Referensi, Sosial

Sepintas Mengenali Komunisme, Agar Lebih Waspada !

SOEHARTONESIA.COM

Dalam Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, dijelaskan bahwa komunisme adalah sebuah ideologi. Penganut paham ini berasal dari Manifest der Kommunistischen yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, sebuah manifesto politik yang pertama kali diterbitkan pada 21 Februari 1848, teori mengenai komunis sebuah analisis pendekatan kepada perjuangan kelas (sejarah dan masa kini) dan ekonomi kesejahteraan yang kemudian pernah menjadi salah satu gerakan paling berpengaruh dalam dunia politik. Komunisme Karl Marx banyak disebut sebagai komunisme utopia.

Landasan filsafat lahir dan berkembangnya komunisme dapat ditelusuri melalui buku Das Capital dan Manifest der Kommunistischen (Manifesto Komunis) yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels. Konsepsi dasar filsafat ini menguraikan konsepsi terbentuknya masyarakat/negar komunis, antara lain :

1. Historis materialisme. Bahwa sejarah umat manusia ada/lahir adalah dari hal-hal yang bersifat materi/benda, sehingga mengingkari hal-hal yang bersifat immateril (ghaib). Inilah latar belakang berkembangnya faham atheis (atheisme).

2. Dilektika materialisme, sebagai koreksi terhadap dialektika idealisme Hegel. Hukum sebab akibat yang menjelaskan bahwa sesuatu yang ada dalam kehidupan masyarakat, disebut sebagai sebuah THESA, yang akan selalu melahirkan ANTITHESA, yang akhirnya terbentuklah SINTHESA. SINTHESA akan menjadi THESA baru, yang akan melahirkan ANTITHESA baru dan juga SINTHESA BARU. Contoh masyarakat industri melahirkan kaum capital/pemilik modal, sebagai THESA yang akhirnya melahirkan kaum proletar/buruh sebagai ANTHITESA, melalui proses dialektik akan melahirkan masyarakat tanpa kelas (masyarakat komunis) sebagai suatu SINTHESA.

3. Class Struggle (Pertentangan antar kelas). Dalam masyarakat industri yang telah terbangun kelas PEMILIK MODAL (Kaum Kapital) dan BURUH (Kaum Proletar) akan berlangsung pertentangan kepentingan yang berangkat dari prinsip keadilan dan kesejahteraan yang tidak berimbang antar kaum pemilik modal dan kaum buru. Dalam premis pertentangan antar klas ini, untuk memperuncing konflik antara kaum proletar dengan kaum capital, ada proses yang disebut coocentia, yakni proses penyadaran secara total-struktural kepada kaum proletar (buruh) bahwa mereka adalah korban penindasan atau tindak kesewang-wenangan para pemilik modal (kaum kapital) atas tragedi kemanusiaan, yang telah melahirkan kemiskinan terstruktur.

4. Revolusi. Akibat proses coocentia secara terus-menerus, maka pertentangan kelas yang berlangsung antara butuh dan pemilik modal semakin meruncing, dan selanjutnya akan terjadilah revolusi sosial yang menuntut dihilangkannya struktur sistem sosial (untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas), karena sistem yang lama telah mengakibatkan terjadinya ketidakadilan sosial, dan melahirkan kemiskinan terstruktur secara masif.

5. Runtuhnya sebuah negara. Paska revolusi maka negara yang telah berperan besar terhadap pembentukan struktur sistem sosial dan kelas-kelas sosial, akhirnya tidak diakui keberadaannya dan lambat laun akan runtuh, di mana sistem sosial yang baru tanpa adanya kelas-kelas dalam masyarakat telah lahi, terbentuk dan masing-masing elemen/unit dari sistem sosial yang ada akan berjalan sesuai fungsinya tanpa otoritas negara.

6. Berkembangnya sosialisme. Masyarakat dan sistem sosial yang tanpa kelas akan berjalan sesuai tuntutan kehidupan sosial dengan landasan kebersamaan dan keadilan sosial (sosialisme) versi Marx dan Engels dalam rangka mewujudkan kesejahteraa dan keadilan sebagaiamana diyakini oleh pengikut faham ini.

7. Terbentuknya komunisme. Masyarakat komunis akan terbentuk dengan sendirinya, dengan prinsip dasar KEADILAN YANG MERATA, KESETARAAN HIDUP, SAMA RASA SAMA RATA untuk KEPENTINGAN BERSAMA sesuai pandangan Marx dan Engels.

Sebabagai mana disebut di atas, bahwa komunisme Karl Marx bersifat utopia dan tidak pernah ada/lahir/terbentuk menjadi ideologi sebuah negara. Dalam perkembangan sejarah komunis selanjutnya, komunisme yang berkembang saat ini sudah merupakan penjabaran dan penggabungan pemikiran untuk merealisasikan komunisme sebagai ideologi pada suatu nation-state, seperti Marxisme-Leninisme yang pernah dilaksanakan di Uni Sovyet, Marxisme-Maotsetungisme yang berlaku di Tiongkok (Cina) dan lain sebagainya.

Komunisme di Indonesia

Kelahiran komunisme di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari hadirnya orang-orang buangan politik dari Belanda dan mahasiswa-mahasiswa lulusannya yang berpandangan kiri, seperti Sneevliet, Bregsma dan Tan Malaka. Gerakannya dimulai dari Surabaya pada diskusi intern para pekerja buruh kereta api Surabaya, dan melebarkan pengaruhnya dengan membangun sel-sel dalam Ormas perjuangan yang ada saat itu, seperti Ormas Sarekat Islam, yang akhirnya terbelah. Salah satu anggota yang terkenal adalah Semaoen, Ketua Sarekat Islam Semarang. Partai Komunis Indonesia (PKI) sendiri didirikan oleh sosialis Belanda, Henk Seevliet tahun 1914 dengan nama Indies Social Democratic Association (dalam bahasa Belanda: Indische Sociaal Democratische Vereeniging, ISDV).

Mencermati sejarah bangsa Indonesia, pemberontakan PKI pernah terjadi, baik masa sebelum maupun sesudah proklamasi kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945, di mana yang pertama terjadi tahun 1926-1927 dengan kekalahan di pihak PKI. Pemberontakan yang kedua, pada era Perang Kemerdekaan tahun 1948 (PKI Madiun), gerakan PKI bangkit kembali dengan kedatangan Muso secara misterius dari Uni Soviet. Muso dan DN Aidit serta pendukungnya ke Madiun mendirikan negara Indonesia yang berhaluan komunis. Divisi Siliwangi bertindak dan mengakhiri pemberontakan Muso. Pasca Perang Kemerdekaan,

PKI menyusun kekuatannya kembali, dengan mencetuskan Gerakan 30 September, yang telah melakukan pembantaian di luar batas kemanusiaan terhadap para Dewan Jenderal, yang dikenal dengan 7 (tujuh) Pahlawan Revolusi. Gerakan ini akhirnya ditumpas habis oleh pemerintah, dengan ditetapkannya Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966, yang menyatakan bahwa Partai Komunis Indonesia sebagai partai terlarang, termasuk ajaran, paham komunis, Marxis, Leninis, dan Maois di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Era Pasca Reformasi, semenjak jatuhnya Presiden Soeharto, aktivitas kelompok-kelompok komunis, marxis dan haluan kiri lainnya, mulai kembali aktif di lapangan politik Indonesia.

Indikasi adanya kebangkitan kembali komunisme di Indonesia merupakan fenomena yang perlu mendapat perhatian secara serius oleh segenap elemen bangsa. Kekejaman dan kekejian komunisme dengan Partai Komunisnya (PKI) di masa silam tidak bisa dilupakan begitu saja. Kita sadar betul, bahwa komunisme sebagai sebuah ajaran dengan segala perjuangannya, akan tetap hidup dan terus menerus melakukan perubahan untuk menemukan momentum melakukan kebangkitan kembali. Kewaspadaan ini sangat penting, mengingat komunis adalah bahaya laten, yang sewaktu-waktu bisa muncul dan bangkit kembali. Seiring dengan reformasi yang terus bergulir saat ini, kesempatan tersebut telah dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk memunculkan kembali gagasan komunisme dalam berbagai bentuk, seperti berupaya dengan segala cara untuk menghapuskan TAP MPRS Nomor XXV Tahun 1966, dengan dalih kebebasan dan HAM.

Siapa Tan Malaka ?

Tan Malaka adalah sosok laki laki kelahiran Suliki, Sumatra Barat pada tanggal 02 Juni 1897 dengan nama asli Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka. Anak dari pasangan Rasad Chaniago dan Sinah Sinabur ini merupakan tamatan Kweekschool Bukit Tinggi pada umur 16 tahun di tahun 1913, dan dilanjutkan ke Rijks Kweekschool di Haarlem, Belanda. Setelah lulus dari Rijks Kweekschool, Tan Malaka kembali ke Indonesia dan mengajar di sebuah perkebunan di Deli, dari sinilah Tan Malaka menemukan ketimpangan sosial di lingkungan sekitar dan muncullah sifat radikal Tan Malaka

Tan Malaka merupakan sosok yang memiliki sifat sosialis/komunis dan politis. Pada tahun 1921 dia pergi ke Semarang untuk mulai menerjuni dunia politik. Kiprahnya dalam dunia politik sangat mengesankan. Hal ini didukung dengan pemikiran Tan Malaka yang bobot kualitas tersendiri. Dalam bukunya yang berjudul MADILOG (Materialisme. Dialektika dan Logika) terlihat benar ideologi Tan Malaka, sebagai pengikut komunis yang fanatik. Dalam MADILOG, bagaimana Tan Malaka telah menjabarkan konsepsi komunisme Karl Marx ke menjadi model komunis Indonesia, sebagaimana Lenin yang menjabarkan komunisme Karl Marx menjadi model komunisme Uni Sovyet/Rusia, dan Mao Tse Tung menjabarkan komunisme Karl Marx menjadi model komunisme Cina.

Namun demikian, Tan Malaka tidak sejalan dengan pandangan Alimin, Muso maupun Darsono. Komunisme yang dikembangkan Tan Malaka, menurut hemat penulis, lebih mengarah pada gerakan revolusi intelektual, sebagaimana Karl Marx, sementara tokoh PKI lain seperti Alimin, Muso, Darsono dan lain-lain lebih cenderung ke revolusi fisik yang akan memakan korban kemanusiaan sangat besar. Namun tujuan akhirnya, keduanya tetaplah sama, yakni terbentuknya masyarakat Indonesia yang berhaluan komunis. Tan Malaka terbunuh di Kediri Jawa Timur pada tanggal 19 Februari 1949. Sebagian besar hidupnya dalam pengusiran dan pembuangan di luar Indonesia. Pendidikan Tan Malaka di Kweekschool Bukit Tinggi (1913) dan Rijks Kweekschool, Haarlem Belanda. Karier Guru dan Pemimpin Partai Komunis Indonesia. Hal itu jugalah yang membedakan ideologi Bung Karno sebagai seorang sosialis-nasionalis dengan Tan Malaka yang berideologi komunis.

Melawan Lupa dan Sikap Waspada

Dewasa ini, seringkali kita dihadapkan dengan fenomena di media massa, khususnya media elektronik untuk melawan lupa, yang diusung oleh kelompok-kelompok tertentu terkait dengan hal-hal yang melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Momentum bulan September, biasanya dimanfaatkan sebagai salah satu kegiatan yang tepat untuk melancarkan aksinya, karena fakta kegagalan Kudeta yang dilancarkan PKI, dengan Gerakan 30 S/PKI 1965 yang silam. Dari kegagalan tersebut, terlihat jelas bila PKI telah berusaha memutarbalikkan fakta sejarah, bahwa G 30 S/PKI bukanlah gerakan komunis yang hendak kudeta namun aksi perebutan kekuasaan para Jenderal TNI AD dan lain sebagainya.

Komunisme Gaya Baru (KGB) yang kini banyak mengusung ajaran dengan ‘label’ sosialis-demokrat, bahkan berupaya keras untuk mencabut Tap MPRS Nomor XXV/MPRS/1966, yang menyatakan PKI sebagai partai terlarang dapat segera dihapuskan, yang mana melalui TAP tersebut itulah telah dikeluarkan Keputusan Presiden RI No. 1/1966, tentang pembubaran PKI termasuk semua organisasi yang bernaung di bawahnya baik dari tingkat pusat maupun daerah. Kelompok KGB tersebut terus berupaya keras dengan berbagai alasan, seperti penegakan HAM dan demokrasi, agar dihapuskan. Hal seperti inilah yang perlu kita waspadai bersama.

