Tokoh, Ulasan

INPRES SOEHARTO, Cegah Dan Selamatkan Anak Bangsa Dari Bahaya Narkoba

SOEHARTONESIA.COM

Jauh sebelum lahirnya Badan Narkotika Nasional (BNN), presiden Soeharto telah mencium aroma busuk akan datang pada suatu masa, dimana Bangsa ini akan terjangkit suatu penyakit masyarakat yang saat ini marak dan merajalela dan sangat sulit dibendung.

Pemerintah, pun masyarakat, seolah-olah kehilangan akal untuk memikirkan bagaimana cara menanggulangi deras nya gelombang bencana bahaya Narkoba di tanah air.

Sejarah penanggulangan bahaya Narkotika dan kelembagaannya di Indonesia dimulai tahun 1971 pada saat dikeluarkannya Instruksi Presiden Republik Indonesia (Inpres) Nomor 6 Tahun 1971 kepada Kepala Badan Koordinasi Intelligen Nasional (BAKIN) untuk menanggulangi 6 (enam) permasalahan nasional.

Berdasarkan Inpres tersebut Kepala BAKIN membentuk Bakolak Inpres Tahun 1971 yang salah satu tugas dan fungsinya adalah menanggulangi bahaya narkoba.

Bakolak Inpres adalah sebuah badan koordinasi yang beranggotakan wakil-wakil dari Departemen Kesehatan, Departemen Sosial, Departemen Luar Negeri, Kejaksaan Agung, dan lain-lain, yang berada di bawah komando dan bertanggung jawab kepada Kepala BAKIN. Berdasarkan kepres yang dikeluarkan pak Harto inilah kemudian menjadi cikal bakal berdirinya BNN (Badan Narkotika Nasional)

Kini, jika kita merujuk pada data BNN, tidak kurang dari 50 orang anak Bangsa mati setiap harinya.

Triliunan uang hangus terbakar dan ditelan oleh Narkoba.

Berbagai keributan, perceraian keluarga, bahkan hingga tindakan pembunuhan terjadi, disinyalir dilatar belakangi oleh penggunaan Narkoba. Tidak hanya itu saja, bahkan menurut satu kajian pakar ekonomi baru-baru ini, bisa dipastikan, eknomi bangsa ini pun akan lumpuh jika peredaran narkoba terus bertambah marak.

Di berbagai media, sering kali kita membaca berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menekan peredaran Narkoba.

Berbagai Undang-undang telah diterbitkan, namun kenyataannya, di lapangan, beratus-ratus TON barang haram Narkoba telah masuk ke Indonesia.

Upaya pemerintah dengan mengedepankan pemberantasan rasanya tidak membuahkan hasil yang menggembirakan, padahal disisi lain, jika kita melihat Negara dibelahan dunia lain, justru dalam penanganannya lebih kepada mengedepankan peran serta masyarakat dalam rangka menanggulangi bahaya narkoba itu, dan sudah nyata terlihat hasilnya, sangat menggembirakan.

Sebagai contoh, Portugal, negara di Eropa ini, bisa kita katakan hampir tidak ada lagi bisa kita dapati pengguna Narkoba yang mendekam dalam tahanan (penjara).

Sebagai latar, dunia mengenal masyarakat Portugal adalah masyarakat yang sangat patuh pada pemuka agamanya, dalam hal ini, Pastur, sebagai tokoh sentral yang sangat berpengaruh di masyarakat.

Jika seorang Pastur mengeluarkan perintah larangan, bisa dipastikan akan dipatuhi, bahkan cenderung ditakuti umat nya.

Harus kita akui, pemerintah Portugal sangat jeli, dengan melakukan pola mengedepankan peran Pastur dalam rangka pencegahan bahaya Narkoba, dan hasilnya, Portugal terbebas dari bahaya narkoba.

Sejarah Amerika dalam penanggulangan narkoba yang dulu nya mengedepankan penegakan hukum Represif, mengeluarkan uang biliunan dolar malah hanya menghasilkan Generasi Hipis. Korban penyalahgunan Narkoba justru dikriminalisasi, dipenjarakan, yang akhirnya justru menjadi tidak berguna dan bahkan dalam banyak kasus justru malah menghasikan peningkatan jumlah gelandangan, bahkan tak jarang, menjadi gila setelah keluar dari penjara.

Menyadari kekeliruan Pemerintah Amerika cepat membuat kebijakan Penanggulangan Bahaya Narkoba dengan mengedepankan pencegahan dengan pola “Parenting Skill” ; pembinaan keluarga adalah utama dalam penanggulangan Bahaya Narkoba.

Jika kita kembali menengok ke belakang, sejatinya apa yang dilakukan Pak Harto dengan membentuk Badan Kordinasi Pelaksanaan Inpres Nomor 6 (enam) tahun 1971 seperti yang saya paparkan di atas adalah cerminan bahwa beliau sebagai seorang pemimpin mengetahui betul dan sadar bahwa peran serta masyarakat dengan diawali dari rumah membuat ancaman bahaya Narkoba akan mampu dicegah.

Pembekalan ilmu agama, penanaman budi pekerti dan pembentukan Akhlak pada anak dalam rumah tangga menjadi sangat penting bagi keberlangsungan generasi penerus Bangsa.

Pendidikan budi pekerti dan Pendidikan moral Pancasila di sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai tingkat menengah, bahkan dilanjutkan mata kuliah Pancasila bagi Mahasiswa sebagai mata kuliah dasar umum, dan ternyata terbukti melahirkan generasi Bangsa yang tangguh dan tanggap terhadap perkembangan Zaman.

Kaitan dengan hal tersebut, terus terang, saya terperanjat ketika membaca salah satu butir pernyataan politik yang ditulis oleh Titiek Soeharto manakala ia memutuskan keluar dari partai Golkar, ia katakan, betapa prihatinya dengan

” Penyelundupan narkoba yg berton-ton jumlahnya, yang sudah pasti bisa menghancurkan bangsa kita… sungguh sangat menyedihkan, pemerintah tidak sedikitpun berkomentar tentang hal itu “

Sebagai penggiat masyarakat anti Narkoba, saya katakan, kondisi riil memang demikian adanya , bahkan lebih detail saya katakan, kita bisa saksikan pada akhir-akhir ini, bangsa kita dihadapkan dengan dekadensi moral, kehancuran akhlak dan budi pekerti kebobrokan moral anak bangsa sangat jelas dihadapan mata kita, yang disebabkan penyalah gunaan Narkoba, walaupun peran tokoh-tokoh Agama tidak kurang bahkan terlihat seolah-olah lebih hebat dari masa Pak Harto kala memimpin.

Adakah kiranya dibalik bencana narkoba ini ada sebuah rencana besar dari suatu Bangsa yang dengan sengaja ingin menghancurkan Bangsa Indonesia dengan menyusupi sistem dan birokrasi, sehingga untuk melakukan tindakan tegas terhadap negara yang terbukti dengan nyata warga negaranya melakukan tindakan penyelundup narkoba beratus ton ke Negeri kita ini menjadi sulit, adakah kiranya kekuatan besar melakukan tekanan sehingga para pemangku kekuasaan hanya mampu mengucapkan kalimat-kalimat normatif ,semacam “prihatin”, “mengecam keras” dan sebaganya, namun tanpa berani melakukan aksi nyata yang berarti.

Rasannya, kita sebagai rakyat tidak bodoh-bodoh amat untuk menilai bahwa ada dan nyata akan hadirnya para penghianat di organ vital bangsa ini.

 

H. Anhar, SE, MM
Ketua Umum Satgas Anti Narkoba

Apresiasi, Kisah, Tokoh, Ulasan

Bicara Rasa, Memang Pak Harto Beda, Jujur Kita Rindu

Jika dikatakan sebagai orang yang gagal move on, saya terima. Jika dikatakan orang yang tidak bisa memaknai kebebasan era reformasi, sayapun tak menampiknya.

