Opini, Piye Kabare

Raslina Rasidin : Masyarakat Harus Jeli Menilai Rekam Jejak Caleg

SOEHARTONESIA.COM

Jakarta – UU No. 2 Tahun 2008 mengamanahkan pada parpol untuk menyertakan keterwakilan perempuan minimal 30 persen dalam pendirian maupun kepengurusan di tingkat pusat.

Angka 30 persen ini didasarkan pada hasil penelitian PBB yang menyatakan bahwa jumlah minimum 30 persen memungkinkan terjadinya suatu perubahan dan membawa dampak pada kualitas keputusan yang diambil dalam lembaga publik. Namun, hingga pileg 2014 lalu keterwakilan perempuan di DPR masih belum bisa terpenuhi.

“Tidaklah gampang untuk bertarung dalam politik, sudah 3 periode undang-undang untuk Quota 30 persen perempuan, tetapi hal tersebut tidak pernah terpenuhi,” ujar Raslinna Rasidin artis yang juga politisi Partai Berkarya pada saat memberi sambutan di acara Ngaji Politik Bersama Majelis Talim se-DKI di kediaman Ustadzah Hj. Umamah di Jl H. Saidi Guru, Jakarta Selatan, Minggu 10 Februari 2019.

“Untuk di Dapil DKI 3 contohnya , Dapil saya, ujar Raslina, tiga periode Pileg, Caleg perempuan justru tidak pernah menang, padahal untuk kepentingan perempuan akan bisa maksimal aspirasnya tersampiakan jika disuarakan oleh kaum perempuan.”

Di hadapan ratusan ibu-ibu Majelis Taklim se -DKI Jakarta itu, Caleg DPR-RI Dapil DKI-3 Tersebut juga menegaskan bahwa : “tentunya dengan semakin banyak perempuan menjadi angota DPR, maka kepentingan perempuan juga akan bisa lebih terwakili,” tegasnya.

Raslina menambahkan, “yang terpenting dalam menentukan pilihan pada pileg 2019 ini adalah bagaimana masyarakat menilai karakter Calon Legeslatif (Caleg ) dari Visi Misi yang disampaikan pada setiap Sosialisasi yang dilakukan para Caleg, bukan memilih karena terpengaruh oleh iming-iming rupiah yang tidak seberapa nilainya.”

Selain itu, menurut Duta Kemanusiaan Internasional itu : “masyarakat harus dengan jeli menilai rekam jejak Caleg, bagaiman Prestasi dan Keperdulian Caleg pada kegiatan-kegiatan Sosial kemasyarakatan, karena dengan menilai rekam jejak tentunya masyarakat menjadi memahami, mampu atau tidaknya seorang Caleg untuk menyuarakan Aspirasi masyarakat saat ia duduk di DPR jika terpilih.”

Acara yang juga dihadiri oleh kandidat DPD-RI untuk Dapil DKI-Jakarta, Alwiyah Ahmad, juga menekankah agar setiap anggota
Majelis Talim bisa turut memberi pemahaman kepada masyarakat akan bahaya praktek politik uang yang tidak hanya akan menjadi tindak pidana bagi pemberi tetapi juga penerimanya.

Acara yang juga dihadiri putri Imam Besar Habib Riziek Sihab itu ditutup dengan Doa Untuk Bangsa agar senantiasa terhindar dari musibah dan diberikan keselamatan, kesehatan, serta kesejahteraan bagi masyarakatnya. (Red)

Piye Kabare

Menjawab Kerinduan Masyarakat Akan Figur Pak Harto, Bapak Pembangunan

Hakikat politik adalah ilmu Sosial kemasyarakatan, namun selama ini pemahaman masyarakat umum terkait politik lebih kepada nada-nada minor (negatif), trik dan intrik. Tentunya, upaya untuk meluruskan pemahaman yang salah harus terus diaktualisasikan dengan beragam teknik.

Kerja-kerja politik dari politisi maupun partai politik sejatinya haruslah dirasakan masyarakat sejak awal melalui kegiatan-kegiatan sosial, sehingga masyarakat dapat menilai sejauh mana pemahaman politisi atau partai politik mengenai berbagai kondisi sosial di masyarakat.

Demikian yang ditangkap dengan menyimak pergerakan politisi-politisi Partai Berkarya. Partai baru yang digawangi putra-putri mantan presiden Soeharto itu terasa demikian elok berdansa di medan politik tanah air.

Belum usai kita simak bagaimana Hutomo Mandala Putra, atau biasa disapa Tommy Soeharto, ketua umum Partai Berkary itu beberapa kali menerjunkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat Kec Sumur, Banten.

Diantaranya, Tommy melalui perusahaannya, HUMPUS, membagikan ribuan tas sekolah dan keperluan anak sekolah berlogo Pancasila : “untuk mempertebal jiwa Pancasilais sejak dini,” ujar Tommy saat itu .

Demikian juga yang dilakukan Siti Hardianti Rukmana, akrab disapa mbak Tutut Soeharto, beserta adik bungsunya Siti Hutami Endang Adiningsih atau akrab Disapa Mamik Soeharto, yang masih meninggalkan kesan di masyarakat Tasikmalaya dan Garut terkait Kegiatan Sosial Operasi Katarak serta Santunan Kepada Masyarakat kurang mampu yang dikemas dengan humanis: “silahturahmi dengan masyarakat.”

Sebelumnya, Ibu Tutut Soeharto berdasarkan pantauan kami, dua kali turun untuk menemui masyarakat korban bencana Tsunami di Lampung: Sepuluh perahu nelayan dan berbagai bantuan kemanusiaan ia serahkan langsung ke masyarakat .

Demikian juga yang dilakukan Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, selain aktif terjun langsung dengan Rabu Birunya untuk mengkampannyakan pasangan Capres dan Cawapres Prabowo – Sandiaga Uno, Titiek hari ini, Minggu (3/2/2018) sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya, juga turun menyapa masyarakat Tanggerang Selatan, Banten.

Dalam rangkaian Turba tersebut, Titiek Soeharto menyerahkan bantuan Speaker kepada pengamen penyandang disabilitas dan juga menyerahkan Mesin Jahit kepada seorang penjahit keliling.

Penyerahan bantuan tersebut dilakukan pada saat menggelar pertemuan dengan kader Partai Berkarya di rumah salah satu artis yang juga simpatisan Partai Berkarya, Camelia Malik.

Tentunya kerja-kerja sosial seperti tersebut di atas-lah yang pada akhirnya akan mampu merubah paradigma masyarakat dalam menilai politik, politisi, maupun partai politik. Sejatinya, politik juga adalah persoalan momentum, dan tampaknya kali ini putra-putri pak Harto dengan kendaraan Partai Berkarya-nya sedang menjawab kerinduan masyarakat terhadap figur bapak Pembangunan itu. (Ardi)

Apresiasi, Opini, Piye Kabare

Popularitas Mentri Enggar Jauh di Bawah Dodol Garut dan Anies Baswedan

SOEHARTONESIA.COM

Oleh : Okky Ardiansyah
Analis Annas Digital

Masih tentang Garut. Kali ini Dodol dari Garut, yang saya yakini lebih terkenal daripada tukang cukur pak Jokowi yang lagi ngetop itu, ia juga orang asli Garut. Sama kayak Dodol.

Bahkan, Dodol Garut lebih terkenal dari pada Mentri Perdagangannya pak Jokowi, Enggartiasto Lukita
(Loe Joe Eng) atau akrab dipanggil Enggar, yang beberapa hari lalu mengatakan : “Dodol Garut cepat bulukan kalau pakai gula lokal.”
Berarti, harus gula impor ?

Selain populeritas, elektabilitas Dodol Garut pun jauh melesat di atas Mendag Enggar. Mungkin karena Mentri itu prestasinya ke atas, ke atasannya, manis.

Kalau ke bawah, ke rakyat, pahit. Impor beras menjelang Panen Raya misalnya, pahit. Sehingga wajar saja populeritas pun elektabilitasnya di masyarakat, jatuh. Dodol garut, mau ke atas ke bawah tetap, manis.

Agaknya itulah yang membuat ia tidak terkenal. Buktinya, mas Sholokin Office Boy (OB) di kantor saya tidak pernah mendengar namanya. Apalagi nama Tionghoanya. Ya, mungkin karena mas Sholikin dan masyarakat kecil lainnya jarang merasakan manis dari kinerjanya.

Memang banyak yang bilang kalau Presiden Jokowi itu unik, tetangga saya sering bilang gitu. Mungkin itu sebab ia suka Mentri mentri yang unik-unik, bahkan ada yang ajaib. Salah satunya mentri Perdagangan itu.

Belum lama, waktu itu harga beras sedang mahal-mahalnya, enteng saja dia mengatakan : “beras mahal, ya ditawar.” Plis dech pak Mendag !? Anda kan mentri !

“Kalau cuma modal ngomong gitu, saya juga pinter,” kata teman saya yang penjual Nasi Uduk, sambat (mengeluh) karena harga beras mahal, waktu itu.

Sampai-sampai teman saya itu yakin sekali bahwa kalau cuma dengan memberi solusi seperti itu, dia pun layak jadi Mentri. Saya yakinkan dia : modalnya bukan cuma itu, mas !! Sini, saya bisikin aja. Usai saya bisik-kin rahasi yang sebenernya sudah umum, dia pun mengangguk-angguk .

Di era Presiden Jokowi memang banyak yang unik-unik. Pernah juga, waktu harga daging menggila ada mentri pak Jokowi yang menyarankan masyarakat untuk beralih mengkonsumsi Keong Sawah.

Waktu beras mahal, rakyat disuru Diet. Waktu terungkap ada cacing di dalam kaleng Ikan Sarden, tidak masalah : “cacing itu juga mengandung protein,” kata bu mentrinya pak Jokowi, kala itu.
Unik kan?

Anehnya, Mentri nya yang tidak unik justru oleh pak Jokowi diberhentikan, seperti : Anies Baswedan. Sekarang Gubernur DKI. Anies padahal sangat jarang sekali di exspose media besar. Tapi anehnya dia terkenal. Ngetop. Loh ? Bahkan sangking ngetopnya, masyarakat menyebutnya bukan lagi Gubernur DKI, Anies Gubernur Indonesia !

Anies jelas lebih terkenal dari Enggar Lukito, tapi mungkin terkenalnya ke bawah, ke rakyat. Kalau ke atas dia kurang terkenal, mangkanya jarang di expose media besar.

Anies cenderung kerja dalam hening tetapi nyata. Tak seperti Gubernur sebelumnya, Ahok, brisik. Yang terbaru, prestasinya membawa DKI Jakarta masuk dalam peringkat ke-47 Smart City Government pada 18 Januari 2019. Peringkat DKI setingkat dengan kota Paris di posisi ke-46. Dari 10 indikator. Dan masih banyak lagi penghargaan lainya .

Ex Mentri Jokowi yang tidak unik ini juga tidak hanya mikir Jakarta. Ia usai menyerahkan bantuan kemanusiaan kepada korban gempa di Lombok, sebesar 38 milyar rupiah. Fix, Gubernur Indonesia.

Padahal mantan bosnya, sampai hari ini masih ditagih janji-nya yang akan memberikan bantuan kepada korban Gempa Lombok, senilai : 50 juta untuk yang rusak parah, 25 juta yang rusak sedang, dan 10 juta untuk yang rusak ringan. Tapi, sepertinya sampai sekarang belum juga dicairkan.

Rasanya rakyat bisa menilai rekam jejak. Negeri ini sedang butuh pemimpin unik dengan mentri-mentri nya yang unik-unik, apa yang seperti pak Anies Baswedan, yang tidak unik? Mumpung sebentar lagi pemilu, monggo dipikir lagi.

Opini, Piye Kabare

Orang Garut Bukan Cuma Pemangkas Rambut

 

SOEHARTONESIA.COM

Oleh : Okky Ardiansyah
Analis Annas Digital

Jika ada yang menyebut Garut sebagai salah satu daerah terbesar pemasok pemangkas rambut di Indonesia, maka anggapan itu tak salah. Hampir di sebagian besar sudut kota-kota di Indonesia, kita dapat dengan mudah menemukan pangkas rambut, Asgar–singakatan Asli Garut. Mulai dari yang kelas biasa hingga yang membuka layanan di Mall dengan sewa tempat puluhan juta per bulannya.

Beberapa hari yang lalu saya sempat membaca Stiker unik di sebuah Mall di Jakarta : “Van Garut Barber Shop” telah hadir di lantai enam. Disain stikernya keren, hitam berpadu silver. Sangat terasa jika dikerjakan profesional, good.

Sehari usai debat pilpres, saya membaca artikel pada media On line : Presiden Joko Widodo menghadiri acara cukur masal yang digelar Persaudaraan Pangkas Rambut Garut (PPRG) yang berlangsung di kawasan wisata Situ Bagendit Kabupaten Garut. Jokowi ikut berpartisipasi untuk dipotong rambutnya.

Pada acara Debat Pilpres sesi pertama, memang selain saya memuji pakaian yang dikenakan pak Jokowi, kemeja putih yang walaupun terlihat sederhana namun tak bisa menyembunyikan kesan bahwa kemeja itu sangatlah mahal.
Kemeja yang dikenakan Jokowi sangat cocok dengan model rambutnya, simple. Pak Jokowi berhasil menampilkan kesederhanaan, namun berkelas. Selain kedua hal itu, kemeja dan gaya rambut, tak ada yang perlu saya puji, secara keseluruhan penampilan saat sesi paparan ataupun tanya jawab, Jokowi payah. Keindonesiaannya hilang, ia terlalu agresif

Walaupun tukang pemangkas rambut Jokowi sejak ia menjabat Gubernur DKI adalah orang Asli Kabupaten Garut, Garut adalah momok mengerikan buat Jokowi. Pada pemilu 2014 lalu ia kalah telak dengan Pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, yang mampu meraih suara sekitar 70,12 persen dari jumlah pemilih di Kabupaten Garut, sebanyak 1.250.119 jiwa. Pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla hanya memperoleh 29,88 persen suara.

Untuk pilpres 2019 ini, mampukah Jokowi membalik keadaan ? Khususnya di Kabupaten Garut. Tentu sulit bagi kita untuk tidak mengartikan bahwa turut berpartisipasinya  Jokowi dalam acara cukur masal bukan merupakan upaya pencitraan dalam upaya meraih simpati masyarakat Garut.

Namun bagi saya, gaya pencitaraan model seperti itu sudah habis daya magisnya-nya. Kini, masyarakat lebih riil, yang dinilai adalah hasil capaian selama Jokowi memimpin, dan cara-cara demikian tidak signifikan lagi digunakan untuk mengangkat elektabilitas Jokowi.

Buktinya : Pak, pilih siapa, Jokowi atau Prabowo? Jelas Prabowo lah,pak! Kenapa ? “Sekarang apa-apa mahal, pak,!” ujar penjual es yang juga rombongnya tersebar luas di Jakarta dan banyak daerah di Indonesia : rombong “Es Teler Sinar Garut.” Ga percaya ? Silahkan tanya sendiri.

Piye Kabare

Selamat Datang Pak Prabowo, Kali Ini Panggung Milik Anda

 

SOEHARTONESIA.COM

Oleh : Okky Ardiansyah
Analis Annas Digital

Ketenangan Patahana tak dimiliki Jokowi, ia menyerang bak Banteng terluka, itu bukan tipikal patahana yang sukses dalam memimpin, ia tak mengexplore data. Pertahanan terbaik adalah dengan menyerang, bisa jadi itulah yang sedang dimainkan tim dibelakangnya.

Hal ini sebenarnya tak aneh, jika kita ikuti bagaimana gaya pendukung Jokowi maupun tim pemenangannya dalam banyak kesempatan debat di televisi, tak jarang menyerang personal untuk menutupi substasi yang hendak diangkat lawan debat.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pemerintahan Jokowi juga ditopang dengan banyak media arus utama yang selama ini dinilai tidak netral, salah satunya sebut saja Metro TV, misalnya, yang sangat jelas dalam pemberitaan tidak menerapkan keberimbangan. Banyak kegagalan dalam lima tahun pemerintahan yang tidak terekspose dengan jujur.

Pola-pola semacam ini agaknya digunakan dalam konsep Debat Pilpres sesi pertama yang hingga hari ini masih menyisakan komen beragam di media sosial pun di media arus utama .

Saya menilai dari pola-pola jawaban yang digunakannya, bahkan dibeberapa sesi sangat terasa tidak tepat (tidak nyambung) dengan pertanyaan yang diajukan Prabowo. Bluffing (menggertak) dalam forum hal demikian sangat wajar, bagi praktisi forum pasti memahami .

Dalam sebuah sesi ketika ia mengatakan tidak memiliki beban masa lalu, hal tersebut justru menggabarkan bahwa ia hendak lepas dari beban berbagai kegagalan dan janji kampanya 2014 yang tidak terpenuhi, tentunya hal itu menjadi pokok utama pembahasan tim debatnya, dan munculah kalimat tersebut yang harus diucapkan : “saya tidak memiliki beban masa lalu.”

Kalimat itu Sangat terasa dipaksakan dalam momentum penggunaan-nya, relatif tidak nyambung untuk menjawab pertanyaan Prabowo, saya menilai Jokowi tak berdebat, ia sedang berkampanye malam itu.

Saya merasa kehilangan Jokowi yang 2014 lalu dengan keluguannya mampu mencuri hati rakyat indonesia. Kini, saya menyaksikan senyum sinis tersungging dari bibirnya, mungkin berlebih jika saya gunakan kalimat bengis, namun jujur, itu yang saya rasakan. Saya tidak pernah menduga ia akan memunculkan ekspresi bibir miring sinis itu.

Malam itu saya menyaksikan Prabowo justru begitu berbeda, ada ketenangan SBY kini tampak di dirinya, ketenangan yang mampu menyihir rakyat Indonesia dengan persona kewibaawaannya.

Saya kehilangan Jokowi, kehilangan ke-Indonesiaan yang dahulu walapun mungkin itu semu tapi mampu ia tampilkan dengan sempurna. Selamat datang pak Prabowo, panggung kali ini milik anda.