Sosial

Raslinna Rasidin:  Perjuangan  BKMT Dalam Mengemban Misi Dakwah, Bukan Pekerjaan Mudah

SOEHARTONESIA.COM, Jakarta — Nama almarhumah Prof Dr Tuty Alawiyah AS memang akan selalu melekat jika membicarakan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), dalam perannya meningkatkan peran wanita Muslimah di Indonesia.

Memurut Raslinna Rasidin, artis cantik yang juga Duta Kemanusiaan Internasional saat ditemui pada acara HAUL ke-38 Badan Kontak Majelis Taklim di TMII (selasa, 5/2/2019), ia mengatakan “bahwa kemajuan lembaga BMKT yang berhasil melebarkan misi dakwahnya di hampir seluruh daerah di Indonesia itu tentunya bukan perjuangan yang mudah.”

“Butuh kerja keras, kerja ikhlas dan hari ini kita saksikan, buah dari kerja-kerja tersebut, selain di bidang dakwah, BMKT kita ketahui juga telah mengembangkan diri dalam beberapa organisasi yang bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi, khususnya terkait perempuan,” ujar Raslinna yang juga juru bicara Tim Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga.

Rasinna Rasidin yang pada pileg 2019 ini turut berlaga untuk memperebutkan kursi DPR-RI dapil DKI 3 itu juga mengatakan: “pada setiap kesempatan saat saya terjun ke masyarakat untuk sosialisasi, saya selalu menekankan bahwa keterlibatan perempuan dalam kegiatan-kegiatan sosial maupun ekonomi untuk menunjang kehidupan keluarga itu sangat penting untuk terus didorong.”

“dan, hari ini kita dapat saksikan contoh keberhasilan dari apa yang telah dilakukan oleh BKMT, lembaga ini telah sukses meningkatkan peranan wanita muslim dengan mendirikan organisasi perhimpunan usaha wanita (PUSPITA) yang saat ini bahkan telah memiliki 400 cabang koperasi.”

“Insya Allah, di bawah kepemimpinan Syifa Fauzia, putri almarhum ibu Tuti Alawiyah ini, saya yakin, pada usia lembaga yang semakin matang ini, BKMT akan terus berkembang untuk terus berjuang meningkatkan peran wanita, khususnya muslimah di Indonesia,” tutupnya (Ardi).

Piye Kabare

Menjawab Kerinduan Masyarakat Akan Figur Pak Harto, Bapak Pembangunan

Hakikat politik adalah ilmu Sosial kemasyarakatan, namun selama ini pemahaman masyarakat umum terkait politik lebih kepada nada-nada minor (negatif), trik dan intrik. Tentunya, upaya untuk meluruskan pemahaman yang salah harus terus diaktualisasikan dengan beragam teknik.

Kerja-kerja politik dari politisi maupun partai politik sejatinya haruslah dirasakan masyarakat sejak awal melalui kegiatan-kegiatan sosial, sehingga masyarakat dapat menilai sejauh mana pemahaman politisi atau partai politik mengenai berbagai kondisi sosial di masyarakat.

Demikian yang ditangkap dengan menyimak pergerakan politisi-politisi Partai Berkarya. Partai baru yang digawangi putra-putri mantan presiden Soeharto itu terasa demikian elok berdansa di medan politik tanah air.

Belum usai kita simak bagaimana Hutomo Mandala Putra, atau biasa disapa Tommy Soeharto, ketua umum Partai Berkary itu beberapa kali menerjunkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat Kec Sumur, Banten.

Diantaranya, Tommy melalui perusahaannya, HUMPUS, membagikan ribuan tas sekolah dan keperluan anak sekolah berlogo Pancasila : “untuk mempertebal jiwa Pancasilais sejak dini,” ujar Tommy saat itu .

Demikian juga yang dilakukan Siti Hardianti Rukmana, akrab disapa mbak Tutut Soeharto, beserta adik bungsunya Siti Hutami Endang Adiningsih atau akrab Disapa Mamik Soeharto, yang masih meninggalkan kesan di masyarakat Tasikmalaya dan Garut terkait Kegiatan Sosial Operasi Katarak serta Santunan Kepada Masyarakat kurang mampu yang dikemas dengan humanis: “silahturahmi dengan masyarakat.”

Sebelumnya, Ibu Tutut Soeharto berdasarkan pantauan kami, dua kali turun untuk menemui masyarakat korban bencana Tsunami di Lampung: Sepuluh perahu nelayan dan berbagai bantuan kemanusiaan ia serahkan langsung ke masyarakat .