Waspada terhadap bangkitnya PKI di Indonesia tidak boleh dianggap sepele dan ringan. Generasi saat ini belum banyak tahu dan paham tentang PKI. Banyak kalangan muda/mahasiswa yang lahir di era Gen Y (generasi Y) sekitar tahun 80 dan Gen Z (generasi Z) sekitar tahun 90an yang begitu mudah terpengaruh ajaran-ajaran sosialis-demokrat sebagai faham komunis gaya baru (neokomunis), karena ketidaktahuannya terhadap fakta sejarah bangsa secara benar. Ada seorang tokoh PKI yang telah sadar, pernah berucap; Jika ada anak muda tidak terpengaruh ajaran sosialis-komunis setelah mempelajari ajaran ini, maka ia termasuk anak muda yang “BEBAL”. Namun jika dia sampai tua dan setelah mengalami pergolakan pemikiran yang panjang masih tetap komunis, maka dia termasuk orang yang “SANGAT BEBAL”.

Kehebatan komunis dalam memasuki alam bawah sadar generasi muda kita yang tidak tahu persis akar sejarah bangsa, sungguh luar bisa dan menuntut sikap waspada dari kita bersama. Hal ini tampak, ketika Putri Indonesia 2015, Anindya Kusuma Putri di Vietnam bulan Februari 2015 lalu, berfoto selfie pada akun instagramnya dengan bergaya sambil menggunakan topi caping, kaca mata hitam, kaos berwarna merah berlambang palu arit. Setelah heboh, foto tersebut kemudian dihapus diinstagramnya, dan Anindya pun berdalih bahwa itu hanyalah souvenir kenang-kenangan dari peserta Putri Vietnam.

Gambar palu arit sebagai lambang PKI memang tidak banyak diketahui oleh generasi masa kini. Namun demikian, beredarnya gambar ini di Indonesia selama ini tidak serta merta muncul sendiri, tetapi dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu. Tahun 2005 lalu, di Pasar Jatinegara misalnya telah ditemukan kaos bergambar palu arit. Gambar palu arit juga ditemukan April 2006, pada kaos siswa SMU 71 di Menteng, Jakarta, dan celana olahraga milik siswa SMP 79 Menteng Jakarta, Kemudian diikuti dengan penemuan lukisan/gambar palu arit di sejumlah jalan di kota Bogor dan lain sebagainya.

Tahun 2002 lalu, anggota DPR ketika itu, Sdri. Ribka Tjiptaning dengan bangganya menulis buku “Aku Bangga jadi Anak PKI”. Buku itu mencerminkan bahwa PKI adalah tetap PKI, sehingga cap dan trade mark anak PKI adalah sebagai kebanggaan, yang tidak akan pernah surut dan sirna. Dari pengakuan tersebut, tak heran jika kelompok-kelompok tertentu telah bermunculan. Pertemuan-pertemuan yang mengatasnamakan para korban 1965 dan mantan anggota Gerwani di Bandung, pertemuan dengan dalih membahas koperasi di Cipanas, pertemuan di Blitar, dan pertemuan dengan keturunan keluarga eks anggota PKI di Banyuwangi tahun 2010, pertemuan eks dan keluarga tahanan politik 1966 di padepokan Santi Dharma, Dusun Bendungan, Desa Sidoagung, Kecamatan Godean, Sleman, 27 Oktober 2013, serta diskusi yang bertema “Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia Jilid 4 di Jalan Stonen 29, Semarang 17 Februari 2014 adalah tanda-tanda gerakan sistematis untuk membangkitkan kembali komunisme di Indoneisa.

Fenomena pertemuan-pertemuan tersebut digunakan sebagai langkah konsolidasi, menyatukan visi perjuangan untuk melawan lupa, dan semuanya itu ingin melihat respon yang timbul di tengah masyarakat. Kegiatan kelompok tersebut akan terus berlanjut dan akan semakin meningkat eskalasinya, untuk memperjuangkan aspirasinya, khususnya melalui caleg-caleg yang memiliki garis keturunan keluarga eks PKI.

WASPADALAH….bila kita tidak ingin terjebak pada kehancuran NKRI !

(Dimas Bintang Nagara)

Referensi

Popularitas Partai Berkarya Runner Up Setelah PDIP

Popularitas Partai Berkarya Runner Up Setelah PDIP berdasarkan Data Google Trend

SOEHARTONESIA- Google Trends merupakan grafik statistik pencarian web yang menampilkan popularitas topik pencarian pada kurun waktu tertentu.

Hasil pencarian dapat ditampilkan menurut kota, wilayah atau bahasa. Berita-berita terkait topik yang menjadi tren juga ditampilkan di sini.

Dengan google trend pengguna bisa membandingkan topik-topik favoritnya dengan topik-topik yang diminati di seluruh dunia.

Di Google Trends seseorang dapat mencari tahu seberapa banyak orang mencari kata kunci yang dipakai dan dari mana asal orang yang mencari.

Berdasarkan data Google tersebut maka Khoiril Anwar, Digital Analist AnNas Consultan mencoba membuat perbandingan hasil survei yang dilakukan oleh LSI yang menghitung tingkat elektabilitas partai-partai peserta pemilu 2019 berdasarkan metode wawancara dengan 1200 responden.

Hasil survei LSI mengatakan: jika pemilu diselenggarakan saat survei dilakukan, ada sejumlah partai tidak lolos ambang batas parlemen.

Kemudian berdasarkan itu kami coba melakukan analisa terkait popularitas partai dan fokus pada partai-partai yang tentunya menurut hasil survei Denny JA lolos Parliamentary Threshold 4 persen yaitu: PDIP, Demokrat, Gerindra, dan Golkar. Kami coba membandingkan dengan salah satu partai yang dikandidatkan tidak lolos oleh hasil survei LSI, yakni Partai Berkarya.

Berdasarkan data Google Trend, kami mencoba mengambil sampel popularitas ke 5 partai tersebut berdasarkan jumlah pencarian di Internet di 10 provinsi dengan kurun waktu 12 bulan terakhir.

Berdasarkan hasil penelusuran google trend pencarian informasi di internet secara nasional dikuasai oleh PDIP.

Kemudian, Analis Annas mencoba melakukan simulasi perbandingan antara partai-partai yang dalam survei LSI dinyatakan lolos dengan Partai Berkarya yang dinyatakan Tidak lolos ambang batas parlemen 4 persen, kami merangkum data untuk pencarian di 10 provinsi di Indonesia untuk kurun waktu pencarian selama 12 bulan terakhir.

  1. Papua Barat: Berkarya 50%, PDIP 50%.
  2. Bangka Belitung: Berkarya 32%, PDIP 50% Demokrat 18%.
  3. Bengkulu: Berkarya 25%, PDIP 58%, Demokrat 17%.
  4. Sulawesi Barat: Berkarya 18%, PDIP 82%.
  5. Gorontalo: Berkarya 20%, PDIP 55%, Demokrat 25%.
  6. Jawa Timur: Berkarya 13%, Golkar 6%, PDIP 60%, Gerindra 8%, Demokrat 13%.
  7. Jawa Barat: Berkarya 14%, Golkar 7%, PDIP 61%, Gerindra 8%, Demokrat 10%.
  8. Jawa Tengah: Berkarya 13%, Golkar 7%, PDIP 63%, Gerinda 7%, Demokrat 10%.
  9. Kalimantan Timur: Berkarya 14%, Golkar 6%, PDIP 56%, Gerindra 8%, Demokrat 16%.
  10. Sumatera Barat: Berkarya 17%, Golkar 12%, PDIP 47%, Gerindra 11%, Demokrat 13%

Pengguna Internet Berdasar Wilayah

Mengacu pada data APJII (Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia) mengenai jumlah pengguna internet di pulau Jawa : 57,70 persen dari jumlah keseluruhan penduduk di pulau Jawa. Di pulau Sulawesi 46,70 persen dari keseluruhan jumlah penduduk di pulau Sulawesi. Pulau Sumatera 47,20 persen dari seluruh penduduk Pulau Sumatera. Maluku – Papua sejumlah 41,98 persen dari jumlah keseluruhan penduduk.

Berdasarkan data tersebut maka kesimpulan yang kami peroleh: Partai Berkarya yang dalam hasil survei LSI dinyatakan tidak lolos justru menjadi Runner-up dalam tingkat popularitas pencarian berdasarkan analisa google trends di 10 provinsi yang kami cantumkan di atas.

Penetrasi Internet di Indonesia

Kami pun melakukan analisa jumlah pengguna internet di keseluruhan provinsi di Indonesia. Berdasarkan data APJII dari 262 juta jiwa populasi terdapat pengguna internet aktif sejumlah 143,26 juta jiwa atau setara 54,68%, hasil kesimpulan posisi tingkat popularitas dari ke lima partai yang kami analisa berdasarkan data google trend disandingkan data APJII tidak jauh berbeda hasilnya dari analisa awal (10 sampling provinsi yang kami cantumkan di atas).

Partai Berkarya yang dinyatakan memiliki elektabilitas rendah sehingga dalam Survei LSI disimpulkan tidak lolos justru memiliki popularitas tertinggi ke dua setelah PDIP.