Opini, Ulasan

Belajar Bisa Kampanye 24 Jam

 

SOEHARTONESIA.COM

Oleh : H.ANHAR,SE
Politisi Partai Berkarya

Biasanya, pagi hari sebelum beraktifitas, sambil ngopi-ngopi ringan, saya skrol-skrol linimasa di sosial media (Twiter) untuk membagikan berita atau memberikan like melalui akun saya, terutama konten-konten yang berkaitan dengan partai Berkarya.

Akun saya sendiri sebenarnya juga tidak banyak memiliki folower, tidak se-perkasa akun-akun seleb twit yang folowernya hingga ratusan ribu, namun saya betul-betul belajar untuk memanfatkan dengan maksimal, dan tentunya, ada strategi untuk membuatnya menjadi optimal.

Memang di era digital ini ranah sosial media memiliki daya magis yang luar biasa, menurut beberapa artikel yang saya baca, untuk kegiatan kampanye ke-partaian maupun kegiatan sosialisasi caleg akan lebih efektif dilakukan pada ranah ini : terukur, tertakar dan jauh lebih murah. Bahkan, konon presidenpun resah dengan adanya tagar #2019GantiPresiden, yang treding topik begitu lama di sosial media.

Media digital, medsos atau new media lainnya, adalah strategi yang paling tepat dalam menyampaikan visi misi kandidat calon legeslatif untuk menguatkan karakternya di hadapan calon pemilih. Dengan strategi digital kampanye yang tepat, sangat memungkinkan akan dengan cepat mendongkrak popularitas juga elektabilitas.

Dengan mengunggah caption-caption singkat penghantar photo pun video dokumentasi kegiatan sosialisasi di lapangan atau mengunggah tulisan opini panjangnya di website kemudian menguanggahnya melalui akun medsos anda, dan jika opini itu mengena, maka tulisan anda atau lazimnya disebut content, akan dibagikan lagi oleh folower anda, menyebar. Content is king, kata Bill Gates

Bahkan di beberapa layanan medsos, mereka juga menyediakan layanan berbayar untuk sebaran sesuai zona yang kita inginkan. Sebaran content difokuskan pada lini massa pengguna medsos di Dapil Banten 1, misalnya, yang untuk jumlah pengguna sosial medianya hingga mencapi 1,8 juta pengguna. Beberapa rekan saya pakar dalam hal itu.

Tentunya untuk meraih suara yang diinginkan, maka strategi-strategi kampanye cerdas adalah hal pertama dan utama yang harus kita pikir dan lakukan untuk bisa memenang. Memasang banyak alat peraga kampanye seperti Baliho, sepanduk, bukan tidak penting. Untuk mendongkrak popularitas, perlu. Tetapi untuk sampai pada elektablitas, belum cukup.

Calon pemilih perlu menilai karakter, dan itu tak bisa hanya dari melihat photo kita pada media sepanduk maupun baliho, visi misi anda penting untuk dijabarkan dalam narasi, agar masyarakat dapat menilai kelayakan anda untuk dipilih.

Satu lagi, media yang memungkinkan untuk anda bisa mengekspose segala kegiatan sosialisasi anda di lapangan, tentunya bukan baliho segede-gedenya, sebanyak-banyaknya, hal itu menjadi mungkin jika dilakukan melalui digital media (Sosmed).

Tetapi, bukan berarti pada ranah sosmed tidak ada tantangannya, karena ratusan juta penguna sosmed adalah masyarakat cerdas yang melek politik, dan untuk bisa menangkan hati mereka tidaklah mudah. Sedikit tambahan, untuk capaian keberhasilannya, digital kampanye bisa mengukur dengan statistik, tidak seperti baliho atau sepanduk. So, mari belajar kampanye cerdas.

Apresiasi, Opini, Piye Kabare

Bahaya Laten Setan Gundul

 

SOEHARTONESIA.COM

Oleh : H.ANHAR,SE
Politisi Partai Berkarya

PKI sudah jauh-jauh hari masuk ke dalam kuburannya. Tap MPRS No. 25 Tahun 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menandai “kematian” organisasi komunis itu masih berlaku hingga hari ini .

Namun pertanyaannya, apakah para pendukung PKI itu kemudian jera dalam mengejar cita-cita mereka ?
Sebuah pertanyaan besar nan sensitif untuk sekedar dijawab dengan tidak atau, iya .

Saya menyimak ramai beredar di sosial media, berbagai potongan gambar mengenai seorang politisi dari partai yang saat ini sedang berkuasa yang menulis buku berjudul “Aku Bangga Jadi Anak PKI”, saya belum pernah membacanya, jika bangga dalam konteks Biologis, sah.

Namun, jika kebanggaan yang dimaksud itu dalam konteks Idioligis, jelas ini akan menimbulkan persepsi di masyarakat bahwa bahaya laten itu mulai tampak nyata. Judul yang dipakai oleh penulis menimbulkan multi tapsir, bagi saya justru malah lebih kental mengandung unsur propaganda.

Mengapa demikian ? Karena masyarakat kita masih trauma dengan sejarah kelam bersimbah darah ulama, rakyat jelata, bahkan 7 jendral yang dibantai dengan biadab dalam upaya pemberontakan yang dilakukan PKI tersebut.

Bahkan, tidak hanya sekali. Tercatat dalam sejarah, PKI tiga kali telah mencoba melakukan penghianatan terhadap bangsa Indonesia, sehingga apapun alasannya sejarah tetap harus dijadikan pelajaran.

Sampai saat ini tidak ada fakta sejarah baru terkait penghianatan PKI tersebut, yang banyak adalah tapsir baru, dan tapsir tanpa didukung bukti tidak akan dapat dijadikan alasan untuk mengatakan bahwa PKI adalah korban.

Pancasila sebagai dasar negara dengan komunisme yang merupakan idiologi PKI tidak pernah akan bisa berdampingan. Terbukti, NASAKOM (Nasionalis,Agamis, Komunis), presiden RI pertama Soekarno gagal dengan konsep tesebut .

Komunis : materialistis. Sedangkan unsur keTuhanan dijunjung tinggi pada sila pertama Pancasila. Disadari ataupun tidak, kita, bangsa ini, bersepakat bahwa perbedaan adalah Sunatullah.

Miskin dunia belum tentu miskin akhirat dan kaya dunia belum tentu kaya akhirat. Cita-cita tertinggi masyarakat beragama bukanlah meraih dunia semata, namun bukan serta merta tidak mementingkan dunia, karena bagi masyarakat beragama, dunia adalah alat untuk mengumpulkan bekal menuju akhirat, dan ini sangat bertetangan dengan idiologi komunis. Itulah sebab mereka mengatakan “Agama Adalah Candu.”

Kita sebagai bangsa telah bersepakat, final, bahwa Pancasila yang menjunjung tinggi nilai keTuhanan kita jadikan dasar negara. Tentunya, hal ini harus terus kita jaga sampai kapanpun.

Pada potongan video yang dikirimkan seorang kawan kepada saya, video wawancara penulis buku “Aku Bangga Jadi Anak PKI,” ia mengatakan dengan gamblang bahwa saat ini anak keturunan dari orang-orang yang dulu adalah anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) saat ini sudah berjumlah 15 juta jiwa, itu belum jika ditambahkan dengan tingkatan cucu, ujarnya.

Jika jumlah itu dianggap banyak dan kemudian bagi orang-orang tertentu dianggap sebagai potensi kekuatan baru untuk membangkitkan “Setan Gundul” ( bahasa pak Harto untuk menyebut PKI) yang sudah terkubur sekian lama, maka, jelas jumlah itu masih tak ada artinya, dan jika jumlah itu untuk hidup berdampingan dengan anak bangsa di Indonesia ini secara damai, maka ideologi komunis sebagaimana yang dianut oleh leluhurnya, mutlak harus ditinggalakan, karena Pancasila sudah final !

Piye Kabare, Tokoh

Raslina Rasidin : Keterwakilan Perempuan Itu Mutlak

 

SOEHARTONESIA.COM

Ombak kecil di bibir pantai berbatu. Selain sepi yang megah, hanya kau menatap lautan.

Entah dari berapa ratus yang dihasikan juru photo, lalu kemudian mereka bersepakat memilih satu photo saat wujud-mu menatap laut. Apa yang ada di pikiranmu saat itu, kami, rakyat jelata, tak pernah tahu.

Atau, mungkin kau hanya sekedar mengabar pada angin, pada gulungan ombak yang sebelumnya telah puas menerjang rumah warga, bahwa : ya, aku sudah di sini.

“Mau di-photo seperti pak Jokowi, mbak,” saya berujar menyapa Raslina Rasidin, artis sekaligus politisi cantik yang kini turut berlaga dalam pileg melalui perahu milik Hutomo Mandala Putra, putra mantan presiden HM.Soeharto, Partai Berkarya.

Bukan Kebetulan, memang hari itu saya termasuk dalam rombongan relawan Bencana Partai Berkarya yang melakukan rangkaian kunjungan ke lokasi bencana dan pengungsian untuk memberikan bantuan kepada korban bencana Tsunami Banten. Dan, Mbak Raslina salah satu kordinator “Relawan Partai Berkarya Tanggap Bencana Tsunami Banten.”

” Nggak usah, mas. Aku nggak mungkin kuat. Biar pak Jokowi aja,” ujar-nya menyahuti candaan saya.
Saya terbahak, lalu, berbincanglah kami .

Dapil Neraka, umum-nya para politisi membahasakan demikian untuk menyebut Dapil 3 DKI. Tokoh-tokoh politisi senior bertarung untuk berebut suara di dapil itu. Dikatakan demikian, karena merupakan barometer kemenangan partai-partai. Jadi, wajar kemudian politisi-politisi hebat masing-masing partai diterjunkan di situ.

“Nggak ngeri, mbak ?

Iya, saya dipilih partai untuk berjuang di situ, berarti saya termasuk politisi hebat, donk ?
Ha ha ha.

Tapi, ok, terlepas dari itu saya rasa dalam profesi apapun orang akan ingin dikatakan “Hebat,” dan saya rasa ingin menjadi hebat adalah sebuah motivasi yang senantiasa harus ditumbuhkan dalam setiap manusia.

Yaach semacam, seseorang itu harus yakin akan kemampuan diri-nya.”

“Nah, dalam konteks untuk berlaga di dapil DKI 3, memang bukan suatu hal yang mudah, namun saya yakin bahwa saat ini masyarakat kita memiliki kualitas pemahaman demokrasi yang baik dan tentunya hal itu akan mendorong masyarakat akan menentukan pilihan-nya dengan cermat.”

Denger-denger, Partai Berkarya pasang target tinggi untuk meloloskan kader terbaiknya ke Senayan ya, mbak ?

Iya donk. Kita mampu, kok !

Lalu, untuk meraih suara pemilih apa yang mbak Raslina tawarkan pada masyarakat di dapil DKI 3 ?

Apa mbak sudah merasa cukup yakin karena selama ini dikenal sebagai artis Sinetron, saya lihat tadi di posko juga banyak ibu-ibu berebut bersalaman, mereka agaknya sudah sangat familier dengan wajah mbak, apa di DKI juga demikian ?

“Alhamdulilah, kalau dengan bermain di berbagai Sinetron juga menjadi bagian sehingga saya banyak dikenal, itu tentunya point tarsendiri. Tetapi, menjadi wakil rakyat dan aktris sinetron, tentu adalah dua hal yang berbeda, donk. Tentu saja, saya memiliki visi dan misi untuk di-tawarkan kepada masyarakat.”

Misalnya seperti apa, Mbak ?