Demikian juga yang dilakukan Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, selain aktif terjun langsung dengan Rabu Birunya untuk mengkampannyakan pasangan Capres dan Cawapres Prabowo – Sandiaga Uno, Titiek hari ini, Minggu (3/2/2018) sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya, juga turun menyapa masyarakat Tanggerang Selatan, Banten.

Dalam rangkaian Turba tersebut, Titiek Soeharto menyerahkan bantuan Speaker kepada pengamen penyandang disabilitas dan juga menyerahkan Mesin Jahit kepada seorang penjahit keliling.

Penyerahan bantuan tersebut dilakukan pada saat menggelar pertemuan dengan kader Partai Berkarya di rumah salah satu artis yang juga simpatisan Partai Berkarya, Camelia Malik.

Tentunya kerja-kerja sosial seperti tersebut di atas-lah yang pada akhirnya akan mampu merubah paradigma masyarakat dalam menilai politik, politisi, maupun partai politik. Sejatinya, politik juga adalah persoalan momentum, dan tampaknya kali ini putra-putri pak Harto dengan kendaraan Partai Berkarya-nya sedang menjawab kerinduan masyarakat terhadap figur bapak Pembangunan itu. (Ardi)

Opini

Panggung Srimulat di Pentas Pradaban Global

Soehartonesia.com

Oleh : Prof. Ryas Rasyid

Praktek Demokrasi kita dalam beberapa hal begitu tampak vulgar mengenyampingkan faktor kecerdasan publik sebagai basisnya. Terutama, soal Demokrasi berbasis kecerdasan. Tampaknya hal itu masih merupakan sesuatu yang harus terus diperjuangkan.

Dalam praktek politik di era liberalisme, ini. Praktek Demokrasi justru malah seringkali mengeksploitasi kebodohan atau bahkan mengembangkan suasana kebodohan. Sehingga, banyak orang terdidik mendadak bodoh, dan tak jarang mereka secara sukarela justru mempertontonkan kebodohan itu di ruang publik. Tabik.

Padahal dalam suatu lingkungan peradaban yang rasional, KEBODOHAN, kalau pun masih dimiliki, seharusnya disembunyikan. Contoh paling telanjang adalah semangat mengikutkan orang gila (Gangguan Kejiwaan) sebagai pemilih dengan alasan bahwa hal itu adalah hak warganegara. Saya terkejut, bahwa demikian itu justru diprakarsai oleh negara (KPU).

Jika orang sakit biasa (fisik) dan orang dipenjara (sepanjang tdk dicabut hak pilihnya) didaftar dan dibantu agar dapat menggunakan hak pilihnya itu masih bisa diterima akal. Tetapi ini orang gila, bagaimana bisa!? Apakah KPU lupa, bahwa “memilih” itu menggunakan pertimbangan untuk menentukan sikap diantara beberapa pilihan yang tersedia?

Memilih dalam konteks Demokrasi secara normalnya adalah dimana calon pemilih akan mempertimbangkan kepribadian calon, program yang ditawarkan, dan Ideologi partai pengusungnya. Itulah proses Rational Choice.

Demokrasi adalah sebuah contoh nyata peradaban, bukan permainan. Dan, syarat berdemokrasi mengharuskan tersedianya tingkat kecerdasan serta kesejahteraan tertentu.

Terjemahan Demokrasi adalah pendidikan yang cukup, kesadaran rasional atas realitas yang dihadapi, kesejahteraan minimal dan lingkungan kebebasan sosial-politik yang memungkinkan terjaminnya keamanan publik bagi setiap orang untuk mengekspressikan sikap dan pandangannya atas sesuatu isu atau suatu realitas.

Maka, bagaimana kita meletakkan kebijakan “membantu” seseorang yang jiwanya terganggu alias gila dalam mengeksekusi hak kebebasan itu dalam pemilu? Bukankah, logika warganegara dalam menentukan pilihannya haruslah berbasis pemahaman atas hal-hal yang saya paparkan di atas?

Dan untuk maksud itu tentunya seseorang perlu turut hadir dalam kampanye, membaca berita atau setidaknya menonton Televisi untuk menyimak apa yang akan dan telah disampaikan oleh para calon pun partai pengusung mereka : mengenai hal yang mereka perjuangkan dan akan mereka lakukan kelak, jika terpilih.

