukumannya. Tidak ada Narkoba yg beredar bebas seperti saat ini. Negara aman dan tentram.

Diantara Ide brilian beliau adalah memasyarakatkan 4 sehat 5 Sempurna. Sangat berbeda dengan Presiden Jokowi yang justru memaksakan rakyatnya untuk makan tempe seharga 3.500 untuk 3 hari. Rakyat di paksa untuk menerima keadaan yang tidak mungkin.

Pak Harto juga pencetus Koperasi yang idenya diambil dari budaya gotong royong.Tapi sayamg saat ini justru ribuan koperasi tutup karena pemerintah tidak perduli!

Pak Harto juga sebagai pencetus Butir-butir Pancasila. Sehingga kami memahami apa itu Pancasila.
Kami dipaksa untuk menghapalkan butir butir Pancasila dan mengamalkannya. Yang pada saat ini baru saya sadari itulah sejatinya beliau membentuk moral kami menjadi orang yang cinta Tanah Air, Hormat kepada Pahlawan! Hormat kepada Guru guru kami,hormat kepada Orang Tua.Menghargai antar Pemeluk Agama dan antar Suku.

Membentuk kami menjadi pribadi yang tangguh. Yang tidak cengeng dengan keadaan.Serta taat kepada Agama yg kami anut.

Bandingkan dengan pemimpin negara saat ini yang sama sekali 0 program buat masyarakat. Jangankan membentuk karakter masyarakat Presiden justru membentuk relawan untuk melindungi jabatannya. Presiden justru mengajak relawan untuk berani berantem dengan masyarakat yang kritis terhadap pemerintah. Presiden juga bertutur kata yang tidak sopan seperti Sontoloyo, Gendruwo dan tak Tabok! Bagaimana murid mau menghargai guru! Menghargai orang tua menghagai yang berbeda lawong presidennya saja ngajari berantem! Moral anak-anak sekarang sudah warning! Narkoba ber ton ton masuk dg mudah ke Indonesia. Jika yang demikian pemerintah tidak bisa mengatasi lantas apa gunanya ada Pemerintah?

Pak Harto Selalu ada ditengah masyarakat petani karena beliau memang sangat konsen dengan ketahanan pangan. Karena tanpa kemandirian pangan mustahil bangsa Indonesia bisa kuat! Tentara kita bisa kuat anak-anak kita bisa cerdas. Hingga surplus beras pun tercapai! Indonesia bisa meminjamkan beras ke Vietnam dan Africa.

Tapi apa yang terjadi sekarang Presiden justru tidak berdaya terhadap tingkah laku Mendag yang besar-besaran Import beras di saat panen raya. Padahal sebelum Bapak Jokowi menjabat beliau pernah ber orasi bahwa beliau sedih karena Indonesia Import pangan padahal sawah kita luas. Tapi saat ini justru Hampir semua bahan pokok di Import!

Pak Harto juga yang punya program Transmigrasi selain bertujuan memberi lahan gratis kepada rakyat yang tidak mampu tetapi juga bertujuan menyatukan rakyat yang bereda suku agar menyatu dan saling kenal. Program Transmigrasi setiap KK di beri tanah 2 Hektar dan di beri jatah beras Lauk pauk dan sedikit uang saku selama 1 tahun dan sudah disediakan rumah panggung di setiap lokasi yang di tuju. Pak Harto
mengajarkan pada masyarakat agar mau babat hutan seperti kakek-kakek kami terdahulu. Supaya masyarakat tidak malas. Hasil tebangan kayu hutan boleh di ambil atau di jual oleh para trasmigran. Dan saat ini sudah banyak yang merasakan hasil dari jerih payah Pak Harto mengatur Rakyatnya. Sudah banyak masyarakat Jawa Bali NTT & NTB yang memiliki kebun dan hidup beranak pinak di daerah baru tersebut.

Bandingkan dengan Pemerintah sekarang yang justru menjual hutan hutan tersebut untuk para cukong dan menjadikan rakyatnya sebagai buruh!

Dan Pak Harto tidak ada pajak bagi pedagang kecil dan pengusaha kecil. Pajak PBB pun sangan kecil nilainya. Di saat dollar hanya 1000 rupiah harga beras hanya 300 rupiah harga minyak tanah 300 rupiah bensin 400 rupiah. Bandingkan dengan harga-harga sekarang beras pun sudah hampir 1 dollar. Di masa pak Harto kerja 1 hari bisa untuk makan 3 hari. Sedang saat ini kerja 1 bulan hanya cukup untuk 2 minggu.

Jika ada yang bilang di zaman pak Harto tidak bisa beli televisi dan sepeda motor. Tapi sekarang rakyat bisa punya semua itu termasuk gadget.

Baiklah mari kita berhitung. Bisa memiliki televisi dan kendaraan apakah itu ukuran Makmur? Di zaman pak Harto kita tidak bisa beli televisi dan motor karena teknologi nya masih baru belum banyak di produksi sehingga terbilang mahal saat itu. Harga televisi saat itu berkisar 500 rb keatas jika kita kurs kan dengan dollar artinya harga televisi kecil 20 inchi kira-kira 500 usd jika di kurs kan uang sekarang kisaran 7.5jt rupiah sedang kebutuhan hidup kita saat itu dengan gaji 100.000 saja sudah bisa makan 1 bulan.

Tapi bandingkan dengan harga pangan zaman sekarang gaji anda 5-7 juta tapi harga Televisi flat terbaru hanya 2jt tv tabung hanya 1 juta. Tetapi gaji anda habis bahkan kadang tidak cukup untuk hidup 1 bulan saja.

Pak Harto juga yang memanggil BJ Habibie pulang ke Indonesia untuk membangun PT Dirgantara. Seandainya beliau tidak di lengserkan tentulah saat ini kita sudah punya produksi pesawat sendiri yang pertama di Asia!

Jika beliau di katakan otoriter dan tidak demokrasi semata-mata karena beliau paham betul PKI masih bergentayangan di bumi ini dan bisa menghancurkan bangsa ini jika di beri ruang. Terbukti pada masa-masa di mana PKI bebas mereka selalu membuat teror bagi umat islam karena mereka membenci agama terutama Islam dan Ulama banyak yang di bunuh puncaknya ketika 7 Jendral mereka kubur hidup-hidup di lubang buaya. China dan keturunannya tidak mempunyai ruang di negeri ini karena pak Harto tau mereka kaum opportunities yang hanya mementingkan pribadi dan golongan mereka dan tidak perduli terhadap Masyarakat. Tetapi beliau menghargai Keturunan china yang Nasionalis terbukti beliau mengambil Prabowo sebagai menantu! Anak dari seorang Ekonom Soemitro keturunan Tionghoa yang akhirnya menjadi Mualaf. Tidaklah mungkin beliau mengambil Prabowo Subianto sebagai menantu jika Prabowo bukan seorang yang berkualitas! Meskipun kemudian Prabowo di usir dari cendana karena fitnah an Wiranto yang telah beliau bantu menjadi Kasad hingga Menteri.

Lantas bagaimana dengan rezim sekarang yang selalu teriak demokrasi terbuka Pancasilais dan cinta kebhinekaan. Kenyataan justru berbalik dari yang mereka ucapkan! Saat ini pemerintahan lebih otoriter daripada zaman orba. Semua media di larang memberitakan kebaikan oposisi dan diancam! Masyarakat yang vocal dan kritis terhadap pemerintah di tangkap tidak perduli laki-laki maupun perempuan! Ulama ulama di persekusi bahkan sampai ada yang di bunuh! Umat muslim yang tidak pro pemerintah di katakan Radikal dan anti Pancasila! Masyarakat justru di pecah belah dan di adu domba. Yahudi bebas mengibarkan bebderanya di Papua. Shiah bebas membangun masjid. Hal yang tidak mungkin terjadi di masa Orba.

Jika kalian mendengar isu mengenai Korupsi dan KKN di masa Orba tidak bsa di pungkiri itu ada dan terus ada pada masa setelah orba. Tetapi di banding dengan korupsi dan KKN saat ini jauh lebih parah dan terang-terangan. 30 th Pak Harto memimpin beliau tidak memberikan jabatan kepada Adik adiknya ataupun Anak kandungnya. Tapi begitu Jokowi naik maka Puan Maharani pun menjadi menteri tanpa kualitas seorang menteri! Semua jabatan menteri di berikan kepada orang-orang dekat Megawati. Begitu Juga BUMN lebih besar di berikan kepada kroninya yang tentu tidak mempunyai kapasitas sebagai Direktur ataupun komisaris. Hanya karena mereka dulu sebagai relawan Jokowi. Itulah sebab kenapa hampir semua BUMN bangkrut! Dan banyak yang sudah di jual! Lantas kemana uang hasil jual BUMN dan berhutang hingga 4000 Triliun itu? Padahal semua subsidi sudah di cabut? Benarkah uang sebesar itu hanya untuk Insfratruktur? Jika benar seharusnya semua Insfratruktur selesai dan gratis tidak perlu bayar karena rakyat sudah membayar hutang dengan kenaikan segala macam pajak! Lantas kenapa Jalan toll Pelabuhan dan Bandara masih juga dijual? Kemana uang yang begitu besar nilainya? Jika kalian ingin tau kebenarannya jangan jadikan Jokowi sebagai Presiden untuk yang ke 2 kalinya, Pasti semua akan terungkap!

Terlalu jauh kualitas pemimpin saat ini dibanding masa Orba.Sekarang tergantung pilihan kalian.Karena pemilu adalah Hak masing-masing. Dengan membaca tulisan saya ini saya berharap kalian para generasi muda bisa mengetahui bagaimana hidup di zaman Orde Baru.

Orang-orang yang dulu merasa terbelenggu dan yang Sekarang menyebarkan fitnah bahwa orde baru adalah masa yang kelam negeri ini. Sudah jelas mereka adalah bagian dari keturunan yang pada masa itu memang tidak di beri ruang berkembang karena telah berkhianat terhadap NKRI dan Pancasila

Masih banyak kebaikan pak Harto yang tidak bisa saya tulis semuanya. Beliau memang tidak sempurna tetapi beliau lah yang terbaik dari semua pemimpin yang pernah ada!

Wallahu A’lam bissowaf. Allah Maha pengampun dan Penyayang!

Yogyakarta, 30 November ’18
Monaliza Abidin

Opini

Refleksi 4 Tahun Kepemimpinan Jokowi 2014-2018

JOKOWIER, PEDAGANG PENGARUH, MACHIAVELIAN, RASIALIS DAN ISLAMOPHOBIA

Oleh: Natalius Pigai
(Kritikus/Aktivis)

Pemerintahan kepemimpinan Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla sudah berlangsung 4 tahun lamanya. Apa yang dilakukan oleh pemerintah selama ini sudah dinilai secara paripurna, oposisi bertahan pada kritikan-kritikan yang tajam dan menohok, sementara partisan defensif. Karena itu tahun yang keempat ini tulisan ini difokuskan untuk menilai para pendukung pemerintah Kepemimpinan Jokowi yang saya beri nama Jokowier. Siapa saja yang dimaksud dengan Jokowier? Jokowier disini saya batasi pada Pejabat Pemerintah yang mengklaim diri orang-orang lingkaran dalam (iner sircle) Jokowi, Kerabat Penguasa, Pendukung Pemerintah baik Tim Sukses, Relawan. Namun tentu saja semua penjelasan berikut berbasis pada fakta peristiwa telah disuguhkan oleh media sebagai jendela bangsa. Ada yang terbukti, masih dalam proses hukum dan ada yang masih bersifat praduga tidak bersalah.

Tidak terasa Pemerintah Jokowi telah menelan waktu 4 tahun berlalu, 4 tahun itu pula Jokow(i)er, Para Penguasa, Jokopedia, Seknas, Bara JP, Partai Pendukung dan simpatisan berkoar koar memuja-muji Pemerintah saban hari tanpa henti, tanpa lelah dan tanpa bosan beriring bersama lapuknya waktu. Anda katakan pemerintahan Jokowi anti korupsi, anti kolusi dan anti nepotisme, Pemerintah memberantas mafia, kartel, Pemerintah menepati janji, Pemerintah tidak langgar HAM, komitmen pada rakyat, konsisten, demokratis, bermoral, menghormati kebebasan ekspresi. Semua kata-kata memang enak didengar dan itu adalah kesimpulan kalian, tentu saja, saya menghormatinya, namun saya ingin bertanya bagaiamana bisa memberantas para oligarki (mafia ekonomi dan kartel dagang) yang menempatkan seorang Wali Kota ke Gubernur dan Presiden dalam waktu kurang dari 3 tahun, orbit bak meteor ditengah-tengah pemilihan berbiaya trilyunan, kalau tidak dibekingi oleh kaum oligarki ekonomi maupun para taipan hoakiao di negeri ini.

Bagaimana kita bisa memastikan pemerintah ini bersih anti Kolusi, Korupsi dan Nepotisme, sedangkan BUMN dijadikan alat bancakan puluhan orang penganggur jalanan dan Job seeker ditampung sebagai pemimpin perusahan berplat merah? Sedangkan Ahok sempat keluarkan jurus jitu adanya sokongan para taipan dalam pemilihan Presiden, udar Pristono diduga dibungkam, freeport tadinya Jokowi tolak bak seorang nasionalis tulen, namun akhirnya tunduk dan bertekuk lutut pada simbol imperialisme Amerika dengan mempermudah ijin eksport dan menyetujui kontrak karya meski menentang amanat undang-undang minerba. Belum lagi 66 janji Presiden dihadapan rakyat Indonesia seperti membeli kembali Indosat, tidak Import pangan, tidak utang luar negeri menyelesaikan persoalan HAM dan lain sebagainya dan lain sebagainya.

Dalam pemerintahan ini, kita telah sedang menyaksikan (sambil ketawa) sandiwara murahan pemerintahan, antar institusi negara dibentrokkan, hukuman mati, penenggelaman sampan-sampan murahan, negeri maritim yang paceklik, hukum Jahiliah kebiri, kapitalisasi politik laut Cina selatan yg suhu politiknya tidak pernah besar dan tidak akan pernah besar dengan pura pura dan menipu rakyat dengan mengobarkan semangat nasionalisme diatas geladak kapal perang Republik Indonesia pembelian rakyat kecil (wong cilik), penipuan murahan dan omong kosong terhadap orang-orang telanjang di Papua dengan mengatakan akan bangun rel kereta api di Papua, jalan tol melintasi tebing-tebing terjal.

Selama 4 tahun, Pemimpin di negeri ini hadir tanpa perasaan, tanpa peduli terhadap kaum marjinal, orang-orang miskin. Pundi-pundi orang kaya tumbuh 10% / tahun, pengusaha hanya tumbuh 3%, orang miskin hanya turun 1 digit padahal negara telah habiskan uang rakyat 8 ribu trilyun APBN.

Akhirnya juga saya mengukur moralitas pemimpin dengan hanya dilihat dari Mobil ESEMKA bikinan Solo yang mendobrak citra seorang Wali Kota hingga menjadi presiden, orang nomor 1 Republik ini. Hari ini, ESEMKA tidak bisa diproduksi jadi mobil buatan domestik seperti Proton di Malaysia dan Mobil Nasional jaman Suharto. Meskipun konon katanya masih diperdebatkan atas kebenaran akan diproduksinya. Bangsa papua berduka dalam kesedihan atas tragedi yg menimpa ribuan bumi putra, bahkan tokoh pejuang pasar mama-mama meninggal dalam perjuangannya padahal Jokowi janjikan Proyek ini tidak pernah kunjung usai sampai hari ini.

Dalam politik transaksional bagaimana berkoalisi ke Pemerintahan, selain tawaran menteri juga dugaan pembagian proyek triliunan rupiah. Bukankah pembangunan infrastruktur, jalan, jembatan dan lain-lain yang membutuhkan triliunan rupiah itu, Presiden menggunakan otoritas melalui kontraktor Pemerintah, kemudian dengan diam-diam menggandeng kontraktor swasta dengan penunjukan langsung? Memang berkuasa itu enak, mumpung berkuasa, Aji mumpung dan Itulah kekuasaan, dengan berkuasa secara leluasa bernafsu memanfaatkan kekuasaan untuk dirinya, sanak saudaranya, koleganya dan masa depan kariernya.

Ada benarnya jika seorang Inggris Lord Acton menyatakan bahwa kekuasaan cenderung korup dan mau melakukan korupsi secara mutlak (power tends to korups, and will corupts absolutely). Namun saya menghormati bangsa ini yang masyarakatnya masih anonim dalam politik sebagaimana Pengamat Politik berkebangsaan Australia Herber Feith pernah sampaikan kondisi pemilih tahun 55 dan saat ini hanya terjadi perubahan pemerintahan dan politik, sementara mayoritas masyarakat masih stagnan dan belum melek politik sehingga timbul kelompok solidaritas nekat, solidaritas buta, militan dan cenderung fanatis.

Kelompok tersebut yang sangat nampak saat ini adalah kelompok pendukung Jokowi, pendukung ahok, pendukung mega, pendukung Luhut, pendukung penguasa. Para punggawa politik mereka oleh para pendukung menganggap sebagai titisan dewa, kata-kata dan perbuatan tokoh-tokoh tersebut benar semua dihadapkan pendukung fanatik ini. Bahkan kata-kata dan nasehat atau perintah mereka dianggap titah dewa, Devine Right of the King, seperti yang pernah praktekan oleh raja Jhon di Inggris abad ke 15 pada masa monarki absolut.

Semoga Jokower pendukung Jokowi tidak demikian, sehingga orang-orang terdidik, komunitas masyarakat sipil harus membangun bangsa Madani yang Kritis dan rasional, Imparsial, objektif untuk menempatkan dan memilih pemimpin berdasarkan rasionalitas, akal yang sehat bukan atas dasar tahayul, fanatisme agama, suku, ras antar golongan. Kita sudah terlalu lama hidup didalam kungkungan kebohongan dan terpolarisasi berdasarkan fragmentasi elit bangsa, tidak berdasarkan fragmentasi ideologi, jutaan rakyat menjadi nasionalis abangan pengikut seorang oknum Individu, saya katakan bangsa bodoh saja yang menempatkan nasionalisme personifikasi oknum individu, bukan nasionalisme cinta tanah air dan bangsa.

Kelompok yang mengaku priyayi dan abangan tidak memiliki doktrin ideologi. Ideologi mereka hanya kekuasaan, mereka tidak punya harapan dan cita-cita untuk bumi putera Karena mereka hamba sahaya kolonial sebagai pemungut cukai. Lain dengan kelompok santri yang jatuh bangun berjuang membebaskan negeri. Semua pahlawan yang merintis lahirnya negeri ini adalah pahlawan kaum bersorban.

Sudah 4 tahun memimpin negeri ini berbagai sandiwara dipertontonkan para Jokowier. Mereka mengklaim diri sebagai pemilik kekuasaan, mampu mengontrol otoritas negara, orang dekat kekuasaan. Pola pikir pongah dan bedebah yang dipertontonkan ke publik sebagai pedagang pengaruh (Trading in influences). Bayangkan berbagai kasus suap dan korupsi yang merusak bangsa di sebagian besar di lakukan karena memanfaatkan atau memperdagangkan pengaruh. Menjual nama pejabat, kedekatan dengan pejabat dan bahkan sanak saudaranya.

Disaat yang sama selama 4 tahun juga menyerang para oposisi secara membabi buta tanpa perasaan, tanpa berperikemanusiaan. Menyerang oposisi dengan berbagai kata-kata rendahan, berbagai bentuk kekerasan verbal. Penyebutan monyet dan gorila oleh Jokowier kepada lawan politik, suatu tindakan yang relevan hanya dilakukan Simbol manusia tidak bernilai dan berbudaya karena cenderung diskriminatif dan rasialis.

Demikian pula ancaman labilitas intergradasi vertikal dan horisontal yaitu antara negara dengan rakyat dan rakyat dengan rakyat selama ini, khususnya sebagaimana dialami oleh umat islam sungguh menyakitkan di negeri Pancasila yang beragama mayoritas muslim. Penyerangan, penganiayaan, pelarangan dan diskriminasi terhadap para ulama, kyai, ustad, habaib telah menyatakan secara lancang tentang adanya islamophobia di negeri ini. Hal ini merusak tatanan dan nilai agama yang dianut oleh mayoritas rakyat Indonesia.

Berbagai kebijakan dan tindakan pendukung Jokowier lebih mencerminkan pemanfaatan kekuasaan, jabatan dan uang hanya untuk melanggengkan kekuasan dengan cara machiavelian sekalipun. Pertimbangan utamanya adalah karena para Jokowier tidak mau terusik dari zona nyaman mereka.

Para Jokowier, rakyat ini sudah lama menderita, seandainya negara dan rakyat ibarat bersuami dan istri sejak jaman pancarobah 2 tahun lalu, mereka sudah kasih talak 3 ke negara, apakah kita tahu bahwa rakyat yang hidup di pelosok nusantara ini mereka hidup dan berpengaruh dengan adanya negara? Mereka hidup dari hasil usahanya, ketergantungan kepada alam, hidup sangat autarkis, taken for granted, anugerah Ilahi dengan sumber daya alam yang melimpah ruah di bumi nusantara, tanpa sentuhan negara bisa hidup, bahkan lebih aman, mereka tidak paham Presiden operasi pasar harga daging sapi turun sampai 80 ribu, mereka tidak tahu operasi pasar untuk turunkan harga pangan, sandang dan papan, mereka juga tidak paham berbagai kebijakan dan regulasi tetek bengek yang dibuat oleh negara, mereka juga tidak tahu segala kebijakan pembangunan infrastruktur jalan-jalan bertingkat, jembatan tanpa sungai, dan juga gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, jutaan rakyat di bumi pertiwi ini hidup bisu, tuli, cenderung sebagai orang-orang tidak bersuara, nun jauh dari hirup pikuk modern yang hanya berkutat di Jakarta, Jawa dan kota-kota tertentu.

Memang power tens to corupts, semua ini akibat kita rakus berkuasa, kekuasaan memang penting, namun kita lalai distribusi kekuasaan bagi putra putri di seluruh nusantara, bagaimana mungkin Presiden selalu Jawa, menteri-menteri mayoritas selalu Jawa lantas bisa distribusi kekuasaan, orang Ambon sudah lama menderita, 40 tahun tidak pernah menjadi menteri, meskipun Leimena pernah menjadi wakil perdana menteri, orang Dayak pemilik pulau terbesar kedua setelah Greenland sampai hari ini belum ada yang menjadi menteri, walaupun orang Dayak di Malaysia sering menjadi menteri. Sejak Indonesia merdeka sampai saat ini orang Buton di Sulawesi Tenggara belum pernah di kasih kesempatan meskipun saudara-saudara kita Laode-Laode banyak orang hebat di negeri ini. Orang Papua jadi pemberontak dulu baru dikasih menteri, padahal bangsa Papua adalah bangsa pemberi bukan bangsa pengemis. Jong Ambon, celebes, Borneo dan Andalas bersatu bukan tanpa cek kosong, mereka memberi dengan cek berisi sumber daya alam yang melimpah.

Selain distribusi kekuasaan ada aspek yang paling penting adalah distribusi pembangunan, sangat tidak adil dan cenderung diskriminatif, ketika pulau Jawa dan Sumatera konektivitas antar daerah baik darat, udara dan laut terbangun rapi sementara di seberang sana, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua pembanguan jalan Trans yang dibangun saat ibu kandung saya masih kecil sampai saat ini belum pernah selesai. Bukan berita hoax, pembangunan jalan Trans Papua dibangun tahun 1970, ibu saya usia 15 tahun, sampai hari ini tidak ada jalan Trans Papua yang terbangun.

Para pendukung nekat sekalian, negeri ini bukan monarki, juga bukan oligarky, yang kekuasaan hanya berpusat pada raja dan sekelompok orang. Negeri ini REPUBLIK INDONESIA, negeri milik bersama dimana kekuasaan berpusat pada rakyat Indonesia dan mereka yang mengelola hanya diberi kedaulatan oleh rakyat ( Summa Potestas, sive summum, sive imperium dominium). Karena itu esensi dari negara demokrasi maka satu-satunya cara untuk memperbaiki bangsa ini adalah distribusi keadilan (distribution of justice), melalui distribusi kekuasaan ( distribution of power) dan distribusi pembangunan ( distribution of development) di seluruh Indonesia. Dan itu hanya bisa dilakukan melalui pemimpin yang dipilih secara rasional dan masyarakat Madani yang kritis tanpa pendukung fanatis, militan dan cenderung destruktif dan tahayul.

Natalius Pigai.

Di atas Jembatan Udara Nusantara, Jakarta-Manokwari, 22 Oktober 2018

Piye Kabare, Tokoh

Angkatan Muda Partai Berkarya Lahir Atas Kecintaan Pada Pak Harto

Generasi milenial atau juga biasa disebut Generasi Y, lahir pada kurun waktu 1980-2000. Diakui, sebagai generasi yang cerdas dan melek teknologi. Keberadaan generasi milenial menjadi sangat berharga untuk mewarnai perpolitikan di Indonesia. Lumrah saja, karena dengan berbekal kemampuan lebih mereka yang dominan di bidang teknologi dan informasi, mereka bisa menggerakkan sebuah pergerakan yang masif untuk mendukung hal-hal positif

Demikian juga dengan AMPB Berkarya yang merupakan salah satu sayap organisasi kemasyarakatan Partai Berkarya. AMPB Berkarya adalah generasi Muda Partai Berkarya yang kelahirannya merupakan Pengejawantahan atas kecintaan para anak-anak muda kaum Milenial kepada sosok Pak Harto.

“Banyak sekali disinformasi yang sengaja disebarkan pihak-pihak yang mencari keuntungan dengan menjatuhkan Citra pak Harto yang tidak berdasarkan fakta, hal inilah yang akan kita lawan, kami akan memaparkan berbagai fakta keberhasilan pemerintahan presiden RI ke-2 yang sesuai dengan fakta sejarah yang ada,” ujar Bung Kapten Indonesia Oktoberiandi dihadapan Sekjen Partai Berkarya H Priyo Budi Santoso dalam rangka persiapan peringatan Hari Sumpah pemuda 28 Oktober, senin 15 Oktober di kantor DPP Partai Berkarya.

Menanggapi apa yang dikatakan Oktoberiandi, H.Priyo Budi Santoso mengatakan : “Generasi Milenial tidak boleh menjadi bidak-bidak politik, yang gampang disesatkan melalui isu-isu yang belum jelas keabsahannya dan terhasut oleh info-info serampangan, yang sengaja dihembuskan oleh para aktor-aktor politik untuk mendiskreditkan Pak Harto demi kepentingan Citra politik mereka.”

Priyo juga menambahkan : “Anak-anak muda yang tergabung dalam AMPB diharapkan untuk berperan aktif dan bersikap elegan dalam menyuarakan kebenaran akan keberhasilan pemerintahan era Soeharto serta mampu memilah isu secara selektif sekaligus menepis isu-isu negatif yang tidak sesuai dengan kenyataan, ” tutupnya. (Red)

Opini

Adil dan Makmur Ada Dalam Trilogi Pembangunan

Oleh : Khoiril Anwar *)

———–
SOEHARTONESIA.COM – Pemberdayaan seluruh angkatan kerja indonesia secara ekonomi adalah kunci dan prioritas dari pembangunan negara secara umum yang bertujuan kepada terciptanya masyarakat Adil dan Makmur.

Jumlah angkatan kerja yang tidak sedikit di Negara kita membutuhkan lapangan kerja yang seluas-luasnya disemua sektor industri, hal itu juga harus di dukung oleh pertumbuhan ekonomi pertahun untuk dapat semaksimal mungkin menyerap tenaga kerja tersebut.

Selain targat pertumbuhan ekonomi, pemerintah seharusnya juga mengupayakan solusi-solusi yang mengakar atas berbagai persoalan ketenagakerjaan yang nyata tidak dapat kita pungkiri akan berpengaruh kepada angka kemiskinan.

Meskipun semangat reformasi untuk perubahan yang lebih baik telah digaungkan sejak 20 tahun lalu, namun kenyataannya pencapaian kinerja perekonomian Indonesia saat ini tidak lebih baik dibanding masa Orde Baru di bawah pimpinan mantan Presiden Soeharto.

Dalam pembangunan masa Presiden RI Soeharto pada 1995-1998 angka pengangguran bisa ditekan mencapai 4%, kemiskinan berhasil mencapai 11%, dan pertumbuhan ekonomi pernah menembus angka 9%.

Sedangkan tahun ini, menurut BPS, terjadi peningkatan sarjana menganggur. Tahun 2018, sekitar 8% atau 660.000 dari 7 juta sarjana menganggur karena tidak dapat diserap lapangan kerja yang layak.

Salah satu hal yang disesalkan adalah bagaimana pemerintah sering tidak tepat dalam setiap penyusunan target pembangunan, namun berbanding terbalik ketika melakukan penyusunan anggaran sehingga anggaran banyak yang tidak tepat sasaran.

Pembangunan terkonsep sehingga mampu menekan angka kemiskinan dan pengangguran justru bisa kita rasakan ada di era presiden Soeharto. Pada era itu kita mengenal Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang merupakan haluan negara tentang penyelenggaraan negara dalam garis-garis besar sebagai pernyataan kehendak rakyat secara menyeluruh dan terpadu.

GBHN ditetapkan oleh MPR untuk jangka waktu 5 tahun. Lalu penjabaran rencana pembangunannya di tuangkan dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang disemangati dengan Trilogi Pembangunan dalam pelaksanaannya.