Tentunya sebagai rakyat kecil saya tidak mampu menolak dengan argumen berbuih-buih. Saya tidak menolak pandangan mengenai kedua hal di atas karena sebagai rakyat kecil saya lebih banyak bicara mengenai apa yang saya rasakan, tidak bisa tinggi-tinggi berteory.

Lalu, jika saya ditanya mengenai bagaimana seorang pemimpin yang hebat dalam tataran ideal menurut saya, maka tentunya sebagai orang biasa-biasa, rakyat kecil Indonesia, maka, saya akan dengan tegas mengatakan : seorang pemimpin yang hebat itu, yang mampu memakmurkan masyarakatnya, dapat memberikan rasa aman, bisa menjaga kerukaunan di antara keragaman.

Jika saya ditanya kembali, siapa pemimpin yang demikian itu? Maka, kembali saya akan menjawab dengan rasa, namun kali ini saya akan membumbuinya dengan cinta. Semua ciri itu ada pada diri Pak Harto, presiden RI ke dua yang amat saya cintai.

Dua puluh tahun reformasi, ya, kebebasan, itu yang selalu di agung-agungkan. Padahal, saat pak Harto memimpin, saya sebagai rakyat kecil sama sekali tidak merasakan kebebasan saya terbatasi, dalam menjalankan ibadah keagamaan pun tak pernah saya merasakan keterkekangan, saya seorang penganut Katolik.

Lalu kebebasan macam apa yang bisa diartikan lebih baik itu ? Padahal hingga saat ini, saya belum bisa mengerti makna kebebasan itu dapat menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang saya rasakan saat pak Harto memimpin.

Ada sebagian orang mengatakan dengan nada satire “iya, enak zaman pak Harto, semua murah bahkan nyawamu pun murah”.

Orang-orang yang berargumen demikian itu biasanya mengkaitkan dengan kejadian PETRUS di era Pak Harto dan saya rasa dengan dibumbui sok tau yang tak berdasar.

Tentunya, kembali saya menjawabnya dengan rasa ;
la wong yang semacam itu, nyawa murah, saya tidak pernah merasakan kok. Kalau bensin murah, beras murah, dan Pak Harto murah senyum, iya, itu faktanya.

Kalau membahas permasalahan mengenai orang-orang yang diPETRUSkan, ya jelas lah, wong penjahat. Kalau saya kan bukan, saya masyarakat kecil yang justru nyaman dengan kondisi aman tentram saat itu, dan tentunya jutaan masyarakat indonesia juga merasakan yang sama dengan apa yang saya rasakan.

Terkadang saya jadi merasa aneh dengan orang-orang yang menyoal hal semacam itu, mereka memuji Duterte, presiden Filipina yang mengeksekusi dengan tegas, bahkan mengancam pengedar narkoba akan dijatuhkannya dari helicopter, tatapi disaat yang sama malah menyoal PETRUS, dilebelkan sebagai bentuk kejahatan Pak Harto.

Secara pribadi saat ini saya justru sangat prihatin dengan begitu dahsyatnya kejahatan, terutama narkoba, ratusan ton barang haram itu dapat masuk ke indonesia, kejahatan yang jelas-jelas menghancurkan generasi bangsa. Tetapi, amat jarang saya mendengar pernyataan tegas presiden terkait hal itu, apa lagi dalam bentuk tindakan seperti yang dilakukan presiden Filipina.

Lalu, salahkah jika saya kembali bicara dengan rasa. Sebagai rakyat kecil, sebagai orang tua, tentunya kami sangat menghawatirkan jumlah peredaran Narkoba semacam itu, dan lagi-lagi, tentunya rasa itu lah yang menuntun saya untuk membuat perbandingan-perbandingan dari era ke era kepemimpinan di negeri kita tercinta ini, dan jujur saya katakan, kami merindukan era kepemimpinan seperti era dimana pak Harto memimpin.

Saya masih rindu pak Harto

.

 

Salam Sejahtera
Fransiskus Widodo

@bengkeldodo

Ayah, suami dan mekanik kecil.