Lalu, bagaimana orang gila dapat menentukan pilihan tanpa memahami apa yang dia pilih, jawab ! Janganlah tuan mempermalukan bangsa besar ini dengan pertunjukan telanjang atas hilangnya karakter dan komitmen rasionalitas kita dalam berdemokrasi. Kecuali, kita sepakat menjadikan Indonesia sebagai panggung besar Srimulat di pentas peradaban global. Maaf.

21 Januari 2019

Sosial

Raslina Rasidin: Tidak Hanya Pelayanan Kesehatan, Dukungan Moril Pada Lansia Penting Untuk Dilakukan

SOEHARTONESIA.COM

Mempersiapkan lingkungan yang kondusif untuk Lansia, mempelajari bagaimana mejalani usia senja dan menanamkan pada dirimu sendiri bahwa tanpa mereka tatanan dunia yang kau jalani hari ini tidak mungkin terjadi, lalu, pantaskah kita mengabaikan mereka ?

“Kajian Partai Berkarya terkait masyarakat Lanjut Usia (Lansia) menyimpulkan, bahwa harap hidup Lansia saat ini telah meningkat. Namun di sisi lain berbanding terbalik dengan masalah kesehatan dan sosialnya. Atau bisa juga dikatakan saat ini perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan Lansia masih sangat kurang.”

“Untuk pelayanan kesehatan, saya rasa tidak ada perbedaan dalam pelayanan, baik Lansia maupun usia yang lain. Tetapi, yang patut untuk menjadi perhatian tidak hanya sektor kesehatan saja, namun bagaimana memberikan dukungan moril dan menumbuhkan semangat hidup yang tinggi kepada mereka,” ujar Raslina Rasidin, Caleg DPR-RI Dapil DKI 3 Jakarta Dari Partai Berkarya saat ditemui di DPP Partai Berkarya.

“Tidak bisa kita pungkiri, berdasarkan berbagai kajian, faktor Globalisasi menyebabkan penurunan moralitas remaja, sehingga timbul kekhawatiran mendasar terkait kurangnya perhatian generasi muda kepada orang tua dan para Lansia, padahal setiap tahun-nya di Indonesia jumlah Lansia semakin meningkat, tentunya hal ini juga harus menjadi perhatian pemerintah.”

Raslina juga menambahkan, “berdasarkan data proyeksi penduduk pada tahun 2017 diperkirakan terdapat 23,66 juta jiwa penduduk berusia 60 tahun ke atas atau melebihi 7 persen dari jumlah keseluruhan penduduk .

Menurutnya, hal inilah yang juga menjadi perhatian partai Berkarya, sehingga berbagai kajian dilakukan di interen partai untuk membuat rumusan yang nantinya akan dijadikan bakal calon legislatif untuk dipaparkan kepada masyarakat dalam bentuk visi dan misi khususnya caleg perempuan, sebut saja salah satunya adalah Program Pendampingan Lansia.”

“Kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa proporsi Lansia di Indonesia semakin besar sehingga memerlukan perhatian dan perlakuan khusus dalam berbagai aspek, baik itu aspek ekonomi, kesehatan, maupun Sosial,” ujar Raslina.

Ia juga menambahkan, sesuai dengan Arahan Ketua Umum Partai Berkarya, Hutomo Mandala Putra, kepada para caleg agar sungguh-sungguh terjun langsung ke masyarakat, tidak hanya mensosialisaikan diri tetapi lebih penting adalah menjaring aspirasi masyarakat agar para caleg memahami berbagai permasalahan, dan mampu merumuskan solusi terkait barbagai permasalahan sosial maupun ekonomi yang terjadi. (Ardi)

Opini

Benarkah Kita Sungguh-Sungguh Mencintai Indonesia ?

Soehartonesia.com

Saya bukan tipe orang yang suka menempelkan poster tokoh idola di dinding ruangan pribadi, ataupun sekedar menempel stiker grup band terkenal pada kaca mobil. Padahal, saya penggila berat Cold Play.

Apalagi untuk menempel stiker logo partai politik ataupun stiker kandidat calon presiden, tak pernah terpikir. Saya selalu beranggapan bahwa pilihan politik berada di ranah private, dan saya tak hendak menunjukkan-nya.

Pandangan kuno saya mengatakan, hanya akan menimbulkan perasaan jengah jika kebetulan rekan atau bahkan saudara yang berbeda dengan kita pilihan politik-nya.

Sampai pada suatu hari, seorang sahabat saya yang tinggal di Belgia menelpon untuk bercakap-cakap. Ia menikah dengan orang eropa.

Biasa, diawali saling menayakan kabar anak-anak, kesehatan dan pernak-pernik urusan bisnis kecil saya, kemudian sampai pada pembicaraan beraroma politik.

