Apresiasi, Opini, Piye Kabare

Elektabilitas Junjungan Tiarap, Centeng Kumur- Kumur di Dalam Gelanggang

 

SOEHARTONESIA.COM

Oleh : H, ANHAR. SE
Politisi Partai Berkarya.
Anggota DPR-RI Priode 2004-2009

Beberapa bulan terakhir ini nama pak Harto kembali sering diucap kalangan politisi. Ada yang merindukan dan memuji beliau, dan yang terbaru muncul pernyataan sekjen PDIP yang meminta untuk mengaudit kembali harta kekayaan pak Harto.

Pernyataan itu menyusul pernyataan koleganya satu kandang yang mengatakan bahwa pak Harto sebagai bapak korupsi.

Jika kita cermati, pernyataan-pernyatan bernada minor itu sebenarnya hanya semacam kumur-kumur di dalam gelanggang saja.

Mengapa saya katakan demikian, tentunya tak lepas dari perjalan pasca reformasi 98 yang salah satu misi yang di-dengungkan adalah mengusut korupsi Presiden Soeharto. Namun, hampir 10 tahun berlalu, 4 presiden dan 8 jaksa agung gagal melakukannya.

Pertanyaannya, mengapa permintaan mengusut kekayaan Pak Harto tersebut tidak dilontarkan di awal pemerintahan Jokowi? Justru jelang pilpres 2019 di masa akhir jabatan kembali hal tersebut diungkit-ungkit.

Sebenarnya sederhana saja, setelah dua puluh tahun reformasi, hanya di era ini-lah kegagalan pemerintahan itu begitu terasa, sangat tidak seimbang dengan promusi masif yang dilakukan pemerintah melalui media.

Kenaikan harga bahan pokok, pelemahan nilai rupiah terhadap dolar yang tidak terkendali, import produk pangan ugal-ugalan yang tentu dampaknya sangat memberatka rakyat kecil dan petani.

Belum lagi kenaika bahan bakar minyak (BBM) yang tidak pernah permisi, tarif dasar listrik, dan terutama akibat lemahnya rupiah, ribuan pabrik terpaksa tutup sehingga berdampak pada peningkatan jumlah pengangguran.

Tentunya hal-hal seperti itu tidak lagi mampu ditutupi dengan berbagai berita cerita sukses. Toh, kenyataannya rakyat yang sudah sangat cerdas ini memahami bahwa terjadi peningkatan hutang dalam maupun luar negri yang luar biasa besarnya itu tetapi tidak berdampak kepada pengurangan tingkat kemiskinan dan ketersediaan lapangan kerja.

Masyarakat dihadapakan pada Kenyataaan hidup yang semakin sulit, dan hal itu berbeda dengan yang dirasakan saat kepemimpinan pak Harto. Di era kepemimpinan pak Harto, kemiskinan tahun demi tahun berkurang terus, fakta yang tidak dapat kita pungkiri. Walau belum habis, namun terus berkurang berangsur-angsur. Tidak seperti sekarang, yang terjadi justru sebaliknya.

Tentunya hal inilah yang menyebabkan romantisme era pak Harto tumbuh dan menjelma menjadi spirit perlawanan terhadap pemerintahan Jokowi .

Tentunya secara sosial politik hal demikian itu sangat merugikan pencitraan-pencitaraan ala pepesan kosong yang mereka propagandakan.

Dan, yang terjadi setelah dua puluh tahun reformasi, kini, nama Pak Harto berubah menjadi spirit perlawanan terhadap ketidak mampuan Rezim Jokowi memakmurkan rakyat.

Sehingga wajar kemudiaan kembali berbagai isu terkait pak Harto digulirkan dengan tujuan melegitimasi klaim keberhasilan pembangunan era Jokowi yang mati gaya ketika dibandingkan dengan era-era sebelumya.

Namun, sekali lagi saya katakan, rakyat sudah sangat cerdas. Masyarakat sudah memahami bahwa isu pemerintahan pak Harto yang dikatakan otoriter adalah tidak benar.

Rakyat sudah semakin tahu dan mempelajari betul-betul, bahwa negara yang terbelakang karena dijajah orang asing dulunya jika tidak dipimpin dengan cara yang terarah dan terkendali tidak mungkin bisa maju dan berkembang seperti yang mereka rasakan kala itu.

Faktanya, disegala bidang pembangunan terlaksana dengan baik, indeks kemiskinan menurun dan ketimpangan ekonomi tidak setinggi saat ini. Satu isu ternyata tak mempan, kembali coba digulirkan isu lain yakni, korupsi.

Padahal, bukankah empat presiden dan delapan jaksa agung sepuluh tahun lalu telah mencobanya, ada? Nihil.

Bahkan menurut sebuah artikel yang saya baca pada media on line, jumlah nilai anggaran yang digunakan untuk membiayai melacak Harta hasil korupsi yang dituduhkan tersebut dua kali lipat dari nilai korupsi yang dituduhkan kepada pak Harto, apa tidak konyol?

Ada baiknya sekjen PDIP Hasto dan Koleganya Ahmad Bashara sebagai elit partai pendukung Jokowi fokus saja untuk mendongkrak citra positif Jokowi yang semakin tiarap ini, jangan malah coba bermain di celah sempit yang sama sekali tidak mereka pahami.

1 thought on “Elektabilitas Junjungan Tiarap, Centeng Kumur- Kumur di Dalam Gelanggang

  1. Kegagalan pemerintahan sekarang terlalu signifikan. Terutama di bidang ekonomi.
    Sementara pak Jokowi sendiri kadang kaya yg kebingungan bila di tanya permasalahan yg sedang dia hadapi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: