Apresiasi, Kisah, Opini

Surat Terbuka Rakyat Kecil Menjawab Tulisan Adian Napitupulu

 

” Pada saatnya nanti, sejarah akan membuktikan, apa yang bapak dan ibumu telah perjuangkan bagi bangsa ini ”

  – HM. SOEHARTO –

 

SOEHARTONESIA.COM,- Tak ada mendung, hanya senja biasa dengan matahari yang sinarnya melambai berpamitan menjelang malam. Di langit tak muncul tanda-tanda yang kudus.

Semua berjalan seperti biasanya, biasa saja. Bukan hari yang sakral,dan dari ribuan kelahiran anak manusia di hari itu, bumi pertiwi menjadi saksi lahirnya Soeharto.

Delapan puluh enam tahun kemudian, bendera setengah tiang, iring-iringan pelawat, masyarakat dan rakyat Indonesia yang menyaksikan melalui siaran televisi mengiringi kepulangan-nya. Tangis haru Indonesia pecah mengiringi perjalanan pak Harto berpulang ke sang Khalik.

Soeharto seorang anak desa yang membuat perubahan besar pada negerinya, membangun bangsa yang porak poranda, di ujung kebangkrutan usai perang melawan penjajahan, merdeka, namun larut dalam konflik politik berkepanjangan.

Anak desa itu pun berhasil membubarkan PKI yang saat itu merupakan kekuatan komunis terbesar ke tiga setelah Rusia dan China, sumber dari berbagai konflik politik dan kekejaman yang mengatasnamakan politik, di negerinya.

Dan, Mungkin kau tak akan mendengar alunan syahdu suara Adzan berkumandang di masjid masjid seluruh penjuru nusantara, Gereja penuh jamaat di hari minggu, hari raya nyepi yang sakral, parade Bikshu menyusuri candi Borobudur pada hari raya umat Budha, jika komunis yang anti Tuhan dan anti manusia ber-Tuhan itu berkuasa. Pak Harto tegas mengemban amanat Pancasila.

Sejarah mencatat, awal pak Harto memimpin indonesia di ujung kebangkrutan, rakyat kelaparan, inflasi tembus 600 persen, bisa jadi diantara kita mendengar cerita orang-orang tua yang menjadi saksi beratnya hidup diawal kemerdekaan, kesulitan panggan dan Indonesia terlilit hutang biaya perang. Dengan kondisi sedemikian parah, si anak desa memimpin dan mulai membenahi negeri.

Buya Hamka pada suatu kesempatan mengatakan :” kita baru mengerti arti pembangunan, di era  Soeharto memimpin “

Tidak berlebihan apa yang dikatakan Buya, saat itu, Pertumbuhan ekonomi yang tinggi oleh Soeharto dipersembahkan kepada rakyatnya, swasembada pangan diakui dunia sebagai capaian.  Indonesia negara agraris yang mampu memenuhi pangan bagi rakyatnya dan turut berperan serta membantu pangan dunia.

Keajaiban ekonomi Asia, pers dunia barat membahasakannya.

Berbagai capaian dibidang pendidikan, kesehatan, pemerataan penduduk (transmigrasi ) pembangunam ratusan rumah sakit ribuan gedung sekolah dan perguruan tinggi, serta puskemas.

Pembangunan perkotaan tumbuh pesat, desa-desa memproduksi berbagai bahan baku industri, target pembangunan tertata rapi dalam konsep jangka menengah dan panjang. Bahkan, saat sekolah dasar, saya begitu hafal setiap tahapan-tahapan pembangunannya yang tersusun dalam Repelita (Rancangan Pembangunan Lima Tahun )

Dibidang keagaaman terbangun ribuan rumah ibadah diseluruh penjuru nusantara. BUMN tumbuh subur, dan Indonesia riil menjadi macan asia.

Krisis Moneter


Krisis keuangan Asia adalah periode krisis keuangan yang menerpa hampir seluruh Asia Timur pada Juli 1997 dan menimbulkan kepanikan bahkan ekonomi dunia akan runtuh akibat penularan keuangan.

Korea Selatan, dan Thailand adalah negara-negara yang terkena dampak krisis terparah. Hong Kong, Laos, Malaysia, dan Filipina juga terdampak oleh turunnya nilai mata uang, termasuk Indonesia. Brunei, Cina, Singapura, Taiwan, dan Vietnam tidak kentara dampaknya, namun sama-sama merasakan turunnya permintaan dan kepercayaan investor di seluruh Asia.

Upaya menghambat krisis ekonomi global gagal menstabilkan situasi dalam negeri di Indonesia. Setelah 30 tahun berkuasa, Presiden Soeharto mundur pada tanggal 21 Mei 1998 di bawah tekanan massa yang memprotes kenaikan harga secara tajam akibat devaluasi rupiah.

Tentu, si anak desa tidaklah sempurna, manusia biasa yang memimpin bangsa besar selama hampir setengah dari umurnya, tentu bukanlah perkara sederhana. Dan, dihujung situasi kritis, demi menghindari jatuhnya korban, ia menahan diri untuk mengerahkan TNI untuk menstabilkan gejolak massa, pak Harto lebih memilih untuk “Lengser Keprabon.”

Kini, setelah 20 tahun reformasi kembali sosok pak Harto dirindukan, bahkan semakin tajam, muncul sebagai simbol perlawanan kepada rezim Jokowi yang dianggap banyak pihak gagal dalam mengelola RI.

“Kita ingin kembali ke era presiden Soeharto memimpin,” ujar putri pak Harto, hal itu ia rincikan dalam orasinya kembali ke era Pak Harto terkait berbagai capaian positif: swasembada pangan, harga-harga murah, pembangunan yang tersistem dengan jelas. Konteksnya adalah, berbagai capaian keberhasilan yang tidak hanya sekedar klaim semata, tetapi nyata diakui rakyat dan dunia. Bukan pembangunan pepesan kosong berbasis pencitraan.

Fransiskus Widodo

Rakyat Indonesia, mekanik kecil, suami dan ayah dari anak-anak yang terus berharap pendidikan terjangkau bagai rakyat.

Kisah

AKU BESAR DI MASA ORDE BARU

Saya sengaja menulis ini untuk meluruskan sejarah bagi generasi muda yg lahir setelah orde baru atau di akhir orde baru.

Prihatin dengan banyaknya Bulian terhadap Bapak Prabowo Subianto yang mengatakan jika Prabowo menang maka orde baru akan kembali mencengkeram Indonesia! Baiklah sebagai rakyat biasa yg di besarkan di masa orde baru saya ingin memberikan penjelasan bagaimana hidup di masa orde baru!

Apa yang di sebar luaskan pada masa kampanye ini sungguh benar-benar sesuatu yg jauh dari kejujuran dan kebenaran! Bagi saya masa orba adalah masa terbaik dari seluruh pemerintahan yang ada di Indonésia!

Saya bicara sebagai orang awam yg tidak berpihak kepada siapapun! Saya hanya ingin berpihak kepada kebenaran dan kejujuran! Karena itulah perintah Allah SWT.

Tidak pernah bisa saya lupakan ketika saya kecil bersekolah di TK Desa yang berada di kaki Gunung Kelud. Setiap hari sabtu selalu ada pembagian kacang hijau gratis dan susu bubuk seukuran 0.5 kg yang boleh kami bawa pulang. Ketika ada Lomba Guru TK saya, ibu Win, selalu membonceng saya dengan sepeda onthelnya ke Kecamatan untuk mengantar saya. Jika saya menang maka saya membawa pulang hadiah kotak makan, bola bekel, Atau buku, Pèncil dan Kotak Pencil yang pada zaman itu masih merupakan barang mewah bagi kami orang Desa.

Ketika menginjak Sekolah Dasar Kami Hanya cukup mendaftar dengan uang yang sangat kecil nilainya. SPP Gratis dan Buku-buku di bagikan untuk di pinjam selama setahun sesuai tingkatan kelas. Orang tua cukup membeli buku tulis dan pensil saja sebanyak 5 buku karena hanya ada pelajaran Agama, PMP, Bahasa Indonesia dan Matematika. Kemudian kelas 3 baru ada pelajaran IPA dan Ilmu Sosial.

Bagi orangtua kami para petani mendapatkan bantuan pupuk Bibit Padi dan Jagung gratis di Balai Desa. Pernah suatu ketika ada masa dimana Panen gagal karena hama wereng dan tikus dan kami terpaksa harus makan gaplek yaitu singkong yang di keringkan yang kemudian di olah menjadi tiwul sebagai pengganti beras. Semua itu terjadi karena memang tidak ada beras yang bisa dimakan bukan karena kami miskin. Dengan sigap Pak Harto kembali menggelontorkan bibit padi dan pupuk gratis supaya Petani bangkit lagi untuk menanam padi. Dan Anak-anak sekolah tetap menerima bantuan makanan sehat!

Ketika menginjak SMP Orang Tua saya mendapat sumbangan Sapi Powan betina 2 ekor. Sumbangan itu disesuaikan dengan letak geografis karena desa kami terletak di kaki gunung Kelud dan dekat dengan koperasi Susu di Pujon malang. Dengan menggunakan motor butut nya ayah saya selalu mengantar susu sebanyak 2 drum Susu masing-masing berisi 12 liter. Karena 1 sapi bisa menghasilkan susu sebanyak 12 liter tersebut!

Dengan bantuan sapi tersebut orang tua kami bisa menyekolahkan kami. Sedang hasil bertani lebih banyak di gunakan untuk makan dan memperbaiki rumah sederhana kami. Ibu saya di beri pelatihan gratis untuk membuat permen susu dan tahu susu. Semua biaya dari pemerintah.

Desa kami merupakan Desa teladan saat itu begitu juga SD kami adalah SD teladan sehingga sering tamu datang Dari LN dan yang paling saya ingat adalah dari Africa yang di dampingi oleh Pak Harto Sendiri. Mungkin beliau seorang kepala Negara karena saya masih terlalu kecil untuk mengetahui siapa beliau. Yang jelas pastilah seorang petinggi negara karena Bapak sendiri yang harus mendampingi. Dan ibu saya yang pernah tinggal di Singapura dan bisa Berbahasa Inggris selalu di panggil menjadi Penerima tamu bersama ibu-ibu lain yang rata-rata mudanya para bunga desa dan terkenal karena kecantikannya.

Desa kami begitu hidup masyarakat saling membantu dan rukun. Sistim Gotong Royong selalu di aktifkan oleh Pak Harto. Ketika kami membangun rumah tidak perlu biaya terlalu besar untuk membayar tukang karena selalu tetangga kami bergantian datang membantu. Ibu-ibu PKK selalu aktif mengadakan kegiatan begitu pula Karang Taruna (wadah Pemuda Desa) mendapat pelatihan gratis dari pemerintah secara berkala. Desa kami aman tidak pernah ada perampokan meskipun banyak tetangga kami yang kaya. Karena Hansip ada di setiap Desa ronda malam pun selalu aktif!

Ketika saya merenung apa yang terjadi di masa sekarang dan bagaimana pemerintahan setelah masa reformasi barulah saya sadari betapa hebatnya orde baru. Orde Baru adalah masa ke Emas an Indonesia dimana Indonesia sangat disegani di mata dunia! Tentara tentara kita selalu hadir menjadi tentara perdamaian PBB.

Meskipun Pak Harto tidak bisa berbahasa Inggris tetapi Gestur Tubuh beliau menunjukkan kecerdasan beliau. Sehingga beliau di segani di mata Dunia. Tidak ada Negara yang berani menghina Indonesia apalagi berkasak-kusuk seperti saat ini.

Pak Harto adalah seorang yang sangat ngopeni rakyatnya.Beliau tidak mau rakyatnya kekurangan gizi maka beliau bentuk berbagai macam program yang berpihak kepada rakyat kecil.

Ide ide beliau sangat Brilian. Pak Harto lah pembentuk karakter bangsa! Beliau lah yang mencetak orang-orang seperti saya. Bukan hanya gizi yang beliau pikirkan tapi juga akhlak dan moral masyarakat.

Tidak banyak perampok maling dan pencopet di masa pak Harto krn beliau sangat tegas dengan hukumannya. Tidak ada Narkoba yg beredar bebas seperti saat ini. Negara aman dan tentram.

Diantara Ide brilian beliau adalah memasyarakatkan 4 sehat 5 Sempurna. Sangat berbeda dengan Presiden Jokowi yang justru memaksakan rakyatnya untuk makan tempe seharga 3.500 untuk 3 hari. Rakyat di paksa untuk menerima keadaan yang tidak mungkin.

Pak Harto juga pencetus Koperasi yang idenya diambil dari budaya gotong royong.Tapi sayamg saat ini justru ribuan koperasi tutup karena pemerintah tidak perduli!

Pak Harto juga sebagai pencetus Butir-butir Pancasila. Sehingga kami memahami apa itu Pancasila.
Kami dipaksa untuk menghapalkan butir butir Pancasila dan mengamalkannya. Yang pada saat ini baru saya sadari itulah sejatinya beliau membentuk moral kami menjadi orang yang cinta Tanah Air, Hormat kepada Pahlawan! Hormat kepada Guru guru kami,hormat kepada Orang Tua.Menghargai antar Pemeluk Agama dan antar Suku.

Membentuk kami menjadi pribadi yang tangguh. Yang tidak cengeng dengan keadaan.Serta taat kepada Agama yg kami anut.

Bandingkan dengan pemimpin negara saat ini yang sama sekali 0 program buat masyarakat. Jangankan membentuk karakter masyarakat Presiden justru membentuk relawan untuk melindungi jabatannya. Presiden justru mengajak relawan untuk berani berantem dengan masyarakat yang kritis terhadap pemerintah. Presiden juga bertutur kata yang tidak sopan seperti Sontoloyo, Gendruwo dan tak Tabok! Bagaimana murid mau menghargai guru! Menghargai orang tua menghagai yang berbeda lawong presidennya saja ngajari berantem! Moral anak-anak sekarang sudah warning! Narkoba ber ton ton masuk dg mudah ke Indonesia. Jika yang demikian pemerintah tidak bisa mengatasi lantas apa gunanya ada Pemerintah?

Pak Harto Selalu ada ditengah masyarakat petani karena beliau memang sangat konsen dengan ketahanan pangan. Karena tanpa kemandirian pangan mustahil bangsa Indonesia bisa kuat! Tentara kita bisa kuat anak-anak kita bisa cerdas. Hingga surplus beras pun tercapai! Indonesia bisa meminjamkan beras ke Vietnam dan Africa.

Tapi apa yang terjadi sekarang Presiden justru tidak berdaya terhadap tingkah laku Mendag yang besar-besaran Import beras di saat panen raya. Padahal sebelum Bapak Jokowi menjabat beliau pernah ber orasi bahwa beliau sedih karena Indonesia Import pangan padahal sawah kita luas. Tapi saat ini justru Hampir semua bahan pokok di Import!

Pak Harto juga yang punya program Transmigrasi selain bertujuan memberi lahan gratis kepada rakyat yang tidak mampu tetapi juga bertujuan menyatukan rakyat yang bereda suku agar menyatu dan saling kenal. Program Transmigrasi setiap KK di beri tanah 2 Hektar dan di beri jatah beras Lauk pauk dan sedikit uang saku selama 1 tahun dan sudah disediakan rumah panggung di setiap lokasi yang di tuju. Pak Harto
mengajarkan pada masyarakat agar mau babat hutan seperti kakek-kakek kami terdahulu. Supaya masyarakat tidak malas. Hasil tebangan kayu hutan boleh di ambil atau di jual oleh para trasmigran. Dan saat ini sudah banyak yang merasakan hasil dari jerih payah Pak Harto mengatur Rakyatnya. Sudah banyak masyarakat Jawa Bali NTT & NTB yang memiliki kebun dan hidup beranak pinak di daerah baru tersebut.

Bandingkan dengan Pemerintah sekarang yang justru menjual hutan hutan tersebut untuk para cukong dan menjadikan rakyatnya sebagai buruh!

Dan Pak Harto tidak ada pajak bagi pedagang kecil dan pengusaha kecil. Pajak PBB pun sangan kecil nilainya. Di saat dollar hanya 1000 rupiah harga beras hanya 300 rupiah harga minyak tanah 300 rupiah bensin 400 rupiah. Bandingkan dengan harga-harga sekarang beras pun sudah hampir 1 dollar. Di masa pak Harto kerja 1 hari bisa untuk makan 3 hari. Sedang saat ini kerja 1 bulan hanya cukup untuk 2 minggu.

Jika ada yang bilang di zaman pak Harto tidak bisa beli televisi dan sepeda motor. Tapi sekarang rakyat bisa punya semua itu termasuk gadget.

Baiklah mari kita berhitung. Bisa memiliki televisi dan kendaraan apakah itu ukuran Makmur? Di zaman pak Harto kita tidak bisa beli televisi dan motor karena teknologi nya masih baru belum banyak di produksi sehingga terbilang mahal saat itu. Harga televisi saat itu berkisar 500 rb keatas jika kita kurs kan dengan dollar artinya harga televisi kecil 20 inchi kira-kira 500 usd jika di kurs kan uang sekarang kisaran 7.5jt rupiah sedang kebutuhan hidup kita saat itu dengan gaji 100.000 saja sudah bisa makan 1 bulan.

Tapi bandingkan dengan harga pangan zaman sekarang gaji anda 5-7 juta tapi harga Televisi flat terbaru hanya 2jt tv tabung hanya 1 juta. Tetapi gaji anda habis bahkan kadang tidak cukup untuk hidup 1 bulan saja.

Pak Harto juga yang memanggil BJ Habibie pulang ke Indonesia untuk membangun PT Dirgantara. Seandainya beliau tidak di lengserkan tentulah saat ini kita sudah punya produksi pesawat sendiri yang pertama di Asia!

Jika beliau di katakan otoriter dan tidak demokrasi semata-mata karena beliau paham betul PKI masih bergentayangan di bumi ini dan bisa menghancurkan bangsa ini jika di beri ruang. Terbukti pada masa-masa di mana PKI bebas mereka selalu membuat teror bagi umat islam karena mereka membenci agama terutama Islam dan Ulama banyak yang di bunuh puncaknya ketika 7 Jendral mereka kubur hidup-hidup di lubang buaya. China dan keturunannya tidak mempunyai ruang di negeri ini karena pak Harto tau mereka kaum opportunities yang hanya mementingkan pribadi dan golongan mereka dan tidak perduli terhadap Masyarakat. Tetapi beliau menghargai Keturunan china yang Nasionalis terbukti beliau mengambil Prabowo sebagai menantu! Anak dari seorang Ekonom Soemitro keturunan Tionghoa yang akhirnya menjadi Mualaf. Tidaklah mungkin beliau mengambil Prabowo Subianto sebagai menantu jika Prabowo bukan seorang yang berkualitas! Meskipun kemudian Prabowo di usir dari cendana karena fitnah an Wiranto yang telah beliau bantu menjadi Kasad hingga Menteri.

Lantas bagaimana dengan rezim sekarang yang selalu teriak demokrasi terbuka Pancasilais dan cinta kebhinekaan. Kenyataan justru berbalik dari yang mereka ucapkan! Saat ini pemerintahan lebih otoriter daripada zaman orba. Semua media di larang memberitakan kebaikan oposisi dan diancam! Masyarakat yang vocal dan kritis terhadap pemerintah di tangkap tidak perduli laki-laki maupun perempuan! Ulama ulama di persekusi bahkan sampai ada yang di bunuh! Umat muslim yang tidak pro pemerintah di katakan Radikal dan anti Pancasila! Masyarakat justru di pecah belah dan di adu domba. Yahudi bebas mengibarkan bebderanya di Papua. Shiah bebas membangun masjid. Hal yang tidak mungkin terjadi di masa Orba.

Jika kalian mendengar isu mengenai Korupsi dan KKN di masa Orba tidak bsa di pungkiri itu ada dan terus ada pada masa setelah orba. Tetapi di banding dengan korupsi dan KKN saat ini jauh lebih parah dan terang-terangan. 30 th Pak Harto memimpin beliau tidak memberikan jabatan kepada Adik adiknya ataupun Anak kandungnya. Tapi begitu Jokowi naik maka Puan Maharani pun menjadi menteri tanpa kualitas seorang menteri! Semua jabatan menteri di berikan kepada orang-orang dekat Megawati. Begitu Juga BUMN lebih besar di berikan kepada kroninya yang tentu tidak mempunyai kapasitas sebagai Direktur ataupun komisaris. Hanya karena mereka dulu sebagai relawan Jokowi. Itulah sebab kenapa hampir semua BUMN bangkrut! Dan banyak yang sudah di jual! Lantas kemana uang hasil jual BUMN dan berhutang hingga 4000 Triliun itu? Padahal semua subsidi sudah di cabut? Benarkah uang sebesar itu hanya untuk Insfratruktur? Jika benar seharusnya semua Insfratruktur selesai dan gratis tidak perlu bayar karena rakyat sudah membayar hutang dengan kenaikan segala macam pajak! Lantas kenapa Jalan toll Pelabuhan dan Bandara masih juga dijual? Kemana uang yang begitu besar nilainya? Jika kalian ingin tau kebenarannya jangan jadikan Jokowi sebagai Presiden untuk yang ke 2 kalinya, Pasti semua akan terungkap!

Terlalu jauh kualitas pemimpin saat ini dibanding masa Orba.Sekarang tergantung pilihan kalian.Karena pemilu adalah Hak masing-masing. Dengan membaca tulisan saya ini saya berharap kalian para generasi muda bisa mengetahui bagaimana hidup di zaman Orde Baru.

Orang-orang yang dulu merasa terbelenggu dan yang Sekarang menyebarkan fitnah bahwa orde baru adalah masa yang kelam negeri ini. Sudah jelas mereka adalah bagian dari keturunan yang pada masa itu memang tidak di beri ruang berkembang karena telah berkhianat terhadap NKRI dan Pancasila

Masih banyak kebaikan pak Harto yang tidak bisa saya tulis semuanya. Beliau memang tidak sempurna tetapi beliau lah yang terbaik dari semua pemimpin yang pernah ada!

Wallahu A’lam bissowaf. Allah Maha pengampun dan Penyayang!

Yogyakarta, 30 November ’18
Monaliza Abidin

Kisah

Riil Blusukan, Ala Pak Harto

SOEHARTONESIA.COM

Pada masa Pak Harto memimpin, tak ada istilah khusus untuk menyebut inspeksi mendadak yang kini dipopulerkan dengan nama “blusukan” oleh Jokowi. Tak ada pula penyambutan keramaian karena semua dilakukan serba rahasia.

Sebuah pengalaman unik dirasakan Try Sutrisno pada tahun 1974 ketika dia masih menjadi ajudan Soeharto soal hobi mantan kepala negara satu itu.

Suatu ketika, Pak Harto tiba-tiba memerintahkan Try untuk segera menyiapkan mobil dan pengamanan seperlunya.

“Siapkan kendaraan, sangat terbatas. Alat radio dan pengamanan seperlunya saja dan tidak perlu memberitahu siapa pun,” perintah Pak Harto seperti yang dikenang Try Sutrisno dalam buku “Soeharto: The Untold Story”.

Perjalanan rahasia itu berlangsung selama dua pekan. Hanya Try, dan Paspampres Kolonel Munawar, Komandan Pengawal, satu ajudan, Dokter Mardjono dan mekanik Pak Biyanto yang mengurus kendaraan yang turut serta dalam perjalanan itu.

Di luar rombongan ini, hanya Ketua G-I/S Intel Hankam Mayjen TNI Benny Moerdani yang mengetahuinya. Panglima ABRI ketika itu bahkan tidak tahu bahwa presiden sedang berkeliling dengan pengamanan seadanya ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Pada saat itu, Indonesia memasuki tahap Pelita II. Sehingga, Pak Harto merasa harus turun langsung memantau program-program pemerintah dilaksanakan.

Dengan melakukan perjalanan rahasia seperti ini, Pak Harto bisa melihat kondisi desa apa adanya dan mendapat masukan langsung dari masyarakat.

“Kami tidak pernah makan di restoran, menginap di rumah kepala desa atau rumah-rumah penduduk. Untuk urusan logistik, selain membawa beras dari Jakarta, Ibu Tien membekali sambal teri dan kering tempe. Benar-benar prihatin saat itu,” tutur Try.

Meski pejalanan itu berusaha ditutup rapat, kedatangan presiden ke suatu desa akhirnya bocor juga hingga sampai ke telinga pejabat setempat.

Para pejabat daerah pun geger hingga memarahi Try Sutrsino karena merasa tidak diberi kesempatan untuk menyambut presiden. Try tidak bisa berbuat banyak karena perjalanan ini adalah kemauan Pak Harto.

Try yang kemudian hari menjadi Wakil Presiden ini pun melihat Pak Harto terlihat begitu menikmati perjalanan keluar masuk desa. Semua hal yang ditemui di lapangan dicatat Pak Harto untuk jadi bahan dalam rapat kabinet.

Saking menikmatinya perjalanan itu, Pak Harto tidak protes atau pun marah saat ajudannya salah mengambil jalan hingga akhirnya tersasar.

Padahal, Pak Harto mengetahui betul seluk beluk wilayah itu. Dalam ingatan Try, Pak Harto ketika itu hanya tersenyum.

Perjalanan incognito itu pun berakhir di Istana Cipanas dengan kondisi semua lelah. Try mengungkapkan, Pak Harto mempersilakan para pembantunya untuk makan terlebih dulu daripada dirinya.

Kisah

Clereng dan Yayasan Dharmais

KETIKA saya masih SD, ketika berumur 10-11 tahun, pada tahun 1980-an, saya cukup rajin mendatangi kolam pemandian umum yang ada di daerah Clereng, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo.

Selain suasana pemandian yang ramai dan begitu khas, yang tak kalah saya rindukan adalah kuliner geblek yang dijual di sejumlah warung yang ada di sekitar pemandian umum itu.

Kuliner dari ketela dicampur tepung itu digoreng sedemikian rupa sehingga begitu gurih untuk dimakan.

Pas untuk perut yang begitu lapar ketika habis berenang.

Yang cukup mengejutkan bagi saya, di tengah perjalanan menuju Clereng itu, saya selalu saja melihat adanya bangunan yang begitu luas. Beberapa kali saya hanya melewati begitu saja. Belum begitu peduli. Ternyata, setelah beberapa kali saya lewati dan kemudian saya cek, bangunan tersebut adalah bangunan Yayasan Dharmais. Sejumlah orang yang saya jumpai selalu menyebut yayasan tersebut adalah kepunyaan Pak Harto.

Hari berganti, ketika saya selalu mendatangi Clereng, tentu tak bisa saya lupakan untuk selalu melirik bangunan Yayasan Dharmais itu. Sebuah bangunan yang, dalam imajinasi saya ketika masih SD, pasti digunakan untuk membantu orang banyak, menolong orang lain, mewujudkan rasa kepedulian yang tinggi antarsesama warga.

Pada saat SD itu, tentu saya masih cukup minder untuk melihat secara nyata kegiatan yang ada di dalam bangunan itu. Maka, lebih banyak saya hanya menduga saja.

Barulah ketika saya berusia di bangku SMP, apa yang saya imajinasikan tentang bangunan tersebut tidaklah meleset. Saya mendengar dari banyak orang, bahwa banyak kegiatan sosial yang diselenggarakan yayasan tersebut. Misalnya saja, menyelenggarakan pelatihan menjahit, pertukangan, dan keterampilan lainnya. Teman-teman saya di bangku SD yang asal Pengasih, sering menyebut, kakaknya atau saudaranya mendapatkan pelatihan dari yayasan tersebut.

Mulai bangku SMP pula, saya menjadi menyadari pentingnya hidup bersama, lekat dan saling merekatkan antarpersonal. Ketika saya duduk di bangku SMA, saya mulai mengenal adanya pelajaran sosiologi. Pelajaran tersebut semakin mematangkan saya dalam berperspektif bahwa kehidupan yang sehat adalah kehidupan yang secara sosial saling menjunjung tinggi kebersamaan. Tolong menolong, bahu membahu, itu merupakan kunci keberhasilan bersama.

Pring reketek gunung gamping ambrol. Itu salah satu “jiwa korsa”, inner of soul, semangat yang melekat dalam bermasyarakat di era Orde Baru. Itulah yang saya catat dengan tinta emas dalam ingatan hingga detik ini, di usia saya yang menginjak 42 tahun.

Keberadaan Yayasan Dharmais begitu menginspirasi warga sekitarnya, khususnya saya, dalam membangun keberhasilan bersama dengan jiwa gotong royong. Saya membayangkan, waktu itu saya masih SMP sudah mempunyai bangunan imajinasi perihal tolong-menolong yang baik.

Bayangkan, jika anak seusia SMP seperti saya juga mempunyai imajinasi yang sama perihal gotong royong yang ideal, tentu itu menjadi bukti bahwa keberadaan sebuah yayasan memang membantu mendidik warga sekitarnya menjadi memahami esensi saling membantu.

Apalagi, negara Indonesia berbasis Pancasila yang tentu menjunjung tinggi adanya aspek kegotongroyongan. Rupanya, hanya ada di negara kita, jiwa gotong royong bisa benar-benar terwujud tanpa pamrih.

Berbeda dengan di luar negeri yang setiap orang bisa saling mendatangi karena adanya kepentingan.

Di negara kita, orang bisa saling mendatangi karena adanya kepedulian, rasa handarbeni atau memiliki satu sama lain dan satu saudara.

Itu pulalah salah satu jiwa Orde Baru yang begitu riil ditinggalkan hingga hari ini.

***
Satmoko Budi Santoso, redaktur Cendana News

Kisah

TV Umum, Menyatukan Kekerabatan Masyarakat

SAYA kebetulan dilahirkan pada 1976 di sebuah kabupaten nun terpencil di Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu di Kulon Progo. Ketika saya masih SD, ada keterbatasan fasilitas di dalam keluarga saya. Saya tidak mempunyai televisi yang layak, bagus untuk ditonton.

Jadilah saya kerap numpang nonton televisi di rumah tetangga, rumah teman, dan yang paling berkesan adalah menonton televisi di halaman kantor Departemen Penerangan yang letaknya tidak jauh dari alun-alun Wates, ibu kota Kabupaten Kulon Progo.

Acara-acara tertentu saya tonton di situ, terutama malam hari, bersama kakak saya. Lebih banyak saya nonton jika pas malam libur sekolah.

Misalnya Minggu libur sekolah, malamnya saya puaskan nonton televisi di halaman kantor Departemen Penerangan itu.

Dari tempat itulah saya mengenal ragam karakter masyarakat yang juga datang menonton televisi dengan hanya mengenakan sarung sekadarnya, datang naik sepeda, ada juga yang datang naik becak, dan sebagainya.

Dari tempat itu pulalah saya mengenal adanya sikap toleran, saling tenggang rasa, dan yang tak kalah penting mengenal alamat rumah sejumlah orang yang datang.

Ketika saya sudah menginjak bangku SMP dan SMA, saya sudah jarang nonton televisi di situ. Di rumah sudah ada televisi. Namun, ternyata, saya merasakan ada yang berbeda ketika hanya menonton televisi di rumah. Soal kehangatan dalam bermasyarakat, kehangatan dalam kekerabatan, seperti ada yang hilang dengan serta merta.

Barulah saya sadar bahwa meskipun hanya berupa kotak ajaib bergambar bernama televisi ternyata mampu membangkitkan kebersamaan yang luar biasa. Kebersamaan untuk saling peduli dan terus membangun komunikasi.

Beberapa kenalan warga yang saya jumpai ketika nonton televisi di halaman Departemen Penerangan itu, bahkan masih terus saya singgahi rumahnya ketika saya sudah menginjak bangku SMA. Di situlah salah satu nilai penting yang saya junjung tinggi.

Masa Orde Baru, bagi saya ketika masih SD, SMP, hingga SMA menyisakan kenangan yang begitu berkesan. Televisi umum itu adalah salah satu cara, sebuah jalan komunikasi antarwarga kampung yang cukup efektif.

Sambil nonton televisi, sesekali antarwarga bisa saling bercerita tentang kemajuan kampungnya. Misalnya sedang mempersiapkan acara tujuh belasan, mau ada acara lomba ini, lomba itu, dan seterusnya.

Ketika saya sudah menginjak bangku kuliah saya teringat begitu banyak cendekiawan yang mengutip pemikiran Ben Anderson, salah seorang Indonesianis asal Amerika, yang ketika meninggal abunya dikebumikan dengan cara disebar di Laut Jawa.

Pemikiran Ben Anderson yang kerap dikutip adalah tentang the imagined community, perihal komunitas yang dibayangkan. Sebuah pemahaman yang menurut saya mencari gambaran idealisasi komunitas yang baik, yang kondusif dalam membangun kebersamaan, saling memberi dan menerima, menjadikan semuanya maju.

Sungguh, saya baru sadar, sebelum Ben Anderson merumuskan hal itu, tidak perlu jauh-jauh dalam sebuah lingkup menonton acara televisi bersama, sejumlah orang bisa menciptakan adanya komunitas yang ideal tersebut, yang saling mendukung satu sama lain, bisa saling memberi semangat untuk maju bersama. Nilai komunikasi kondusif antarwarga adalah poin utama.

Oleh sebab itu, jika pada masa Orde Baru pembangunan di tengah masyarakat begitu gencar dan relatif tanpa gejolak, tentu itu salah satunya karena pemahaman mengenai visi peduli dan kebersamaan sudah terbangun dalam lingkup yang mendasar, sudah mulai dari akar, dalam komunitas-komunitas kecil yang bisa berawal dari kumpul menonton televisi di halaman Departemen Penerangan tersebut.

Begitulah, menurut saya, salah satu sumbangan penting masa Orde Baru yang tak mudah dilupakan.

***
Satmoko Budi Santoso, redaktur Cendana News