Apresiasi, Kisah

Buahtangan Supersemar Untuk Anak Indonesia

Oleh : H.ANHAR ,SE
Politisi Partai Berkarya

Jelang bulan maret. Bulan bersejarah. Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) lahir dibulan maret. Surat ini berisi perintah yang menginstruksikan Mayjend Soeharto, yang kala itu selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu. Tahun 1966.

“Mas Anhar, Sebaiknya jika menulis tentang bapak, gunakan saja kalimat yang akrab di ucap masyarakat kita: Pak Harto,” ujar putra beliau, Hutomo Mandala Putra, berujar pada saya pada satu kesempatan.

Setidaknya ada dua point penilaian saya mengenai apa yang diucapkan mas Tommy. Pertama, ia memposisikan diri sebagai anak biologis bapak pembangunan itu. Kedua, ia sangat memahami bahwa pak Harto bukan hanya miliknya, tetapi adalah bapak bagi rakyat Indonesia. Dan, saya berterima kasih diingatkannya.

Berbekal Supersemar, Pak Harto memimpin pemulihan keamanan. Dan, keberhasilannya mengatasi situasi kala itulah yang kemudian menghantarkankannya menjadi presiden Republik Indonesia kedua. Pita sejarah bangsa diputar ulang dengan konsep berbeda.

Pak Harto dalam pemerintahannya lebih mengedepankan pembangunan. Pasca Orde Lama yang meninggalkan carut marut di segala lini ber-negara ia tata. Pemerintah orde lama tak mampu keluar dari kubangan masalah ekonomi. Krisis ekonomi terjadi di pengujung 1950-an. Imbasnya, inflasi meroket (hiperinflasi) mencapai 635% di 1966.

Orde Baru dibawah pak Harto mampu menekan inflasi menjadi 112%. Namun, tidak sedikit yang mengatakan gaya pemerintahannya mengkebiri Demokrasi. Tetapi pak Harto tak peduli. Faktanya: Rakyat kelaparan. Mengatasi itu yang ia kedepankan. Agar tercapai, stabilitas politik harus diraih.

Roda pemerintahan dijalankannya. Ia membuat jalurnya, dan fakta sejarah mencatat hasil dari apa yang ia kerjakan: Ekonomi membaik, Indonesia menjadi macan ekonomi Asia. Politik, stabil. Rakyat, tidur dengan perut kenyang. Dan, esok harinya anak-anak berangkat sekolah dengan riang.

Perjalanan Supersemar tak hanya sebagai dasar bagi pak Harto untuk mengambil tindakan untuk memulihkan keamanan negara kala itu. Supersemar hingga kini terus mengabdi. Berjalan dalam hening, berkarya untuk mendorong lahirnya anak-anak bangsa yang akan mengharumkan nama bangsanya.

Saya memilah segala kontroversi terkait pak Harto, saya lebih mengedepankan fakta ketimbang tafsir. Faktanya, belum ada keputusan sah yang mengatakan pak Harto korupsi, jika fakta pak Harto mengabdi, banyak. Tuduhan-tuduhan terkait korupsi pak Harto, tidak pernah terbukti.

Prof. Mahfud MD mengatakan: “Korupsi justru saat ini semakin parah dari era pak Harto memimpin. Ya, memang hampir di segala lini. Professor yang juga alumni penerima Beasiswa Supersemar itu juga mengatakan bahwa kini kesenjangan ekonomi makin tajam. Supersemar turut melahirkan profesor hukum tatanegara ini, dan, 2 juta lebih alumni lain-nya teresbar di penjuru negeri.

Semoga saja ke depan kita sebagai anak bangsa ini bisa memperbaiki dan menjadi lebih baik .

Saya menulis ini sambil memandang ribuan tas sekolah yang sedang disiapkan. Buku dan alat tulis tertata rapi dikemas dan dimasukkan ke dalamnya. Tak lupa secarik amplop berisi sangu. Di bagian depan tas sekolah itu bergambar Pancasila dengan Lima Silanya. Buah tangan dari putra Pak Harto melalui Yayasan Supersemar, untuk anak Indonesia yang ber-Pancasila.

“Mas Anhar, Supersemar lahir dikala bangsa ini carut marut, dikala Pancasila terancam idiologi komunis, disaat PKI sedang kuat-kuatnya, dan saya rasa Pancasila harus senantiasa terpatri dalam jiwa anak-anak kita, sejak dini.”

“Seperti apa yang acapkali diucapkan Almarhum bapak, bahwa kewajiban kita untuk membentengi generasi bangsa ini dari idologi komunis.” Saya terkesima, saya melihat pak Harto dalam ucap mas Tommy.

Kisah, Opini, Piye Kabare

Masih Tentang Janji Jokowi

 

SOEHARTONESIA.COM


Oleh: Okky Ardiansyah
Analis Anas Digital

Provinsi Nusa Tenggara Barat terdiri dari dua pulau besar, Lombok dan Sumbawa. Suku Sasak adalah sukubangsa yang mendiami pulau Lombok.

Sebagian besar suku Sasak beragama Islam. Kehidupan Islami tercermin kental dalam keseharian masyarakat. Mushola – mushola kecil di tengah sawah atau dipinggir aliran sungai yang masih jernih, tak jarang kita temui.

Beralas sejadah tikar anyaman pandan sederhana, dihembus angin sawah, menghadap Illahi Rabbi serasa paripurna.

Tidak cukup dengan itu, Masjid masjid besar pun tampak berdiri kekar dan megah. Dengan jarak tidak terlampau berjauhan, kampung per kampung seolah berlomba membangun serta memperindah masjid nya. Pulau Seribu Masjid, sah.

Nusa Tenggara Barat sedang tumbuh dengan pesat. Pariwisata sebagai sektor andalan ke dua setelah pertanian menggeliat setelah lama tidur panjang .

Dulu, Joop Ave, mentri pariwisata menggalakkan “Visit Indonesian Years.” Di Era Pak Harto, Lombok-Sumbawa termasuk salah satu tujuan primadona pariwisata. Sempat terlelap kembali, sejak BIL (Bandara Internasional Lombok ) beroprasi, gairah usaha sektor pariwisata bangkit lagi.

Agustus 2018 lalu, gempa mengguncang Lombok – Sumbawa.Provinsi yang sedang elok-eloknya memoles diri ini harus kembali berjuang untuk bangkit. Tidak sedikit infrastruktur rusak, dan ribuan rumah penduduk roboh, rusak ringan maupun parah.

Presiden Jokowi dan jajarannya beberapa kali meninjau langsung daerah yang rusak parah terdampak gempa. Foto-foto epic beliau banyak beredar di sosial media maupun media arus utama.

Alhamdulilah, dari jauh saya menyimak melalui media, penanganan pemerintah terkait rehabilitasi pemukiman pun sarana prasarana termasuk sarana ibadah akan digenjot pembangunannya.

Sebagai putra Lombok, yang pernah tinggal dan tumbuh dewasa di pulau nan elok itu, saya turut bersyukur. Apalagi, presiden Jokowi dengan gamblang menjajikan bantuan kepada korban gempa dengan nilai nominal rupiah yang saya rasa cukup.

Janji Jokowi tersebut tertuang dalam Inpres Nomor 5/2018 dan Peraturan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 2/2018 tentang penggunaan dana siap pakai (DSP).
Dalam dua aturan dasar tersebut, dijelaskan besaran dana bantuan yang akan diterima masyarakat korban gempa, antara lain Rp 50 juta untuk kategori rusak berat, Rp 25 juta untuk kategori rusak sedang dan Rp 10 juta untuk kategori rusak ringan.

Pemimpin sejati tidak akan pernah ingkar janji, baik pada janji yang diucapkannya secara sadar, lebih-lebih janji yang dilontarkan kepada rakyat secara langsung lewat lisannya sendiri.

Dan, sebagai masyarakat berkultur agamis, masyarakat Lombok tentunya meyakini itu. Hal tersebut Menjadi panduan hidup untuk memilih pemimpinnya.

Tentunya di sisa waktu ini, masyarakat masih berharap janji Presiden Jokowi dapat direalisasikan, karena tentunya masyarakat akan menilai bahwa nilai utama seorang manusia terletak pada konsistensinya menepati janji (jujur).

Jika tidak, maka bisa jadi pak Jokowi akan dinilai masuk dalam ketegori sebagai seorang yang “Munapek” ( kalimat orang sasak untuk menyebut “Munafik “).

Apresiasi, Kisah

Desa Karang Bolong Pandeglang dan 120 Perahu Cantrang Pak Harto

 

SOEHARTONESIA.COM

Oleh: H.ANHAR,SE
Politisi Partai Berkarya

Sorotan matanya masih tajam, ya, mata yang telah merekam banyak kejadian di bawah langit. Di usianya yang menginjak 70 tahun itu, ia masih begitu lancar mengisahkan berbagai kenangan tentang Dasa-nya, Desa yang kini luluh lantah usai diterjang Tsunami .

Pak Guru Mastra, masyarakat desa memanggilnya demikian. Warga Desa Karang Bolong Kecamatan Sumur yang saya temui saat menyerahkan bantuan kemanusiaan atas nama Ketua Umum Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra, untuk korban bencana Tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 lalu .

Desa Karang Bolong adalah nama salah satu desa di Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Salah satu desa yang berada di kawasan ujung kulon Indonesia ini adalah Desa yang termasuk dalam katagori terparah mengalami kerusakan usai diterjang Tsunami.

Desa karang bolong, Desa nelayan itu ternyata menyimpan kisah tersendiri tentang Pak Harto, presiden ke 2 Republik Indonesia.

Berkisah pak Guru Mastra, bahwa pada tahun 1977 masyarakat Desa karang Bolong mendapat bantuan dari presiden Soeharto berupa 120 unit kapal Cantrang. Kapal penangkap ikan bermesian tersebut mampunyai kapasitas muat per unit, 7 sampai dengan10 Gros Ton. Disertakan pula 25 set jaring Cantrang bukuran besar untuk dikelola serta dipergunakan sebagai sarana melaut oleh 1000 nelayan di Desa Karang Bolong, dan pak Guru Mastra lah yang menerima secara simbolis di Istana Negara kala itu

Saya menangkap ada rasa haru
dari sorot matanya saat berkisah kepada kami. Bibirnya yang bergetar menahan haru saat mengucap nama pak Harto, tak serta merta menghalangi lancar mengalir kalimat demi kalimat yang ia ucapkan untuk menggambarkan setiap detail dari momen yang ia katakan tak akan pernah hilang dari ingatannya itu.

“Sebelum bencana Tsunami ini, pak, Desa kami ini adalah Desa penghasil ikan terbesar di povinsi Banten hingga Jakarta,” ujarnya melanjutkan cerita.

Dari sebelumnya yang merupakan Desa tertinggal, Desa kami menjadi desa Nelayan yang berkembang, dan itu semua tak lepas dari jasa pak Harto .

“Saat ini, kami rasakan kehidupan nelayan seolah kembali ke titik terendah, para nelayan hampir putus asa menghadapi kenyataan untuk memperjuangkan hidup dengan memulai dari awal lagi,” ujarnya pula.

Apa yang diucapkan Guru Mastra dapat dimaklumi, berbagai sarana prasarana saya saksikan rusak parah. Perahu yang merupakan alat kerja utama masyarakat Desa Karang Bolong kami saksikan sebagian besar rusak berat, sedangkan mata pencaharian utama mereka adalah melaut .

Terselip harapan pada ucap pak Guru Mastra dan masyarakat yang saya temui, “semoga akan hadir kembali pak Harto pak Harto baru, sosok pemimpin yang memahami kebutuhan rakyat kecil ya, pak,” ujar mereka.

Insya Allah, masih ada Putra Putri beliau, dan insya Allah, buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya, saya berujar, dan masyarakat yang hadir meng-amini .

Sejatinya di balik semua bencana yang terjadi tentunya terselip pesan bahwa terdapat ladang Amal Shalih yang sangat luas bagi masyarakat yang tidak terkena bencana, dan inilah saat bagi masyarakat untuk meluangkan waktu, tenaga, fikiran, harta benda serta keahlian, guna membantu korban bencana.

Di sini sesungguhnya Allah hendak menguji seberapa jauh kepedulian pemimpin-pemimpin kita, serta ketanggapan kita sebagai bagian dari masyarakat dalam besikap untuk menolong saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah, karena uluran tangan betul-betul sedang sangat mereka butuhkan.

 

Kisah, Memorial, Piye Kabare

Bencana Perlu Aksi Nyata, Bukan Aksi di Depan Kamera

 

Oleh : H. ANHAR ,SE
Politisi Partai Berkarya

 

“Salah satu alasan mengapa Tuhan memberikan Hati dan kekuatan pada kita sebagai manusia adalah agar kita dapat menolong sesama.”

Entah di mana saya pernah mendengar atau membaca kutipan bijak itu, seingat saya sejak bencana Tsunami Aceh, yang pasti saya telah menyimpannya di dalam Qolbu.

Tahun 2004 silam, saya mendapat kesempatan mejadi anggota DPR-RI dapil Aceh melalui partai baru yang dinahkodai almarhum KH. Zainudin MZ, Partai Bintang Reformasi (PBR).

Saya lahir di Kabupaten Semeulue, pulau kecil yang walaupun masuk wilayah Aceh namun keseharian di wilayah kami tidak menggunakan bahasa Aceh. Sejak tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) saya pun sudah merantau meninggalkan kampung halaman untuk menempuh pendidikan ke pulau Sumatera.

Hal itu lah kiranya yang semakin membuat, jangankan mengerti tentang seluk beluk masyarakat Aceh, bahkan bahasa Aceh-pun saya tidak fasih lagi. Namun, hanya satu yang menjadi pegangan saya dalam hidup ini bahwa Ikhtiar dan niat berjuang untuk turut meyuarakan aspirasi masyarkat Aceh tidak akan pernah menghianati hasil.

Dengan hanya berbekal amunisi logistik yang seadanya, saya terjun untuk mensosilisasikan diri dan Partai kepada Masyarakat Aceh, saat itu sebelum terjadi bencana besar Tsunami .

Sosialisasi saya lakukan hanya dengan beberapa orang Tim saja. Masuk kampung keluar kampung. Memang, sangatlah tidak mudah untuk meyakinkan masyarakat Aceh yang telah sedemikian tertanam kuat di dalam benak mereka bahwa para caleg yang turun ke lapangan hanya mengharap suara mereka saja, setelah terpilih jangankan peduli, datang kembali untuk ber-silahturahmi saja tidak.

Pada satu kesempatan saya bertemu dengan seorang kawan yang ber-tutur bahwa ada sebuah desa yang masyarakatnya sedang membangun Masjid, ia beranggapan mungkin saya bisa turut terjun ke sana untuk memberikan bantuan.

Tanpa pikir panjang kami berangkat, entah apa yang mendorong saya saat itu, tidak lama usai saya berjumpa, diberi wejangan oleh ustad sepuh ketua panitia pembangunan Masjid serta bersilahturahmi dengan beberapa warga tokoh masyarakat desa, saya merasakan ada dorongan kuat untuk menyumbangkan semua uang yang tersisa, menyelesaikan pembangunan masjid itu, dan saya tidak berfikir lagi untuk melakukan sosialisasi kemanapun. Tujuan saya hanya bagaimana agar masjid itu segera rampung. Lalu, saya kembali ke Jakarta .

Pendek kisah, saya terpilih sebagai wakil masyarakat Aceh untuk duduk di DPR-RI pada priode 2004-2009. Jangankan rekan-rekan yang merasa heran dengan perolehan suara saya, bahkan saya sendiripun demikian, dan alhamdulilah selama saya duduk di DPR-RI tidak satupun daerah di dapil saya yang tidak kembali saya
kunjungi .

Tsunami Aceh

Saat kejadian Bencana Tsunami Aceh, salah seorang adik perempuan saya kebetulan tinggal di Banda Aceh, bencana itu terjadi berselang beberapa hari usai saya meninggalkan Aceh dalam kunjungan dinas sebagai anggota DPR.

Berminggu-minggu kami tak mendengar kabar saudara perempuan saya itu, turut menjadi korban-kah, kami tak henti-henti berdoa sampai pada satu hari ia menelepon dan menghabarkan bahwa ia baik-baik saja.

Berkisah, saat kejadian ia sedang berada di jalan lalu tiba-tiba kepanikan terjadi dan ia hanya bisa berlari sekencang-kencangnya. Entah dari mana tiba-tiba ada seorang pria paruh baya mengunakan sepeda motor menghampiri dan menawarkan untuk mem-boncengnya.

Tanpa berfikir panjang ia naik ke boncengan, melaju meninggalkan kepanikan dan ujung air bah yang semakin mendekat, semakin menjauh, lalu sampailah di sebuah Masjid, dan sebelum meninggalkan saudara perempuan saya pembonceng sempat berpesan : berlindung di sini saja dik, Insya Allah aman. lalu, laki-laki paruh baya itu meninggalkannya pergi.

Saya tertegun mendengarkan penuturannya, karena lokasi yang ia ceritakan tidak asing dengan gambaran yang ada di benak saya. Kemudian, saya tanyakan dengan detail : di Masjid mana ia berlindung, bagaimana ciri dan bentuk masjid tersebut. Lalu, apakah masjid itu tidak terdampak Tsunami. Terdampak, namun tidak seberapa, ujarnya bercerita.

Maha Besar Allah, masjid masih berdiri kekar, dan saudara perempuan saya itu berlindung di Masjid yang saya tuturkan di atas.

Tsunami Banten

Bencana Tsunami Banten dan Lampung adalah duka kita bersama sebagai anak bangsa. Tentunya, yang diperlukan adalah aksi nyata untuk sesegera mungkin menanggulangi dampaknya .

Mempolitisasi musibah dengan berbagai pola pencitraan bagi saya adalah musibah politik yang menimpa bangsa ini. Menjadikan bencana sebagai komoditas politik merupakan contoh nyata politik menghalalkan segala cara.

Mari bersama membersihkan hati, terutama bagi pemimpin di republik ini. Apa yang seharusnya dilakukan seorang pemimpin adalah membantu, bukan memperalat.

Sepantasnya dalam situasi bencana, seorang pemimpin harus bersikap untuk membangun kepedulian, bukan datang hanya untuk ber-aksi di depan kamera.

Berbuatlah layaknya seorang pemimpin, dan jika langkahmu benar, Tuhan Yang Maha Esa akan melipat gandakan balasan lebih dari yang bisa kau bayangkan. Lebih dari hasil perhitungan teory pencitraan yang kau bangun hanya untuk mendongkrak elektabilitas semata.

 

Saya tulis untuk memperingati Bencana Tsunami ke -14 di Banda Aceh yang jatuh pada hari ini. Semoga Allah Mengampunkan Dosa Para Korban, dan Melindungi NKRI dari Segala Bencana, Zhohir maupun Bathin. Amin amin ya Rabb.

Apresiasi, Kisah, Opini

Surat Terbuka Rakyat Kecil Menjawab Tulisan Adian Napitupulu

 

” Pada saatnya nanti, sejarah akan membuktikan, apa yang bapak dan ibumu telah perjuangkan bagi bangsa ini ”

  – HM. SOEHARTO –

 

SOEHARTONESIA.COM,- Tak ada mendung, hanya senja biasa dengan matahari yang sinarnya melambai berpamitan menjelang malam. Di langit tak muncul tanda-tanda yang kudus.

Semua berjalan seperti biasanya, biasa saja. Bukan hari yang sakral,dan dari ribuan kelahiran anak manusia di hari itu, bumi pertiwi menjadi saksi lahirnya Soeharto.

Delapan puluh enam tahun kemudian, bendera setengah tiang, iring-iringan pelawat, masyarakat dan rakyat Indonesia yang menyaksikan melalui siaran televisi mengiringi kepulangan-nya. Tangis haru Indonesia pecah mengiringi perjalanan pak Harto berpulang ke sang Khalik.

Soeharto seorang anak desa yang membuat perubahan besar pada negerinya, membangun bangsa yang porak poranda, di ujung kebangkrutan usai perang melawan penjajahan, merdeka, namun larut dalam konflik politik berkepanjangan.

Anak desa itu pun berhasil membubarkan PKI yang saat itu merupakan kekuatan komunis terbesar ke tiga setelah Rusia dan China, sumber dari berbagai konflik politik dan kekejaman yang mengatasnamakan politik, di negerinya.

Dan, Mungkin kau tak akan mendengar alunan syahdu suara Adzan berkumandang di masjid masjid seluruh penjuru nusantara, Gereja penuh jamaat di hari minggu, hari raya nyepi yang sakral, parade Bikshu menyusuri candi Borobudur pada hari raya umat Budha, jika komunis yang anti Tuhan dan anti manusia ber-Tuhan itu berkuasa. Pak Harto tegas mengemban amanat Pancasila.

Sejarah mencatat, awal pak Harto memimpin indonesia di ujung kebangkrutan, rakyat kelaparan, inflasi tembus 600 persen, bisa jadi diantara kita mendengar cerita orang-orang tua yang menjadi saksi beratnya hidup diawal kemerdekaan, kesulitan panggan dan Indonesia terlilit hutang biaya perang. Dengan kondisi sedemikian parah, si anak desa memimpin dan mulai membenahi negeri.

Buya Hamka pada suatu kesempatan mengatakan :” kita baru mengerti arti pembangunan, di era  Soeharto memimpin “

Tidak berlebihan apa yang dikatakan Buya, saat itu, Pertumbuhan ekonomi yang tinggi oleh Soeharto dipersembahkan kepada rakyatnya, swasembada pangan diakui dunia sebagai capaian.  Indonesia negara agraris yang mampu memenuhi pangan bagi rakyatnya dan turut berperan serta membantu pangan dunia.

Keajaiban ekonomi Asia, pers dunia barat membahasakannya.

Berbagai capaian dibidang pendidikan, kesehatan, pemerataan penduduk (transmigrasi ) pembangunam ratusan rumah sakit ribuan gedung sekolah dan perguruan tinggi, serta puskemas.

Pembangunan perkotaan tumbuh pesat, desa-desa memproduksi berbagai bahan baku industri, target pembangunan tertata rapi dalam konsep jangka menengah dan panjang. Bahkan, saat sekolah dasar, saya begitu hafal setiap tahapan-tahapan pembangunannya yang tersusun dalam Repelita (Rancangan Pembangunan Lima Tahun )

Dibidang keagaaman terbangun ribuan rumah ibadah diseluruh penjuru nusantara. BUMN tumbuh subur, dan Indonesia riil menjadi macan asia.

Krisis Moneter


Krisis keuangan Asia adalah periode krisis keuangan yang menerpa hampir seluruh Asia Timur pada Juli 1997 dan menimbulkan kepanikan bahkan ekonomi dunia akan runtuh akibat penularan keuangan.

Korea Selatan, dan Thailand adalah negara-negara yang terkena dampak krisis terparah. Hong Kong, Laos, Malaysia, dan Filipina juga terdampak oleh turunnya nilai mata uang, termasuk Indonesia. Brunei, Cina, Singapura, Taiwan, dan Vietnam tidak kentara dampaknya, namun sama-sama merasakan turunnya permintaan dan kepercayaan investor di seluruh Asia.

Upaya menghambat krisis ekonomi global gagal menstabilkan situasi dalam negeri di Indonesia. Setelah 30 tahun berkuasa, Presiden Soeharto mundur pada tanggal 21 Mei 1998 di bawah tekanan massa yang memprotes kenaikan harga secara tajam akibat devaluasi rupiah.

Tentu, si anak desa tidaklah sempurna, manusia biasa yang memimpin bangsa besar selama hampir setengah dari umurnya, tentu bukanlah perkara sederhana. Dan, dihujung situasi kritis, demi menghindari jatuhnya korban, ia menahan diri untuk mengerahkan TNI untuk menstabilkan gejolak massa, pak Harto lebih memilih untuk “Lengser Keprabon.”

Kini, setelah 20 tahun reformasi kembali sosok pak Harto dirindukan, bahkan semakin tajam, muncul sebagai simbol perlawanan kepada rezim Jokowi yang dianggap banyak pihak gagal dalam mengelola RI.

“Kita ingin kembali ke era presiden Soeharto memimpin,” ujar putri pak Harto, hal itu ia rincikan dalam orasinya kembali ke era Pak Harto terkait berbagai capaian positif: swasembada pangan, harga-harga murah, pembangunan yang tersistem dengan jelas. Konteksnya adalah, berbagai capaian keberhasilan yang tidak hanya sekedar klaim semata, tetapi nyata diakui rakyat dan dunia. Bukan pembangunan pepesan kosong berbasis pencitraan.

Fransiskus Widodo

Rakyat Indonesia, mekanik kecil, suami dan ayah dari anak-anak yang terus berharap pendidikan terjangkau bagai rakyat.