Apresiasi, Kisah, Tokoh, Ulasan

Bicara Rasa, Memang Pak Harto Beda, Jujur Kita Rindu

Jika dikatakan sebagai orang yang gagal move on, saya terima. Jika dikatakan orang yang tidak bisa memaknai kebebasan era reformasi, sayapun tak menampiknya.

Tentunya sebagai rakyat kecil saya tidak mampu menolak dengan argumen berbuih-buih. Saya tidak menolak pandangan mengenai kedua hal di atas karena sebagai rakyat kecil saya lebih banyak bicara mengenai apa yang saya rasakan, tidak bisa tinggi-tinggi berteory.

Lalu, jika saya ditanya mengenai bagaimana seorang pemimpin yang hebat dalam tataran ideal menurut saya, maka tentunya sebagai orang biasa-biasa, rakyat kecil Indonesia, maka, saya akan dengan tegas mengatakan : seorang pemimpin yang hebat itu, yang mampu memakmurkan masyarakatnya, dapat memberikan rasa aman, bisa menjaga kerukaunan di antara keragaman.

Jika saya ditanya kembali, siapa pemimpin yang demikian itu? Maka, kembali saya akan menjawab dengan rasa, namun kali ini saya akan membumbuinya dengan cinta. Semua ciri itu ada pada diri Pak Harto, presiden RI ke dua yang amat saya cintai.

Dua puluh tahun reformasi, ya, kebebasan, itu yang selalu di agung-agungkan. Padahal, saat pak Harto memimpin, saya sebagai rakyat kecil sama sekali tidak merasakan kebebasan saya terbatasi, dalam menjalankan ibadah keagamaan pun tak pernah saya merasakan keterkekangan, saya seorang penganut Katolik.

Lalu kebebasan macam apa yang bisa diartikan lebih baik itu ? Padahal hingga saat ini, saya belum bisa mengerti makna kebebasan itu dapat menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang saya rasakan saat pak Harto memimpin.

Ada sebagian orang mengatakan dengan nada satire “iya, enak zaman pak Harto, semua murah bahkan nyawamu pun murah”.

Orang-orang yang berargumen demikian itu biasanya mengkaitkan dengan kejadian PETRUS di era Pak Harto dan saya rasa dengan dibumbui sok tau yang tak berdasar.

Tentunya, kembali saya menjawabnya dengan rasa ;
la wong yang semacam itu, nyawa murah, saya tidak pernah merasakan kok. Kalau bensin murah, beras murah, dan Pak Harto murah senyum, iya, itu faktanya.

Kalau membahas permasalahan mengenai orang-orang yang diPETRUSkan, ya jelas lah, wong penjahat. Kalau saya kan bukan, saya masyarakat kecil yang justru nyaman dengan kondisi aman tentram saat itu, dan tentunya jutaan masyarakat indonesia juga merasakan yang sama dengan apa yang saya rasakan.

Terkadang saya jadi merasa aneh dengan orang-orang yang menyoal hal semacam itu, mereka memuji Duterte, presiden Filipina yang mengeksekusi dengan tegas, bahkan mengancam pengedar narkoba akan dijatuhkannya dari helicopter, tatapi disaat yang sama malah menyoal PETRUS, dilebelkan sebagai bentuk kejahatan Pak Harto.

Secara pribadi saat ini saya justru sangat prihatin dengan begitu dahsyatnya kejahatan, terutama narkoba, ratusan ton barang haram itu dapat masuk ke indonesia, kejahatan yang jelas-jelas menghancurkan generasi bangsa. Tetapi, amat jarang saya mendengar pernyataan tegas presiden terkait hal itu, apa lagi dalam bentuk tindakan seperti yang dilakukan presiden Filipina.

Lalu, salahkah jika saya kembali bicara dengan rasa. Sebagai rakyat kecil, sebagai orang tua, tentunya kami sangat menghawatirkan jumlah peredaran Narkoba semacam itu, dan lagi-lagi, tentunya rasa itu lah yang menuntun saya untuk membuat perbandingan-perbandingan dari era ke era kepemimpinan di negeri kita tercinta ini, dan jujur saya katakan, kami merindukan era kepemimpinan seperti era dimana pak Harto memimpin.

Saya masih rindu pak Harto

.

 

Salam Sejahtera
@bengkeldodo