Trilogi Pembangunan adalah wacana pembangunan nasional sebagai landasan penentuan kebijakan politik, ekonomi, dan sosial dalam melaksanakan pembangunan negara yang meliputi: Stabilitas Nasional yang dinamis, Pertumbuhan Ekonomi Tinggi, dan Pemerataan Pembangunan dan hasil-hasilnya.

Jika dibandingkan antara program serta rencana yang akan atau telah dilaksanakan pemerintah kita saat ini dengan tiga cita-cita di atas, Trilogi pembangunan, maka bisa kita evaluasi dengan membandingkan saja rilis angka BPS pada paparan di atas, sudahkah bergerak maju, jalan di tempat atau bahkan mundur ?

*) Khoiril Anwar, digital analisis AnNas Consultant, 7 tahun di lembaga penanggulangan kemiskinan

Opini

Adil dan Makmur Ada Dalam Trilogi Pembangunan

Oleh : Khoiril Anwar *)

———–
SOEHARTONESIA.COM – Pemberdayaan seluruh angkatan kerja indonesia secara ekonomi adalah kunci dan prioritas dari pembangunan negara secara umum yang bertujuan kepada terciptanya masyarakat Adil dan Makmur.

Jumlah angkatan kerja yang tidak sedikit di Negara kita membutuhkan lapangan kerja yang seluas-luasnya disemua sektor industri, hal itu juga harus di dukung oleh pertumbuhan ekonomi pertahun untuk dapat semaksimal mungkin menyerap tenaga kerja tersebut.

Selain targat pertumbuhan ekonomi, pemerintah seharusnya juga mengupayakan solusi-solusi yang mengakar atas berbagai persoalan ketenagakerjaan yang nyata tidak dapat kita pungkiri akan berpengaruh kepada angka kemiskinan.

Meskipun semangat reformasi untuk perubahan yang lebih baik telah digaungkan sejak 20 tahun lalu, namun kenyataannya pencapaian kinerja perekonomian Indonesia saat ini tidak lebih baik dibanding masa Orde Baru di bawah pimpinan mantan Presiden Soeharto.

Dalam pembangunan masa Presiden RI Soeharto pada 1995-1998 angka pengangguran bisa ditekan mencapai 4%, kemiskinan berhasil mencapai 11%, dan pertumbuhan ekonomi pernah menembus angka 9%.

Sedangkan tahun ini, menurut BPS, terjadi peningkatan sarjana menganggur. Tahun 2018, sekitar 8% atau 660.000 dari 7 juta sarjana menganggur karena tidak dapat diserap lapangan kerja yang layak.

Salah satu hal yang disesalkan adalah bagaimana pemerintah sering tidak tepat dalam setiap penyusunan target pembangunan, namun berbanding terbalik ketika melakukan penyusunan anggaran sehingga anggaran banyak yang tidak tepat sasaran.

Pembangunan terkonsep sehingga mampu menekan angka kemiskinan dan pengangguran justru bisa kita rasakan ada di era presiden Soeharto. Pada era itu kita mengenal Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang merupakan haluan negara tentang penyelenggaraan negara dalam garis-garis besar sebagai pernyataan kehendak rakyat secara menyeluruh dan terpadu.

GBHN ditetapkan oleh MPR untuk jangka waktu 5 tahun. Lalu penjabaran rencana pembangunannya di tuangkan dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang disemangati dengan Trilogi Pembangunan dalam pelaksanaannya.

Trilogi Pembangunan adalah wacana pembangunan nasional sebagai landasan penentuan kebijakan politik, ekonomi, dan sosial dalam melaksanakan pembangunan negara yang meliputi: Stabilitas Nasional yang dinamis, Pertumbuhan Ekonomi Tinggi, dan Pemerataan Pembangunan dan hasil-hasilnya.

Jika dibandingkan antara program serta rencana yang akan atau telah dilaksanakan pemerintah kita saat ini dengan tiga cita-cita di atas, Trilogi pembangunan, maka bisa kita evaluasi dengan membandingkan saja rilis angka BPS pada paparan di atas, sudahkah bergerak maju, jalan di tempat atau bahkan mundur ?

*) Khoiril Anwar, digital analisis AnNas Consultant, 7 tahun di lembaga penanggulangan kemiskinan