“Ok, kita ketahui bersama bahwa sembilan puluh delapan persen permasalahan terkait anak dan perempuan, seperti : tingkat kematian ibu melahirkan, gizi buruk, kekerasan dalam rumah tangga, human traffiking, pendidikan dan kesehatan terhadap anak, bahwa selama ini semua kegiatan terkait penanganan-nya itu dilakukan oleh perempuan.”

“Sehingga kemudian, keterwakilan perempuan di DPR itu adalah mutlak, karena tidak semua aspirasi terkait perempuan bisa di emban laki-laki . Hal inilah yang akan kami kawal dan sosialisaskan di masyarakat, akan pentingnya keterwakilan perempuan untuk menyuarakan aspirasi mereka.”

“Dan, dari sebelum mencalonkan diri sebagai anggota dewan, saya sudah konsen di berbagai kegiatan prempaun dan anak, saat ini pun saya “Duta Human Trafficking.”
Jadi, jangan di lihat sisi ke-artisnya aja, kira- kira goal-nya adalah bagaimana terus mendorong pemerintah mewujudkan Zero Human Trafikking. Itu salah satu bagian dari prioritas saya. (Ardi)

Sosial, Tokoh, Ulasan

Siti Hardijanti Rukmana : Allah Akan Mengganti Dengan yang Lebih Baik, Insya Allah

SOEHARTONESIA.COM

“Que Sera, Sera… Whatever will be, will be – Apa yang terjadi ,terjadilah.” 

Lima hari yang lalu kami masih menikmati menatap keceriaan anak-anak bermain dibawah sinar lampu jalan yang meskipun telah diresmikan belasan tahun yang lalu, cahanya-nya masih tidak pudar, dan senantiasa menjadi sumber kegembiraan mereka.

Saat ini, begitu terasa suasana bermain itulah yang dirindukan anak-anak. Kini, mereka harus beradaptasi dengan lingkungan di pengungsian.

Sedikit gambaran dapat saya tuliskan dari apa yang diceritakan serta dirasakan korban bencana Tsunami Selat Sunda – Lampung yang berada di pengungsian, pasca desa mereka diterjang Tsunami.

“Tentunya sebagai manusia, dalam menghadapi bencana ini kita hanya dapat berpasrah dan berdoa, mas.”

“Dan, terima kasih kami kepada seluruh relawan dan pemerintah, serta khususnya kepada ibu Tutut Soeharto yang pada hari ini berkunjung, juga menyempatkan diri untuk memberi motivasi kepada anak-anak,” ujar salah seorang pengungsi.

Hari itu Sabtu 29 Desember, Siti Hardijanti Rukmana, akrab disapa Mbak Tutut bersama rombongan menyambangi korban bencana Tsunami Selat Sunda Lampung .

“Anak- anak, kalau sudah besar nanti mau jadi apa ? “

“Jadi Presiden bu, jadi Dokter, saya jadi Guru, bu.”

Sahut – menyahut suara anak-anak menjawab pertanyaan Mbak Tutut, di posko pengungsian lapangan tenis indoor Kalianda, Lampung Selatan, lokasi para pengungsi dari Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku.

“Boleh.. boleh, jadi Presiden boleh, jadi Dokter, jadi Guru, semua boleh.”

“Tapi, ada syaratnya, hayo apa Syaratnya, siapa yang tahu ?”

“Belajarrrr..!!”

“Ya.. bener, harus belajar yang rajin, biar pinter. Dan, harus di-ingat juga, harus banyak ber doa pada Allah, setuju ?”

“Setuju buu,” anak-anak menyahuti.

Mbak Tutut Soeharto tampak ceria berbincang dengan anak-anak pengungsi pulau Sebesi. Tanpa skat, tanpa rikuh, bahkan beberapa anak tampak dipeluk-nya dengan hangat.

Selain mengajak mereka bernyayi bersama, Mbak Tutut juga memberi motivasi kepada anak-anak, serta orang tua mereka.

Menurut Mbak Tutut, “Penting untuk senantiasa membangkitkan motivasi kepada anak-anak dengan berbagai kegiatan termasuk mengajak mereka untuk menyanyi, dan berbagai kegiatan untuk menghilangkan trauma pasca bencana.”

“Bagi para orang tua harus tetap tegar, tidak larut dalam kesediahan, karena Allah akan mengganti semua dengan yang lebih baik, Insya Allah,” tambahnya.

“Saya melihat, penanganan terhadap para pengungsi oleh pemerintah Lampung Selatan sangat baik, anak-anak tersebut sudah mulai dalam kondisi normal, meski pendampingan tetap harus dilakukan,” ujar putri mantan Presiden HM. Soeharto itu saat diwawancarai wartawan.

Dan, saya pun teringat walau hanya sepenggal, bukankah “jika Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka karena Allah Mencintainya, dan Barangsiapa yang sabar maka dia mendapat pahala atas kesabarannya.”

“Que Sera… Sera… Whatever Will be .. Will be”  – Doris Day, melantun dalam Ruang Kabin. Dan, kami melanjutkan perjalanan.

Dalam Doa, Insya Allah mereka Tegar. (Ardi)

Kisah, Memorial, Piye Kabare

Bencana Perlu Aksi Nyata, Bukan Aksi di Depan Kamera

 

Oleh : H. ANHAR ,SE
Politisi Partai Berkarya

 

“Salah satu alasan mengapa Tuhan memberikan Hati dan kekuatan pada kita sebagai manusia adalah agar kita dapat menolong sesama.”

Entah di mana saya pernah mendengar atau membaca kutipan bijak itu, seingat saya sejak bencana Tsunami Aceh, yang pasti saya telah menyimpannya di dalam Qolbu.

Tahun 2004 silam, saya mendapat kesempatan mejadi anggota DPR-RI dapil Aceh melalui partai baru yang dinahkodai almarhum KH. Zainudin MZ, Partai Bintang Reformasi (PBR).

Saya lahir di Kabupaten Semeulue, pulau kecil yang walaupun masuk wilayah Aceh namun keseharian di wilayah kami tidak menggunakan bahasa Aceh. Sejak tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) saya pun sudah merantau meninggalkan kampung halaman untuk menempuh pendidikan ke pulau Sumatera.

Hal itu lah kiranya yang semakin membuat, jangankan mengerti tentang seluk beluk masyarakat Aceh, bahkan bahasa Aceh-pun saya tidak fasih lagi. Namun, hanya satu yang menjadi pegangan saya dalam hidup ini bahwa Ikhtiar dan niat berjuang untuk turut meyuarakan aspirasi masyarkat Aceh tidak akan pernah menghianati hasil.

Dengan hanya berbekal amunisi logistik yang seadanya, saya terjun untuk mensosilisasikan diri dan Partai kepada Masyarakat Aceh, saat itu sebelum terjadi bencana besar Tsunami .

Sosialisasi saya lakukan hanya dengan beberapa orang Tim saja. Masuk kampung keluar kampung. Memang, sangatlah tidak mudah untuk meyakinkan masyarakat Aceh yang telah sedemikian tertanam kuat di dalam benak mereka bahwa para caleg yang turun ke lapangan hanya mengharap suara mereka saja, setelah terpilih jangankan peduli, datang kembali untuk ber-silahturahmi saja tidak.

Pada satu kesempatan saya bertemu dengan seorang kawan yang ber-tutur bahwa ada sebuah desa yang masyarakatnya sedang membangun Masjid, ia beranggapan mungkin saya bisa turut terjun ke sana untuk memberikan bantuan.

Tanpa pikir panjang kami berangkat, entah apa yang mendorong saya saat itu, tidak lama usai saya berjumpa, diberi wejangan oleh ustad sepuh ketua panitia pembangunan Masjid serta bersilahturahmi dengan beberapa warga tokoh masyarakat desa, saya merasakan ada dorongan kuat untuk menyumbangkan semua uang yang tersisa, menyelesaikan pembangunan masjid itu, dan saya tidak berfikir lagi untuk melakukan sosialisasi kemanapun. Tujuan saya hanya bagaimana agar masjid itu segera rampung. Lalu, saya kembali ke Jakarta .

Pendek kisah, saya terpilih sebagai wakil masyarakat Aceh untuk duduk di DPR-RI pada priode 2004-2009. Jangankan rekan-rekan yang merasa heran dengan perolehan suara saya, bahkan saya sendiripun demikian, dan alhamdulilah selama saya duduk di DPR-RI tidak satupun daerah di dapil saya yang tidak kembali saya
kunjungi .

Tsunami Aceh

Saat kejadian Bencana Tsunami Aceh, salah seorang adik perempuan saya kebetulan tinggal di Banda Aceh, bencana itu terjadi berselang beberapa hari usai saya meninggalkan Aceh dalam kunjungan dinas sebagai anggota DPR.

Berminggu-minggu kami tak mendengar kabar saudara perempuan saya itu, turut menjadi korban-kah, kami tak henti-henti berdoa sampai pada satu hari ia menelepon dan menghabarkan bahwa ia baik-baik saja.

Berkisah, saat kejadian ia sedang berada di jalan lalu tiba-tiba kepanikan terjadi dan ia hanya bisa berlari sekencang-kencangnya. Entah dari mana tiba-tiba ada seorang pria paruh baya mengunakan sepeda motor menghampiri dan menawarkan untuk mem-boncengnya.

Tanpa berfikir panjang ia naik ke boncengan, melaju meninggalkan kepanikan dan ujung air bah yang semakin mendekat, semakin menjauh, lalu sampailah di sebuah Masjid, dan sebelum meninggalkan saudara perempuan saya pembonceng sempat berpesan : berlindung di sini saja dik, Insya Allah aman. lalu, laki-laki paruh baya itu meninggalkannya pergi.

Saya tertegun mendengarkan penuturannya, karena lokasi yang ia ceritakan tidak asing dengan gambaran yang ada di benak saya. Kemudian, saya tanyakan dengan detail : di Masjid mana ia berlindung, bagaimana ciri dan bentuk masjid tersebut. Lalu, apakah masjid itu tidak terdampak Tsunami. Terdampak, namun tidak seberapa, ujarnya bercerita.

Maha Besar Allah, masjid masih berdiri kekar, dan saudara perempuan saya itu berlindung di Masjid yang saya tuturkan di atas.

Tsunami Banten

Bencana Tsunami Banten dan Lampung adalah duka kita bersama sebagai anak bangsa. Tentunya, yang diperlukan adalah aksi nyata untuk sesegera mungkin menanggulangi dampaknya .

Mempolitisasi musibah dengan berbagai pola pencitraan bagi saya adalah musibah politik yang menimpa bangsa ini. Menjadikan bencana sebagai komoditas politik merupakan contoh nyata politik menghalalkan segala cara.

Mari bersama membersihkan hati, terutama bagi pemimpin di republik ini. Apa yang seharusnya dilakukan seorang pemimpin adalah membantu, bukan memperalat.

Sepantasnya dalam situasi bencana, seorang pemimpin harus bersikap untuk membangun kepedulian, bukan datang hanya untuk ber-aksi di depan kamera.

Berbuatlah layaknya seorang pemimpin, dan jika langkahmu benar, Tuhan Yang Maha Esa akan melipat gandakan balasan lebih dari yang bisa kau bayangkan. Lebih dari hasil perhitungan teory pencitraan yang kau bangun hanya untuk mendongkrak elektabilitas semata.

 

Saya tulis untuk memperingati Bencana Tsunami ke -14 di Banda Aceh yang jatuh pada hari ini. Semoga Allah Mengampunkan Dosa Para Korban, dan Melindungi NKRI dari Segala Bencana, Zhohir maupun Bathin. Amin amin ya Rabb.