Opini, Tokoh

Prabowo Agaknya Perlu Membaca Kembali bab Khadijah dan Rasulullah

SOEHARTONESIA.COM

Oleh : H. ANHAR. SE. MM

Sejatinya pertarungan pilpres 2019 kali ini tidak hanya bicara untuk 5 tahun ke depan saja 2019 -2024 tetapi, lebih.

Pertarungan kali ini tidak bicara mengenai Jokowi Vs Prabowo saja tetapi bicara mengenai perebutan kekuasan untuk 15 tahun ke depan, bicara mengenai kontestasi tiga blok politik besar yang setelah berakhirnya Orde Baru tiga blok ini menguasai perpolitikan di Indonesia.

Megawati dengan PDIP nya, Prabowo dengan Gerindranya dan SBY dengan Demokratnya. Sementara Golkar lebih kepada mencari posisi Aman saja.

Saya menilai dengan terpentalnya Mahfud MD sebagai wakil Jokowi adalah upaya untuk menghadang kembalinya trah politik Gusdur di kancah perpolitikan Indonesia. PKB masih Cak Imin, fakta, persoalan Cak Imin dengan PKBnya akan berkibllat ke mana itu soal lain, dinamis.

Jika Jokowi ditakdirkan menang untuk 2019 tentunya PDIP selama 5 tahun akan lebih sibuk memparsiapakan kadernya untuk pillpres berikutnya, masa tugas untuk Jokowi sebagaimana yang sering disebut-sebut Megawati sebagai petugas partai sudah berakhir, telah 2 periode.

Pertarungan kali ini bisa menjadi pertarungan totalfootbal antara kedua kubu.

Di kubu Prabowo sendiri ,SBY, kali ini saya rasa cukup bijak dengan akhirnya mau mengalah untuk tidak memaksakan AHY menjadi Wakil Prabowo.

AHY tentunya akan dipersiapkan lebih matang untuk 2024.

Namun hal itu akan menjadi sulit bagi Demokrat jika kubu Prabowo kalah lagi untuk pilpres kali ini, karena saya merasa penjajakan Demokrat sebelumnya ke kubu Jokowi untuk memasangkan JKW -AHY tentunya sudah dibaca oleh PDIP sebagai upaya untuk mempersiapkan AHY di 2024 dan tentu saja Megawati tak mau kecolongan.

Realistis ┬áDemokrat masuk koalisi Partai – Partai pengusung Prabowo dan akan kerja total untuk memenangkan Prabowo-Sandi

Terlepas dari perjanjian apa dan apa dibelakang yang terjadi di koalisi partai pendukung Prabowo, dengan keluarnya Sandiaga Uno sebagai kader Gerindra maka sudah dapat dinilai bahwa hal tersebut adalah permintaan koalisi partai pengusung, posisi calon wakil presiden harus netral, bukan dari unsur partai. Tak ubahnya di kubu Jokowi.

Lalu bagaimana dengan langkah politik Prabowo?

Menurut saya, di sini Prabowo harus benar-benar jeli. Prabowo harus mampu menangkap apa yang disiratkan alam baginya jika benar segala niatnya adalah demi rakyat Indonesia. Prabowo harus bisa mengalahkan dirinya.

Kerinduan masyarakat akan Soeharto sebagai kekuatan politik itu nyata, dan harus dijawab tidak hanya dengan lips servis saja.
Menggalang doa rakyat kecil yang selalu terhantar bagi Soeharto dan keluarganya adalah kunci bagi Prabowo sebelum menggalang suara.

Dan bagi saya langkah awal untuk mejawab kerinduan rakyat itu adalah dengan kembali rujuk dengan Titiek Soeharto, sudah selayaknya itu terjadi. Bukankah Rasullulah juga menikahi Khadijah adalah sebaik-baik wanita yang mendukung Rasulullah dalam melaksanakan dakwahnya, baik dengan jiwa harta maupun keluarganya?

2 thoughts on “Prabowo Agaknya Perlu Membaca Kembali bab Khadijah dan Rasulullah

  1. Maaf sebelumnya. Saya pengagum mbak Titiek dan pak Prabowo. Tujuan penulis mungkin baik, untuk mempersatukan pasangan ini kembali. Tapi apapun menurut saya itu ranah pribadi mereka berdua. Biarlah mereka yg memutuskan mau bgmn. Kita2 yg di luar cukup mendoakan mereka saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: