Apresiasi, Tokoh

Tommy Soeharto Dikukuhkan Sebagai Anak Adat Sentani

SOEHARTONESIA.COM

Ketua Umum Partai Berkarya, Hutomo Mandala Putra atau akrab disapa Tommy Soeharto dikukuhkan sebagai anak adat Sentani, dengan ditandai penyematan Noken oleh Abhu Afaa di Kampung Kehiran Satu, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Selasa (11/12).

Ketua Dewan Adat Suku Sentani, Demas Tokoro mengatakan, Tommy Soeharto diangkat menjadi seorang anak adat Sentani di tiga kampung yaitu di Keluarga Simporo, Babrongko dan Yoboi itu diangap positif dan sah.

“Siapa saja yang datang meminta untuk masuk mejadi keluarga itu sah, apalagi dilakukan pengalungan noken oleh Abhu Afaa. Jika sudah diangkat menjadi bagian dari masyarakat adat di tiga kampung ini, itu sudah diangap sah,” kata Demas Tokoro.

Demas Tokoro mengatakan, pada saat penanaman sagu, yang menjadi sebuah simbol dan akan menjadi hutan sagu, ini akan menjadi hal yang luar biasa bagi suku Sentani.

“Dalam sejarah orang Sentani tidak pernah ada orang pendatang oleh Ketua Umum Partai Berkarya, Tommy Soeharto untuk lakukan penanaman sagu. Ini baru pertama kali bisa melakukan penanaman sagu di tempat ini,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Partai Berkarya, Tommy Soeharto menyampaikan berterimakasih atas Ondoafi Sentani yang telah mengangkat menjadi anak adat Sentani.

“Atas diangkatnya saya menjadi anak adat Sentani menjadi nilai tambah masyarakat Papua pada umumnya dan pada khususnya di Sentani,” katanya.

Selain itu, Tommy Soeharto menjelaskan, akan melakukan program percontohan bagaimana bertani yang baik dan pengelolaan sagu yang baik dan berternak yang baik, sehingga kemudian hari kesejahteraan itu akan terwujudkan di Sentani.

“Potensi yang besar di Papua, tetapi selama ini belum ada perubahan nyata, untuk bagaimana meningkatkan kesejahteraan rakyat di Papua, karena kebanyakan memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Ini sangat tidak mendidik masyarakat, harusnya membuat program ekonomi kerakyatan untuk dapat memberikan kemajuan bagi masyarakat,” ujarnya.

Putra mantan Presiden RI Soeharto ini menambahkan, ekonomi kerakyatan adalah dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat, sebetulnya untuk memberikan pendampingan bagaimana mengelola sagu lebih terbaru sehingga memberikan nilai tambah yang maksimal.

“Bagaimana mengelolah sagu dengan baik, mengelola padi dengan baik dan bagaimana cara berternak yang baik, untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya.

Sosial, Tokoh

Tutut Soeharto : Pesantren Merupakan Benteng Moral dan Sumber InvestorDalam Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

SOEHARTONESIA.COM ,-Pernyataan PolitikSiti Hardijanti Rukmana atau akrab disapa Tutut Soeharto memberikan sambutan dalam peresmian berdirinya Rumah Sehat di Komplek Pondok Pesantren Al-Ishlah, Bondowoso, Jawa Timur, Sabtu 3 November 2018 pekan lalu. Dalam sambutannya, Tutut menuturkan bahawa pesantren merupakan benteng moral dan sumber investor dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. “Pesantren sebagai sebuah sistem pendidikan khas Indonesia merupakan benteng moral bagi bangsa, dan salah satu sumber investor dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujar Tutut dalam kesempatan tersebut.

Putri mantan Presiden RI ke 2 HM. Soeharto ini juga mengungkapkan bahwa dahulu banyak pesantren dipersepsikan sebagai lingkungan yang standar kesehatannya kurang bagus. Namun, sekarang kini sudah banyak pesantren dikelola dengan manajemen yang semakin baik, sebagaimana Ponpes Al-Ishlah ini. “Bahkan, kini mendirikan Rumah Sehat untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi keluarga besar pondok pesantren dan masyarakat sekitar,” ungkap Tutut.Selain itu, Tutut pun berharap, Rumah Sehat KH Muhamad Ma’shum ini dapat semakin berkembang dan menjadi inspirasi bagi pesantren-pesantren lainnya dalam menyelenggarakan lingkungan pendidikan yang dikelola dengan baik. “Pendidikan pesantren yang dikelola dengan baik, akan melahirkan berbagai sumber daya pembangunan yang semakin baik pula.

Selamat berkarya untuk bangsa, dan semoga keluarga besar pondok pesantren dan masyarakat sekitar semakin sehat,” tegas Tutut.Pesantren Al-Ishlah, sebagimana disampaikan Siti Hardijanti Rukmana, pertama kali didirikan oleh KH Muhammad Ma’shum di atas lahan seluas setengah hektare, pada tahun 1970, dan diberi nama Pondok Pesantren Miftahul Ulum. Artinya, ‘kunci ilmu pengetahuan’. Namun pada tahun1973, namanya diubah menjadi Ponpes Al-Ishlah, yang berarti ‘perbaikan’, dan luasannya berkembang menjadi 10 hektare. “Dan, Ponpes Al-Ishlah sebagaimana pondok pesantren lain di Indonesia pada saat ini, tidak hanya mengajarkan pendidikan agama, namun juga mengajarkan wawasan pengetahuan sebagaimana pendidikan formal, sekaligus melengkapi peserta didiknya dengan keterampilan,” ungkap Tutut.

Berkarya.id

Apresiasi, Tokoh

Senyum yang Menyiratkan Ketenangan Jiwa

SOEHARTONESIA.COM

Menilik era pemerintahan orde baru kita teringat dan tak lepas dari sosok figur tokoh negarawan kita Bapak HM.Soeharto, seorang tokoh yang murah senyum dan dekat dengan rakyatnya.

Sosok seorang bapak yang hangat dengan keluarga, dan sangat menghormati orang tuanya, pemimpin negara dengan kharisma yang begitu besar tidak hanya ditakuti lawan tapi juga dihargai, negarawan yang sangat memahami tutur pituah dan filosofi serta adat budaya bangsanya, tidaklah heran apabila beliau dijuluki _”Smilling General”_ karena keteduhan wajahnya yang selalu menampilkan senyuman khasnya disetiap kesempatan.

Karakter tersebut terbentuk dari banyak petuah dan filosofi adat budaya ketimuran (jawa) yang didapat dari bimbingan orang tuanya semenjak kecil dan menjadi pegangan teguhnya selama hidup, beberapa filosofi jawa bahkan sering kali beliau ucapkan sehingga menjadi trend dilingkungan anak buah dan pejabat pemerintahannya seperti pribahasa _”Ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman”_ atau _”Mikul dhuwur mendem jero”_ dsb.

Keyakinan beliau dengan memaknai arti pribahasa dan filosofi budaya asli bangsa Indonesia itu yang membentuk kepribadian dan sikap pak Harto dalam memimpin negara, sebuah perpaduan kepribadian antara kualitas intelektual dan kultur.
Sebuah kepribadian yang penuh ketenangan, kebijaksanaan, dan kharisma, sungguh kita diajarkan dan diperlihatkan sebuah Ilmu Ketenangan Jiwa Tingkat Tinggi seorang Tokoh Bangsa yang memiliki jiwa Nasionalis.

Opini, Tokoh

Sontoloyo Gendruwo, Keywords dan Menari di Gendang Lawan

 

Oleh : H. ANHAR, SE 

Ada perbedaan mendasar untuk menciptakan kualitas kontent dan search engine di optimalkan secara efisien. Dalam rangka menggunakan seo dengan benar terlebih dahulu harus mengetahui keyword yang akan di pakai. Lalu anda juga perlu mengetahui seberapa baik keyword tersebut bekerja untuk anda.

keyword itu sendiri adalah kata atau frase yang di ketik user di search engine guna menemukan info khusus pada sebuah situs website. Kata kunci yang anda pilih di halaman web mesti merinci info yang ada hubungan nya dari kata kunci tsb dengan kata lain merupakan gambaran langsung dari isi halaman tsb, bukan unsur dari kata-kata acak ataupun yang tidak ada urusan dari informasi tersebut. Apabila keyword memiliki kelebihan kata, maka anda tak akan memperoleh hasil yang maksimal dari tehnik SEO anda.

Dari beberap strategi keyword yang paling banyak digunakan ialah volume keyword dalam suatu halaman web ialah tak lebih dari 21–22. Sebab mesin pencari dapat mengabaikan kata kunci apa saja yang melebihi dari volume 22 kata.
keyword masing-masing dihitung sebagai 1 kata. frase kunci, di sisi lain pun di hitung 1, tak peduli berapa kata-kata yang diinclude.

Misalnya jika anda seorang politisi caleg dapil Banten maka Keyword bisa menjadi Banten yang akan dikalkulasi sebagai 1. Tetapi anda juga dapat memiliki frase “Caleg Berkarya Banten,” kunci yang juga akan dikalkulasi satu meskipun setiap frase kunci dihitung sebagai satu kata. Kuncinya anda harus ke point, tetap pendek dan tanpa kata-kata berlebih.

Hal ini lah yang juga tampak sedang dimainkan oleh tim kampanye digital Jokowi – Maaruf sehingga belakangan ini kita sering sekali mendengar stetmen-stetmen nyeleneh dari pak Jokowi, misalnya frase Sontoloyo atau Genderuwo.

Bagi kami di AnNas Digital, tim Digital Jokowi – Maaruf juga sedang memainkan keywords dengan menggugah rasa penasaran masyarakat terkait dua frase kalimat itu.

Maka, silahkan dicoba ketik dua frase kalimat tersebut. yang diperoleh dari hasil pencarian dengan frase itu adalah pemberitaan terkait segala aktivitas Jokowi, tentunya hal itu sangat menguntungkan pasangan Jokowi-Maaruf.

Begitu juga jika frase kita gabungkan, misalnya : Genderuwo naik Choper , atau naik Sepeda, maka frase tersebut kembali mengarah kepada paslon Jokowi-Maaruf, karena frase-frase singkat tersebut identik dengan mereka.

Tentunya hal ini akan merugikan pasangan Prabowo – Sandi yang sejauh pengamatan kami tidak bermain di ranah keyword. Malah, justru para pendukung Prabowo – Sandi turut mempopulerkan frase Genderuwo dan Sontoloyo.

Bagi kami hal itu merupakan kekalahan bagi pendukung Prabowo – Sandi di dunia maya , mereka tidak bergendang sendiri untuk mempopulerkan frase yang identik dengan Prabowo tetapi ikut menari dalam irama gendang yang dimainkan tim kampanye digital Jokowi-Maaruf .

Apresiasi, Tokoh

Mayjend Soengkono, Pejuang 10 November dari Purbalingga, Tanpa Gelar Pahlawan

SOEHARTONESIA.COM

Oleh Ahmad Zaki Nur Ihsan

Belum lama ini, Presiden Joko Widodo menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada enam tokoh melalui Keputusan Presiden Nomor 123/TK/Tahun 2018 tanggal 6 November 2018. Hal ini, tentunya untuk menyambut peringatan hari Pahlawan Nasional pada setiap10 November. Sebuah hari untuk memperingati perjuangan arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan Kedaulatan Republik Indonesia di kota Surabaya dari invasi serangan NICA pada saat itu. Menurut beberapa catatan, ada lima tokoh yang dianggap berperan penting dalam peristiwa 10 November 1945 tersebut. Antara lain Bung Tomo, Moestopo, Mohammad Mangundiprojo, Abdul Wahab sebagai fotografer, serta Mayor Jenderal TNI Soengkono.

Pertempuran besar 10 November 1945 di kota Surabaya sebagai salah satu perang revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang keberhasilannya tercatat dalam tinta emas sejarah bangsa, juga merupakan andil besar Mayjen Soengkono, salah satu putra terbaik bangsa kelahiran kota Purbalingga-Jawa Tengah. Sebagai warga Negara Indonesia yang memiliki banyak leluhur di Kebumen, Banjarnegara, serta Purbalingga, dalam tulisan ini, saya ingin memberikan apresiasi besar kepada Mayor Jenderal Soengkono yang dilahirkan pada tanggal 1 Januari 1911 di Purbalingga Kidul Kabupaten Purbalingga sebagai putra kedua pasangan Ki Tawireja dan ibu Rinten.

Purbalingga dikenal sebagai kota kelahiran jendral Sudirman juga sebagai tempat kelahiran Sungkono. Menurut beberapa kesaksian, Sejak kecil, Sungkono telah terlihat jiwa kepimpinannya. Ini karena Sungkono terinspirasi oleh jiwa kepemimpinan Sukarno. Pada tahun 1929, Sukarno berkunjung di gedung Muhammadiyah Purbalingga, Sungkono senantiasa memperhatikan Sukarno ketika berpidato.

Bila dibandingkan dengan nama Bung Tomo, sosok Sungkono barangkali asing di telinga publik. Mesin pencarian Google bahkan gagal menjumpai sosok kolonel berjasa tersebut di halaman utama. Dari 173 pahlawan nasional, ditambah 6 pahlawan nasional yang baru ditetapkan Presiden Jokowi pada Kamis (8/11), juga tak ada nama Sungkono.

Padahal, menurut sejarawan Australia Frank Palmos, Sungkono memiliki porsi yang besar lantaran mengorganisir tentara dalam pertempuran tersebut. Secara gamblang, Palmos menyatakan, dalam komentarnya di Surabaya 1945: Sakral Tanahku, “Benar adanya bahwa pidato-pidato malam berapi-api yang dibawakan Bung Tomo menggugah semangat para pejuang, sekaligus menjengkelkan bagi Inggris, tapi beliau hanya berpidato bukan mengatur tentara di medan laga.”

Dalam penelitian Palmos, persediaan senjata yang dimiliki Arek Suroboyo dalam menghadapi Inggris pun tak lepas dari campur tangan Sungkono. Sejak September 1945, ia memimpin perjuangan rakyat Surabaya untuk melucuti senjata milik Jepang di Gubeng. Selama bertempur itu pula, Sungkono memiliki kebiasaan unik. Menurut keterangan putri pertama Sungkono, Andijani Sungkono, ayahnya kerap menggunakan baju hasil jahitan sendiri. Kini, nama Sungkono benar-benar hilang dari kesadaran publik. Jejaknya luput dari 179 nama pahlawan yang telah ditetapkan. Meski demikian, namanya terpatri sebagai Jalan Mayjen Sungkono. Jalan itu yang menjadi pembuka bagi siapa pun yang ingin berkunjung ke Taman Makam Pahlawan 10 November.

Sebelum melakukan penyerangan di Surabaya, Sungkono sempat bertemu dengan Sudirman dalam waktu yang singkat, selama 15 hari, sewaktu di Kediri. Ketika Bahaya mengancam Kediri, Belanda merencanakan penyerbuan dari tiga jurusan terhadap kota itu, yakni dari jurusan Kertosono, Nganteng, dan Blitar. Sungkono dan Sudirman, sebelumnya telah melakukan pembicaraan langkah-langkah apa saja yang dilakukan dalam menghadapi berbagai serangan NICA pada waktu itu.

Tidak bisa disangkal, peristiwa 10 November 1945 tidak bisa lepas dari peran Sungkono saat itu sebagai komandan pertahanan kota Surabaya, melalui pidatonya pada tanggal

9 Nopember 1945 yang memicu semangat arek-arek Surabaya dalam mengahadapi sekutu. Namun, hingga saat ini, sosok Sungkono merupakan tokoh kunci terlupakan yang belum mendapatkan pemberian gelar pahlawan nasional dari pemerintah Republik Indonesia.

Peranan yang dilakukan Sungkono pada masa kemerdekaan sebagai komandan pertahanan kota

Surabaya diawali dari kondisi situasi kota Surabaya tahun 1945. Ketika Sungkono menjadi komandan BKR Kota Surabaya, maka yang dilakukan guna menampung timbulnya BKR-BKR di beberapa tempat bagian kota, lantas Sungkono membagi Surabaya atas 6 Sektor, masing-masing sektor memiliki 2 kompi. Antara lain Sektor Kaliasin, Sektor Baliwerti, Sektor Temban, Sektor Sambongan, Sektor Gubeng, dan Sektor Peneleh.

Sejak September 1945, Sungkono memimpin perjuangan rakyat Surabaya menghadapi tentara Jepang dalam mengambil alihan kekuasaan, sekaligus ikut dalam melucuti senjata Jepang. Sebelumnya, Sungkono telah memerintahkan anggota BKR untuk memotong semua jalur komunikasi darat untuk mencegah Kempetai.

Sungkono juga terlibat dalam peristiwa pelucutan senjata di markas Kaigun Jepang di Gubeng. Markas Kaigun Jepang merupakan kesatuan Jepang yang terkuat saat itu di Surabaya, khususnya dalam persenjataanya, dan paling banyak angotanya bermarkas di Asrama Kaigun tersebut. Sebagai komandan BKR kota Surabaya, Sungkono bertanggung jawab atas pertahanan dan keamanan seluruh kota. Dengan cara, kota harus dipertahankan dari usaha pendudukan oleh musuh. Menurut Sungkono, kota harus diduduki secara de facto maupun de jure. Pendapat

sungkono mendapatkan dukungan secara penuh dari para pemuda dan badan-badan perjuangan. Ini didasarkan sosok Sungkono yang memiliki kepribadian pemimpin yang tenang dan berjiwa besar. Saat itu, BKR Kota menguasai jalur logistik, sehingga dapur umum-dapur umum bekerja dengan baik.

Pidato Kebangsaan Seorang Soengkono

Perlu diketahui, kebanyakan anak muda dan pembaca generasi yang lebih tua mungkin tidak mengetahui bahwa dua dari sejumlah pidato terbaik, yang paling penting dalam sejarah Republik Indonesia itu dibuat pada sore dan malam hari Jumat tanggal 9 November 1945. Yang pertama dibuat oleh Kolonel Sungkono muda.

Selama ini, buku-buku sejarah memberi tahu kita tentang pidato Bung Karno muda di pengadilan Bandung, Indonesia Menggugat, di hari-hari sebelum kemerdekaan. Pidato ini pada akhirnya membawanya ke penjara dan membuatnya diasingkan beberapa kali. Mereka juga mengetahui pidato singkat Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, di Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jalan Proklamasi), Jakarta. Namun, belum ada kemerdekaan bulat di Jakarta. Sekutu masih mengendalikan Jakarta (mereka masih menyebutnya Batavia), Bogor, Bandung, Cirebon, Medan, dan Semarang. Surabaya adalah satu-satunya kota yang bebas dari pengawasan Sekutu, sejak 22 Agustus sampai akhir November 1945.

Para arek Surabaya ini berhasil mengalahkan Jepang, mencopot mereka dari jabatan administrasi, mengambil 90 persen senjata mereka, mengontrol media, komunikasi, kereta api dan transportasi jalan, listrik, gas dan air, serta rumah sakit. Mereka menempatkan tentara Jepang di kamp-kamp untuk dikirim pulang dan tentara Jepang yang menolak akan dibunuh. Ditambah lagi, Inggris membuat kesalahan dengan menduduki Surabaya pada 27–28 Oktober. Tentunya, kehadiran tentara Inggris di Surabaya mengancam kedaulatan RI dan para pemuda Surabaya mencoba untuk mempertahankan kedaulatan tersebut. Tanggal 28 Oktober 1945 bentrokkan antara pemuda Surabaya dengan tentara Inggris tak terelakkan.

Akibatnya, pada 28–29 Oktober pasukan arek Surabaya bersama warga lain menyerang tentara Inggris dan memecah belah mereka, membunuh beberapa ratus tentara Inggris, dan menggiring tentara Inggris kembali ke kapal mereka. Tujuan Inggris adalah untuk mendirikan pemerintahan NICA. Jika mereka bisa menguasai Surabaya dengan cepat, seluruh Nusantara yang tadinya melawan akan menjadi koloni Belanda di Hindia Belanda.

Sehari setelahnya, Presiden Soekarno tiba di Surabaya dan bersepakat untuk gencatan senjata, namun semangat pemuda Surabaya dalam bertempur telah berkobar dan sulit dihentikan demi kedaulatan RI. Tepat tanggal 30 Oktober 1945 Brigjend Mallaby tewas secara mengenaskan dekat Jembatan Merah, Surabaya, di tangan pemuda Indonesia yang tidak diketahui identitasnya sampai saat ini.

Secara diam-diam, Inggris membangun kekuatan kembali, membawa kapal perang, tank, pengebom, dan ribuan pasukan pendukung. Mereka mengeluarkan ultimatum untuk rakyat Surabaya agar menyerahkan senjata mereka pada malam 8 November, atau menghadapi serangan besar. Kali ini, Inggris jauh lebih siap untuk serangan yang kedua kalinya.

Sebagai komandan BKR, Soengkono bertekad untuk mempertahankan Surabaya dari okupansi Inggris dan mendapatkan dukungan penuh dari pasukannya dan rakyat Surabaya. Kematian Mallaby secara mengenaskan juga membuat kemarahan Mayor Jenderal EC Mansergh pengganti Mallaby memuncak dan mengultimatum pasukan Indonesia di Surabaya pada tanggal 9 November 1945 untuk menyerahkan senjatanya tanpa sarat.

Rencana Inggris rontok oleh pidato singkat tetapi hebat yang disampaikan Kolonel Sungkono. Pada Jumat sore 9 November, di Jalan Pregolan No 4, dengan suara bulat dia terpilih sebagai Panglima Angkatan Pertahanan Surabaya. Pidatonya di hadapan ribuan arek Surabaya muda dan anak buahnya di Unit 66 pada malam serangan Inggris di Surabaya merupakan pidato yang bersejarah. Anak buahnya berperang menghadapi tentara Inggris terbaik yang memiliki senjata dan alat komunikasi modern.

Sementara itu, anak buahnya hanya maju ke medan laga dengan senapan mesin ringan, senapan laras panjang, granat, dan beberapa tank lama, serta bambu runcing. Bagi seorang militer yang serius, ini mungkin waktunya untuk menyerah. Sebaliknya, Sungkono justru mengatakan, “Saudara-saudara, saya ingin mempertahankan Kota Surabaya… Surabaya tidak bisa kita lepaskan dari bahaya ini. Kalau saudara-saudara mau meninggalkan kota, saya juga tidak menahan; tapi saya akan mempertahankan kota sendiri…”

Pada akhirnya, semua anak buahnya tetap tinggal untuk berperang. Mantan Jenderal Suhario, yang waktu itu masih mahasiswa berusia 24 tahun dan turut serta dalam pengepungan Polisi Rahasia Kempetai, mengenang sikap Sungkono malam itu. “Seperti biasanya, malam itu Sungkono tetap bersikap tenang selama melakukan inspeksi persiapan pertahanan. Dia datang ke markas saya di tengah malam, bersama dengan Kretarto dan tiga perwira. Dia bertanya, ‘Apakah kamu siap? Saya menjawab: ‘Ya! Siap!’”

Sungkono kemudian pergi ke kegelapan malam. Sungkono pergi mengelilingi kota malam itu, (memeriksa semua unit) menanyakan apakah mereka sudah siap. Bagi Sungkono, tak perlu lagi banyak bicara. Ini adalah masalah merdeka atau mati. Puji syukur, Surabaya bertahan selama lebih dari 20 hari. Setelah lima hari, Surabaya menjadi perhatian dunia. Setelah 10 hari, dana Inggris terkuras habis, dan korban perang di pihak Inggris sangat banyak. Tekanan internasional terhadap Belanda dan keberatan dari India menyebabkan Inggris mendesak Belanda untuk berunding dengan Republik Indonesia.

Karena pasukan Indonesia tidak menghiraukan ultimatum itu, maka Pada 10 November 1945, pecahlah pertempuran besar di kota Surabaya. Pertempuran tersebut banyak memakan korban jiwa dari kedua belah pihak, kurang lebih 16 ribu pejuang Indonesia gugur dan kemenangan menjadi milik pasukan Indonesia.

Bagaimanapun, pertempuran 10 November 1945 di Surabaya telah menyelamatkan Republik Indonesia. Benar, Sungkono dan anak buahnya akhirnya harus menarik diri ke perdesaan di Jawa Timur di akhir bulan, tetapi pada saat itu, Surabaya dan Republik Indonesia sudah dikenal di seluruh dunia.

Pada tanggal 3 Maret 1946, Soengkono diangkat sebagai Panglima Divisi VII TKR meliputi daerah Surabaya, Bojonegoro dan Madura. Di bulan Mei 1946, Soengkono menjadi Panglima Divisi VI TRI yang meliputi Surabaya, Madura dan Kediri dengan pangkat Kolonel dan ia kemudian menjadi Ketua Gabungan Pertahanan Divisi V, VI, dan VII Jawa Timur.

Peran Penting Sungkono dalam Menumpas PKI Musso di Madiun, 1948

Setelah jasa besarnya dalam pertempuran 10 November 1945, Kolonel Sungkono ditetapkan sebagai Gubernur Militer Jawa Timur pada tanggal 19 September 1948, atas prakarsa Panglima Besar Jenderal Sudirman, terutama dalam rangka penumpasan pemberontakan PKI-Muso dibawah tanggung jawabnya yang waktu itu resminya masih Panglima Divisi VI. Kepercayaan pemerintah terhadap penetapan Sungkono sebagai Gubernur militer Jawa Timur melalui pengiriman surat perintah yang dibawa oleh komandan Tjipto.

Saat itu, Komandan Tjipto bertemu langsung dengan Sungkono di markas Pertahanan Sungkono. Setelah diumumkan “Negara Dalam Keadaan Bahaya” dan kolonel Sungkono diangkat menjadi Gubernur Militer Jawa Timur, Angkatan Bersenjata dan rakyat Jawa Timur bertekad untuk menumpas pemberontakan PKI dengan kekuatan pasukan yang setia pada pemerintah RI dan mengamankan kembali Jawa Timur.

Setelah berhasil menyelesaikan pemberontakan PKI Musso Madiun tahun 1948, dalam rangka

Konsolidasi dalam segala lapangan Militer, berdasarkan keputusan Menteri Pertahanan Republik Indonesia No.A/532/42 tanggal 25 Oktober 1948 dihapuskan dan Komando Divisi I dibentuk. Susunan Komando Divisi I Jawa Timur diberi nama Brawijaya. Peresmiannya diadakan dalam suatu upacara militer tanggal 17 Desember 1948 dilapangan Kuwak, Kediri.

Keberhasilan Soengkono yang gemilang dalam menumpas pemberontakan PKI Madiun menghantarkan ia menjadi Panglima Divisi I Brawijaya Jawa Timur. Sebuah jabatan prestisius di kemiliteran sebagaimana agungnya nama Brawijaya sebagai sebuah dinasti di masa kerajaan Majapahit. Awalan ‘Bra’ atau ‘Bhre’ pada nama Brawijaya, mengandung arti Agung, sebuah gelar kehormatan yang diberikan kepada seorang pemuda ksatria, pendiri (negara) kerajaan Majapahit bernama Wijaya.

Bagi saya sebagai Pemuda masa kini, mengajak seluruh pemuda di Indonesia, khususnya di Purbalingga dan sekitarnya, untuk meneladani kepribadian Mayor Jenderal Soengkono yang berpendirian teguh, luas wawasannya, dan kritis terhadap situasi yang merugikan. Ia adalah putra Purbalingga, semoga surga Allah menjadi rumah abadi kemenangannya. Hingga saat ini, Mayjend Soengkono belumlah mendapat gelar Pahlawan Nasional, meski perannya sangat penting dalam merebut kemerdekaan, Semoga, tidak lama lagi, Mayjend Soengkono juga bisa mendapat gelar, sebagaimana yang didapatkan oleh dua putra Purbalingga lainnya, yaitu Panglima Besar Soedirman dan Usman Janatin.

Bagaimanapun, perjuangan dan pengorbanan Soengkono sangat layak untuk dicatat dan diberi tempat di seluruh sanubari bangsa Indonesia, meskipun saat ini masih belum diperhatikan dan agak dilupakan. Saya yakin, Mayjend Soengkono tidak mungkin dilupakan, hanya masih disembunyikan. Saya secara pribadi ingin memperjuangkan Mayjend. Soengkono agar bisa segera mendapat gelar Pahlawan Nasional, dengan mengajak seluruh rakyat Purbalingga dan sekitarnya, serta seluruh rakyat Indonesia, dalam satu barisan untuk mempertahankan kedaulatan NKRI yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.

*Penulis aktif di Jenderal Soedirman Center dan Terdaftar Sebagai Caleg DPR RI dari Partai Berkarya, Dapil Jateng VII (Kab. Purbalingga, Kebumen, & Banjarnegara)