Apresiasi, Sosial, Tokoh

Perempuan Dalam Politik, Bukan Hanya Masalah Kesetaraan

 

SOEHARTONESIA.COM


Oleh : Raslina Rasidin
Politisi Partai Berkarya, Artis dan Duta Kemanusiaan.

Kita ketahui, hampir keseluruhan tugas-tugas keseharian rumah tangga melibatkan keterampilan untuk mengambil keputusan yang tepat dan melakukan kompromi, dan tentunya potensi tersebut juga harus disadari sebagai modal dasar seorang perempuan untuk turut berperan aktif dalam berbagai bidang kehidupan, tidak terkecuali di dalam bidang politik.

Sejak periode 2004-2009, partisipasi perempuan sudah mulai mendapatkan apresiasi positif dengan ditetapkannya syarat partisipasi perempuan minimal sebesar 30 persen, baik dalam ranah pengurus suatu partai tertentu dan dalam pencalonan menjadi anggota legislatif.

Tentunya partisispasi perempuan dalam politik tidak hanya terkait dengan kesamaan hak dalam politik yang dijamin oleh konstitusi saja, tetapi secara mendasar jauh lebih dari itu. Fakta dilapangan menyebutkan, untuk kegiatan-kegiatan sosial yang terkait perempuan, anak, serta lansia, 90 persen dilakukan oleh aktivis -aktivis perempuan. Sebagai duta kemanusiaan, saya mengatahui persis hal tersebut.

Keterwakilan perempuan di lembaga legislatif tidak hanya penting dari aspek perimbangan antara laki-laki dan perempuan. Populasi Indonesia separuhnya berjenis kelamin perempuan.

Namun lebih dari itu, kehadiran anggota parlemen perempuan diharapkan bisa menjamin kepentingan kaum perempuan menjadi salah satu prioritas kebijakan, di antaranya terkait dengan isu pengentasan kemiskinan, pemerataan pendidikan, dan layanan kesehatan.

Setiap orang mempunyai hak yang sama untuk jaminan kesehatan. Namun sampai sekarang perempuan belum mendapatkan tanggapan serius mengenai hak-hak kesehatannya dari berbagai pihak.

Perempuan kerap tidak diperhitungkan untuk mendapatkan jaminan kesehatan, padahal perempuan lah yang banyak sekali mengalami problem serius di bidang kesehatan, seperti hamil dan melahirkan.

Contohnya, sampai saat ini kasus kematian ibu melahirkan dan balita masih cukup tinggi di daerah pedesaan, tentunya hal ini menimbukan keprihatinan yang mendalam.

Tentunya, permasalahan-permasalahan terkait perempuan itu harus menjadi prioritas dalam berbagai kebijakan, sehingga pemerintah dalam membuat berbagai regulasi, melibatkan perempuan adalah mutlak harus dilakukan.

Selain itu, masyarakat, khususnya kaum perempuan, juga harus benar-benar memahami bahwa untuk mengatasi permasalahan terkait perempuan salah satu solusi utamanya adalah dengan terpenuhinya kuota 30 persen keterwakilan perempuan di parlemen, karena, tidak semua hal terkait perempuan mampu dipahami kaum pria secara mendasar.

Apresiasi, Tokoh

M. Sajid : Masyarakat Harus Memilih Berdasarkan Obyektifitas dan Rekam Jejak

SOEHARTONESIA.COM

Pileg 2019 ini diharapkan dapat menghasilkan para legislator yang lebih baik, yang betul-betul bekerja untuk kepentingan masyarakat di atas kepentingan lainnya. Namun, sudahkah rakyat mengenali Caleg yang akan dipilih sebagai wakilnya nanti di DPR ?

Agar tidak salah pilih, masyarakat tentunya harus mampu mencermati seluruh calon wakilnya selama masa Kampanye, karena, di tengah banyak-nya calon, pemilih harus benar-benar selektif terhadap figur calon anggota legislatif.

Hal inilah yang munurut M Sajid, Caleg DPR-RI no Urut 1 dari Partai Berkarya Dapil Sumsel 1, bahwa dalam menentukan pilihan, “masyarakat harus benar-benar mamahami rekam jejak Caleg yang akan dipilihnya, karena untuk mewujudkan Pelayanan Publik yang baik, Parlemen juga harus diisi oleh orang-orang yang benar-benar mampu mengemban tugas sebagai pembawa Aspirasi Masyarakat sehingga dapat mendukung kerja pemerintah yang Optimal.”

Oleh sebab itu, dalam setiap kegiatan Turba (turun ke bawah/masyarakat ) Alumni Akmil 1985 yang juga pernah menjabat sebagai Komandan Bataliyon di daerah konflik (Maluku) dan berbagai jabatan lain di Mabes TNI ini, dalam kegitan Sosialisasinya, ia lebih mengedepankan kampanye yang bersifat Dialogis.

Menurutnya, “kerja-kerja politik itu tanggungjawabnya besar sekali, karena, kita tidak hanya mempertanggungjawabkan kepada masyarakat, tetapi lebih dalam lagi adalah bagaimana pertanggungjawaban kita kepada Allah, kelak.”

“Oleh sebab itu, Dialog dengan masyarakat untuk megetahui langsunga apa yang menjadi aspirasi masyarakat itu penting untuk dilakukan, karena Aspirasi masyarakat itulah yang nantinya akan kita perjuangkan di DPR.”

M.Sajid menambahkan, “dalam setiap kegiatan Sosialisasi, saya selalu memaparkan Visi Misi dan kemana arah Aspirasi Politik Pribadi, dengan tujuan agar masyarakat benar-benar memahami saya sebagai Caleg dan rekam jejak saya sebagai Individu,”ujar lulusan Akademi Militer (Akmil) angkatan 1985 itu.

“Selain itu, yang saya pahami, sejatinya kerj-kerja politik itu haruslah kerja yang bersentahan langsung dengan masyarakat, sehingga para calon anggota legeslatif harus mau melakukan kegiatan sosial yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, karena hal itulah yang kemudian harus dinilai dengan cerdas oleh calon pemilih,” ujarnya.menambahkan.

” Saat ini, sering sekali kita menyaksikan anggota legeslatif yang setelah menjabat justru terjerat berbagai kasus, terutama korupsi, sehingga lembag DPR yang seharusnya bekerja untuk rakyat, justru menjadi sorotan publik, kinerja anggota DPR dinilai buruk dan bermasalah saja, tentu kita tidak menginginkan hal ini terus terjadi,”

“Oleh sebab itu, sangat penting para Caleg dalam kegiatan kampanyenya untuk melakukan dialog agar masyarakat dapat menilai karakter diri seorang caleg, sehingga masyarakat dapat menentukan pilihannya secara obyektif, dengan menilai visi misi maupun rekam jejak kandidat calon legislatif di dapilnya,” tutup M.Sajid.

Apresiasi, Tokoh

Tutut Soeharto : Kerja Iklas Caleglah yang Akan Dinilai Masyarakat

SOEHARTONESIA.COM

Dua bulan lebih sedikit jelang Pencoblosan, partai Berkarya agaknya tak ingin buang waktu. Partai besutan Tommy Soeharto ini All Out terjun menyapa masyarakat.

Bahkan, figur Tutut Soeharto pun kita simak sudah berkali-kali turun Gunung menyapa masyarakat untuk melakukan konsolidasi dengan caleg dan kader Partai Berkarya.

Selain kegiatan kepartaian, Tutut juga turut terjun langsung dalam berbagai kegiatan bantuan bencana, termasuk, menyerahkan langsung bantuan perahu tangkap ikan untuk nelayan di Way Muli Lampung, putri sulung mantan presiden Soeharto itu terbukti mampu menggetarkan psikologi massa. Sambutan masyarakat, pecah.

Rindu terhadap era kepemimpinan Pak Harto di tengah masyarakat memang tak bisa dipungkiri, terlebih di pedesaan. Romantisme negara aman dan rakyat tidur dengan perut kenyang, serta pendidikan murah memang kerap kita simak ramai dalam konten-konten di ranah sosial media.

Hal itulah yang diangkat Tutut Soeharto Pada acara silahturahmi dengan masyarakat Tasikmalaya Jawa Barat, Jumat 1/2/2019 kemarin. Pada acara yang dikemas sekaligus untuk memberikan arahan kepada Caleg partai Berkarya tersebut, Tutut Soeharto menegaskan bahwa para Caleg partai Berkarya harus bekerja dengan iklas, karena keiklasan itulah yang akan dinilai oleh rakyat : “tidak perlu banyak berjanji, bekerja yang iklas saja, ujarnya.”

Tutut Soeharto juga meminta kepada seluruh Caleg Berkarya, khususnya Tasikmalaya dan Garut, untuk bekerja keras, meluruskan niat dalam mensosialisasikan program-program ekonomi kerakyatan pada saat mereka memperkenalkan diri kepada masyarakat.

Politik sejatinya adalah momentum,dan kali ini dengan tampilnya Partai Berkarya sebagai kekuatan politik dalam pemilu 2019 tentunya diharapkan dapat menjawab kerinduan masyarakat Indonesia pada era dibawah kepemimpunan pak Harto. (Ardi)

Apresiasi, Kisah

Buahtangan Supersemar Untuk Anak Indonesia

Oleh : H.ANHAR ,SE
Politisi Partai Berkarya

Jelang bulan maret. Bulan bersejarah. Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) lahir dibulan maret. Surat ini berisi perintah yang menginstruksikan Mayjend Soeharto, yang kala itu selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu. Tahun 1966.

“Mas Anhar, Sebaiknya jika menulis tentang bapak, gunakan saja kalimat yang akrab di ucap masyarakat kita: Pak Harto,” ujar putra beliau, Hutomo Mandala Putra, berujar pada saya pada satu kesempatan.

Setidaknya ada dua point penilaian saya mengenai apa yang diucapkan mas Tommy. Pertama, ia memposisikan diri sebagai anak biologis bapak pembangunan itu. Kedua, ia sangat memahami bahwa pak Harto bukan hanya miliknya, tetapi adalah bapak bagi rakyat Indonesia. Dan, saya berterima kasih diingatkannya.

Berbekal Supersemar, Pak Harto memimpin pemulihan keamanan. Dan, keberhasilannya mengatasi situasi kala itulah yang kemudian menghantarkankannya menjadi presiden Republik Indonesia kedua. Pita sejarah bangsa diputar ulang dengan konsep berbeda.

Pak Harto dalam pemerintahannya lebih mengedepankan pembangunan. Pasca Orde Lama yang meninggalkan carut marut di segala lini ber-negara ia tata. Pemerintah orde lama tak mampu keluar dari kubangan masalah ekonomi. Krisis ekonomi terjadi di pengujung 1950-an. Imbasnya, inflasi meroket (hiperinflasi) mencapai 635% di 1966.

Orde Baru dibawah pak Harto mampu menekan inflasi menjadi 112%. Namun, tidak sedikit yang mengatakan gaya pemerintahannya mengkebiri Demokrasi. Tetapi pak Harto tak peduli. Faktanya: Rakyat kelaparan. Mengatasi itu yang ia kedepankan. Agar tercapai, stabilitas politik harus diraih.

Roda pemerintahan dijalankannya. Ia membuat jalurnya, dan fakta sejarah mencatat hasil dari apa yang ia kerjakan: Ekonomi membaik, Indonesia menjadi macan ekonomi Asia. Politik, stabil. Rakyat, tidur dengan perut kenyang. Dan, esok harinya anak-anak berangkat sekolah dengan riang.

Perjalanan Supersemar tak hanya sebagai dasar bagi pak Harto untuk mengambil tindakan untuk memulihkan keamanan negara kala itu. Supersemar hingga kini terus mengabdi. Berjalan dalam hening, berkarya untuk mendorong lahirnya anak-anak bangsa yang akan mengharumkan nama bangsanya.

Saya memilah segala kontroversi terkait pak Harto, saya lebih mengedepankan fakta ketimbang tafsir. Faktanya, belum ada keputusan sah yang mengatakan pak Harto korupsi, jika fakta pak Harto mengabdi, banyak. Tuduhan-tuduhan terkait korupsi pak Harto, tidak pernah terbukti.

Prof. Mahfud MD mengatakan: “Korupsi justru saat ini semakin parah dari era pak Harto memimpin. Ya, memang hampir di segala lini. Professor yang juga alumni penerima Beasiswa Supersemar itu juga mengatakan bahwa kini kesenjangan ekonomi makin tajam. Supersemar turut melahirkan profesor hukum tatanegara ini, dan, 2 juta lebih alumni lain-nya teresbar di penjuru negeri.

Semoga saja ke depan kita sebagai anak bangsa ini bisa memperbaiki dan menjadi lebih baik .

Saya menulis ini sambil memandang ribuan tas sekolah yang sedang disiapkan. Buku dan alat tulis tertata rapi dikemas dan dimasukkan ke dalamnya. Tak lupa secarik amplop berisi sangu. Di bagian depan tas sekolah itu bergambar Pancasila dengan Lima Silanya. Buah tangan dari putra Pak Harto melalui Yayasan Supersemar, untuk anak Indonesia yang ber-Pancasila.

“Mas Anhar, Supersemar lahir dikala bangsa ini carut marut, dikala Pancasila terancam idiologi komunis, disaat PKI sedang kuat-kuatnya, dan saya rasa Pancasila harus senantiasa terpatri dalam jiwa anak-anak kita, sejak dini.”

“Seperti apa yang acapkali diucapkan Almarhum bapak, bahwa kewajiban kita untuk membentengi generasi bangsa ini dari idologi komunis.” Saya terkesima, saya melihat pak Harto dalam ucap mas Tommy.

Apresiasi, Opini, Piye Kabare

Popularitas Mentri Enggar Jauh di Bawah Dodol Garut dan Anies Baswedan

SOEHARTONESIA.COM

Oleh : Okky Ardiansyah
Analis Annas Digital

Masih tentang Garut. Kali ini Dodol dari Garut, yang saya yakini lebih terkenal daripada tukang cukur pak Jokowi yang lagi ngetop itu, ia juga orang asli Garut. Sama kayak Dodol.

Bahkan, Dodol Garut lebih terkenal dari pada Mentri Perdagangannya pak Jokowi, Enggartiasto Lukita
(Loe Joe Eng) atau akrab dipanggil Enggar, yang beberapa hari lalu mengatakan : “Dodol Garut cepat bulukan kalau pakai gula lokal.”
Berarti, harus gula impor ?

Selain populeritas, elektabilitas Dodol Garut pun jauh melesat di atas Mendag Enggar. Mungkin karena Mentri itu prestasinya ke atas, ke atasannya, manis.

Kalau ke bawah, ke rakyat, pahit. Impor beras menjelang Panen Raya misalnya, pahit. Sehingga wajar saja populeritas pun elektabilitasnya di masyarakat, jatuh. Dodol garut, mau ke atas ke bawah tetap, manis.

Agaknya itulah yang membuat ia tidak terkenal. Buktinya, mas Sholokin Office Boy (OB) di kantor saya tidak pernah mendengar namanya. Apalagi nama Tionghoanya. Ya, mungkin karena mas Sholikin dan masyarakat kecil lainnya jarang merasakan manis dari kinerjanya.

Memang banyak yang bilang kalau Presiden Jokowi itu unik, tetangga saya sering bilang gitu. Mungkin itu sebab ia suka Mentri mentri yang unik-unik, bahkan ada yang ajaib. Salah satunya mentri Perdagangan itu.

Belum lama, waktu itu harga beras sedang mahal-mahalnya, enteng saja dia mengatakan : “beras mahal, ya ditawar.” Plis dech pak Mendag !? Anda kan mentri !

“Kalau cuma modal ngomong gitu, saya juga pinter,” kata teman saya yang penjual Nasi Uduk, sambat (mengeluh) karena harga beras mahal, waktu itu.

Sampai-sampai teman saya itu yakin sekali bahwa kalau cuma dengan memberi solusi seperti itu, dia pun layak jadi Mentri. Saya yakinkan dia : modalnya bukan cuma itu, mas !! Sini, saya bisikin aja. Usai saya bisik-kin rahasi yang sebenernya sudah umum, dia pun mengangguk-angguk .

Di era Presiden Jokowi memang banyak yang unik-unik. Pernah juga, waktu harga daging menggila ada mentri pak Jokowi yang menyarankan masyarakat untuk beralih mengkonsumsi Keong Sawah.

Waktu beras mahal, rakyat disuru Diet. Waktu terungkap ada cacing di dalam kaleng Ikan Sarden, tidak masalah : “cacing itu juga mengandung protein,” kata bu mentrinya pak Jokowi, kala itu.
Unik kan?

Anehnya, Mentri nya yang tidak unik justru oleh pak Jokowi diberhentikan, seperti : Anies Baswedan. Sekarang Gubernur DKI. Anies padahal sangat jarang sekali di exspose media besar. Tapi anehnya dia terkenal. Ngetop. Loh ? Bahkan sangking ngetopnya, masyarakat menyebutnya bukan lagi Gubernur DKI, Anies Gubernur Indonesia !

Anies jelas lebih terkenal dari Enggar Lukito, tapi mungkin terkenalnya ke bawah, ke rakyat. Kalau ke atas dia kurang terkenal, mangkanya jarang di expose media besar.

Anies cenderung kerja dalam hening tetapi nyata. Tak seperti Gubernur sebelumnya, Ahok, brisik. Yang terbaru, prestasinya membawa DKI Jakarta masuk dalam peringkat ke-47 Smart City Government pada 18 Januari 2019. Peringkat DKI setingkat dengan kota Paris di posisi ke-46. Dari 10 indikator. Dan masih banyak lagi penghargaan lainya .

Ex Mentri Jokowi yang tidak unik ini juga tidak hanya mikir Jakarta. Ia usai menyerahkan bantuan kemanusiaan kepada korban gempa di Lombok, sebesar 38 milyar rupiah. Fix, Gubernur Indonesia.

Padahal mantan bosnya, sampai hari ini masih ditagih janji-nya yang akan memberikan bantuan kepada korban Gempa Lombok, senilai : 50 juta untuk yang rusak parah, 25 juta yang rusak sedang, dan 10 juta untuk yang rusak ringan. Tapi, sepertinya sampai sekarang belum juga dicairkan.

Rasanya rakyat bisa menilai rekam jejak. Negeri ini sedang butuh pemimpin unik dengan mentri-mentri nya yang unik-unik, apa yang seperti pak Anies Baswedan, yang tidak unik? Mumpung sebentar lagi pemilu, monggo dipikir lagi.