Kawan saya itu bercerita bahwa beberapa kali ia berbincang dengan keluarga istrinya saat berkunjung ke kediaman mereka. Awalnya ia tidak begitu tertarik dengan berita politik. Saya mahfum, bagaimana kepribadian dan profesinya, wajar ia tak tertarik politik.

Tapi, kemudian ia mengatakan bahwa ada pertanyaan yang mengusik-nya. Mereka menanyakan: apakah di pemerintahan Indonesia saat ini sudah menerapkan komunisme seperti China ?

Tentu, saya dan istri menjawab, tidak,” ujarnya menceritakan kepada saya.

“Mengapa kamu beranggapan demikian?” Ujar kawan saya itu.

Ia berkisah, belum lama ini, ia melakukan perjalanan ke indonesia. Sebelum itu, ia banyak mencari informasi dan mencermati berita terkait indonesia, dan ia menemukan fakta bahwa di bawah pemerintahan Jokowi, banyak sekali informasi terkait kerjasama yang dilakukan pemerintah China dan Indonesia.

Mereka menilai, sangat gamblang bagiamana upaya pemerintah China untuk menguasai Indonesia melalui ekonomi dan politik.

Indikasinya, membanjirnya produk-produk China di Indonesia, membanjirnya tenaga kerja China di Indonesia. Juga, adanya proyek-proyek raksasa seperti reklamasi Teluk Jakarta, kereta cepat Jakarta-Bandung, hingga penggusuran pemukiman pribumi, dan itu semua disinyalir kuat merupakan pesanan China.

“Presiden anda pun tampaknya larut dalam strategi China yang begitu vulgar berniat menguasai Negara anda dengan jerat hutang,” ujarnya menambahkan.

“Kemudian, dengan seringnya terjadi protes jutaan umat Islam turun ke jalan, tentunya hal itu membuktikan bahwa sedang terjadi ketidakadilan terhadap mayoritas penduduk di Indonesia.”

“Kasus penistaan agama, pembakaran lambang-lambang Islam, hal itu tidak bisa dianggap bukan merupakan sebuah rangkaian dari upaya menciptakan chaos di masyarakat.”

“Kejadian semacam itu bisa terjadi di negara yang mayoritas rakyatnya beragama, khususnya Islam, disinyalir karena banyak-nya oknum pejabat di pemerintahan anda saat ini merupakan anak-cucu keturunan PKI yang salah satu cikal bakal ideologinya berasal dari China, sehingga sulit untuk membantah hal itu bisa terjadi jika pemerintah anda bersikap tegas,” ujarnya kepada kawan saya .

“Kalaupun itu belum terjadi, penguasaan China terhadap Indonesia, mereka meyakini akan tiba saatnya, hanya permasalah waktu saja. Tentunya, itu bisa terjadi jika pemerintah anda tidak mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi.”

Saya merasa malu sendiri, begitu terlambatnya menyadari, padahal teramat banyak informasi tentang apa yang mereka bicarakan itu di ruang media saya. Harusnya, saya bisa mencermati dan mengambil kesimpulan akan berbagai carut marut yang memang rasanya baru beberapa tahun ini saja semakin terasa begitu tajam.

Mungkin pada situasi sebelumnya pandangan kuno saya mengenai politik adalah ranah private bisa saya pertahankan. Namun, tidak untuk saat ini. Setidaknya, saya harus menjadi bagian untuk menjaga bangsa ini, sekecil apapun yang mampu saya lakukan.

Bukankah negara ini lahir bukan karena egoisme para pendiri bangsa? Tetapi karena kesadaran bersama bahwa kita adalah sebuah bangsa. Bukankah, bentuk-bentuk penjajahan terhadap suatu bangsa itu tidak hanya melalui agresi militer saja ?

Ketimpangan ekonomi yang semakin lebar, penguasaan hajat hidup rakyat indonesia yang dominan dikuasai asing (baca China), membanjirnya tenaga kerja asing juga serbuan jutaan ton narkoba dari China yang jelas-jelas dapat menghancurkan generasi muda bangsa, tidak bisa hanya dinilai sebagai kasus per kasus saja.

Lebih jauh lagi , ada agenda besar untuk menghancurkan negara ini yang berhujung pada penguasaan oleh bangsa lain. Lalu, apa bisa dikatakan kita dengan sungguh-sungguh mencintai negara kita, jika kita abai dengan situasi yang terjadi ? (Ardi)