Kisah

Selamat Berbelanja, Tidak Sekalian Isi Pulsanya? Kalimat Merayu dan KUD pun Koit

KUD di Era Soeharto dan di Era Now

“Era Reformasi bukan milik petani, pak “

~ Warga Tani Jawa Barat

Oleh : H. Anhar, SE, MM

Dalam sejarahnya di era Orde Baru KUD (Koperasi Unit Desa) adalah jenis koperasi yang sangat dianakemaskan oleh pemerintah. Ragam fasilitas digelontorkan guna mendorong pertumbuhan dan perkembangan KUD.

KUD adalah koperasi yang berinteraksi langsung dengan masyarakat luas, khususnya di pedesaan. Hal ini pulalah yang kemudian juga mendorong pemerintah era Soeharto untuk selalu memilih KUD sebagai perpanjangan tangan dalam menyentuh rakyat secara langsung lewat program-program berbasis kerakyatan.

Sejak Reformasi, pemerintahan terus berubah, mengalami dinamika, namun sangat disayangkan KUD yang semestinya menjadi semakin kekar dan dapat menjadi pusat pergerakan ekonomi masyarakat Desa justru satu per satu mati suri, bahkan lebih banyak lagi yang mati abadi.

Lalu partanyannya, apakah pemerintah setelah Orde Baru tidak berpihak kepada sistem koprasi ?

KUD di Era Soeharto

Infografis KUD, terbengkalai di era reformasi.
Infografis KUD, terbengkalai di era reformasi.

Koprasi sejatinya dalam tataran ideal adalah sebuah konsep yang lahir melalui kesepakatan orang-orang yang memiliki visi sama dalam membentuk kehidupan yang lebih baik dan berpengharapan melalui kolektivitas (kebersamaan).

Kemudian, mereka melakukan identifikasi masalah, peluang dan gagasan sebagai dasar perumusan cita-cita.

Dalam tahap perwujudannya, orang-orang tersebut menyatukan potensi dan energi yang dikemas menjadi formula distribusi efektif, penyediaan barang kebutuhan masyarakat yang pada akhirnya, koperasi akan memasuki wilayah capaian-capaian bertahap dan berkesinambungan untuk mencapai kehidupan sejahtera.

Sangat jelas dari sekelumit paparan di atas, sejatinya Koperasi adalah pola penerapan dari semangat ekonomi kerakyatan, dan hal inilah yang sangat dijunjung tinggi oleh Soeharto di era kepemimpinannya.

Soeharto bersungguh-sungguh menjalankan ekonomi kerakyatan sebagai pondasi ekonomi masyarakat untuk mempersiapkan Indonesia mencapai tinggal landas.

Namun apalah kini, Koperasi dan khususnya KUD yang seharusnya menjadi Benteng ekonomi masyarakat Desa justru tergerus sistem kapitalis yang gencar merambah ke desa-desa.

Kita sudah tak asing lagi dengan ribuan toko ritel berlebel mart yang berdiri megah di desa-desa.

Kemudian pertanyaanya, kemana alur perputaran keuangan yang dihasilkan dari desa-desa tersebut?

KUD di Zaman Now

Tentu saja kembali ke kota yang kemudian hasilnya hanya dinikmati beberapa gelintir pemegang modal saja, masyarakat desa hanya dianggap sebagai pasar potensial belaka.

Di sisi lain agaknya keberpihakan pemerintah kepada sektor pertanian yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat Desa pun belum sesuai dengan jargon ketika musim kampanye tiba, kita ketahui bersama bahwa import produk pertanian di era kini semakin menjadi-jadi.

Lalu, bagaimana mungkin masyarakat Desa akan mampu menegakkan leher untuk bersaing dengan kapitalisme itu, sedangkan pemerintah sendiri tidak berdiri disampingnya, sehingga wajar saja kemudian masyarakat Desa merindukan Soeharto.

Pada suatu kesempatan saya berbincang dengan warga tani di daerah Jawa barat, ia bercerita panjang lebar mengenai bagaimana mereka merasakan kenyamanan saat Soeharto memimpin, dan saya menyimpan dalam-dalam kalimat yang ia ucapkan saat menutup cerita panjangnya.

“Era Reformasi bukan milik petani, pak “, ujarnya yakin.

3 thoughts on “Selamat Berbelanja, Tidak Sekalian Isi Pulsanya? Kalimat Merayu dan KUD pun Koit

  1. Terinsfirasi jaman dulu,kita aplikasikan ke jaman now.kita sudah banyak mendengar keluhan petani sebagai masyaraka desa yg mayoritas di negeri ini..salam berkarya lebih mantap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: