Kisah, Opini, Piye Kabare

Masih Tentang Janji Jokowi

 

SOEHARTONESIA.COM


Oleh: Okky Ardiansyah
Analis Anas Digital

Provinsi Nusa Tenggara Barat terdiri dari dua pulau besar, Lombok dan Sumbawa. Suku Sasak adalah sukubangsa yang mendiami pulau Lombok.

Sebagian besar suku Sasak beragama Islam. Kehidupan Islami tercermin kental dalam keseharian masyarakat. Mushola – mushola kecil di tengah sawah atau dipinggir aliran sungai yang masih jernih, tak jarang kita temui.

Beralas sejadah tikar anyaman pandan sederhana, dihembus angin sawah, menghadap Illahi Rabbi serasa paripurna.

Tidak cukup dengan itu, Masjid masjid besar pun tampak berdiri kekar dan megah. Dengan jarak tidak terlampau berjauhan, kampung per kampung seolah berlomba membangun serta memperindah masjid nya. Pulau Seribu Masjid, sah.

Nusa Tenggara Barat sedang tumbuh dengan pesat. Pariwisata sebagai sektor andalan ke dua setelah pertanian menggeliat setelah lama tidur panjang .

Dulu, Joop Ave, mentri pariwisata menggalakkan “Visit Indonesian Years.” Di Era Pak Harto, Lombok-Sumbawa termasuk salah satu tujuan primadona pariwisata. Sempat terlelap kembali, sejak BIL (Bandara Internasional Lombok ) beroprasi, gairah usaha sektor pariwisata bangkit lagi.

Agustus 2018 lalu, gempa mengguncang Lombok – Sumbawa.Provinsi yang sedang elok-eloknya memoles diri ini harus kembali berjuang untuk bangkit. Tidak sedikit infrastruktur rusak, dan ribuan rumah penduduk roboh, rusak ringan maupun parah.

Presiden Jokowi dan jajarannya beberapa kali meninjau langsung daerah yang rusak parah terdampak gempa. Foto-foto epic beliau banyak beredar di sosial media maupun media arus utama.

Alhamdulilah, dari jauh saya menyimak melalui media, penanganan pemerintah terkait rehabilitasi pemukiman pun sarana prasarana termasuk sarana ibadah akan digenjot pembangunannya.

Sebagai putra Lombok, yang pernah tinggal dan tumbuh dewasa di pulau nan elok itu, saya turut bersyukur. Apalagi, presiden Jokowi dengan gamblang menjajikan bantuan kepada korban gempa dengan nilai nominal rupiah yang saya rasa cukup.

Janji Jokowi tersebut tertuang dalam Inpres Nomor 5/2018 dan Peraturan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 2/2018 tentang penggunaan dana siap pakai (DSP).
Dalam dua aturan dasar tersebut, dijelaskan besaran dana bantuan yang akan diterima masyarakat korban gempa, antara lain Rp 50 juta untuk kategori rusak berat, Rp 25 juta untuk kategori rusak sedang dan Rp 10 juta untuk kategori rusak ringan.

Pemimpin sejati tidak akan pernah ingkar janji, baik pada janji yang diucapkannya secara sadar, lebih-lebih janji yang dilontarkan kepada rakyat secara langsung lewat lisannya sendiri.

Dan, sebagai masyarakat berkultur agamis, masyarakat Lombok tentunya meyakini itu. Hal tersebut Menjadi panduan hidup untuk memilih pemimpinnya.

Tentunya di sisa waktu ini, masyarakat masih berharap janji Presiden Jokowi dapat direalisasikan, karena tentunya masyarakat akan menilai bahwa nilai utama seorang manusia terletak pada konsistensinya menepati janji (jujur).

Jika tidak, maka bisa jadi pak Jokowi akan dinilai masuk dalam ketegori sebagai seorang yang “Munapek” ( kalimat orang sasak untuk menyebut “Munafik “).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: