Apresiasi, Tokoh

M. Sajid : Masyarakat Harus Memilih Berdasarkan Obyektifitas dan Rekam Jejak

SOEHARTONESIA.COM

Pileg 2019 ini diharapkan dapat menghasilkan para legislator yang lebih baik, yang betul-betul bekerja untuk kepentingan masyarakat di atas kepentingan lainnya. Namun, sudahkah rakyat mengenali Caleg yang akan dipilih sebagai wakilnya nanti di DPR ?

Agar tidak salah pilih, masyarakat tentunya harus mampu mencermati seluruh calon wakilnya selama masa Kampanye, karena, di tengah banyak-nya calon, pemilih harus benar-benar selektif terhadap figur calon anggota legislatif.

Hal inilah yang munurut M Sajid, Caleg DPR-RI no Urut 1 dari Partai Berkarya Dapil Sumsel 1, bahwa dalam menentukan pilihan, “masyarakat harus benar-benar mamahami rekam jejak Caleg yang akan dipilihnya, karena untuk mewujudkan Pelayanan Publik yang baik, Parlemen juga harus diisi oleh orang-orang yang benar-benar mampu mengemban tugas sebagai pembawa Aspirasi Masyarakat sehingga dapat mendukung kerja pemerintah yang Optimal.”

Oleh sebab itu, dalam setiap kegiatan Turba (turun ke bawah/masyarakat ) Alumni Akmil 1985 yang juga pernah menjabat sebagai Komandan Bataliyon di daerah konflik (Maluku) dan berbagai jabatan lain di Mabes TNI ini, dalam kegitan Sosialisasinya, ia lebih mengedepankan kampanye yang bersifat Dialogis.

Menurutnya, “kerja-kerja politik itu tanggungjawabnya besar sekali, karena, kita tidak hanya mempertanggungjawabkan kepada masyarakat, tetapi lebih dalam lagi adalah bagaimana pertanggungjawaban kita kepada Allah, kelak.”

“Oleh sebab itu, Dialog dengan masyarakat untuk megetahui langsunga apa yang menjadi aspirasi masyarakat itu penting untuk dilakukan, karena Aspirasi masyarakat itulah yang nantinya akan kita perjuangkan di DPR.”

M.Sajid menambahkan, “dalam setiap kegiatan Sosialisasi, saya selalu memaparkan Visi Misi dan kemana arah Aspirasi Politik Pribadi, dengan tujuan agar masyarakat benar-benar memahami saya sebagai Caleg dan rekam jejak saya sebagai Individu,”ujar lulusan Akademi Militer (Akmil) angkatan 1985 itu.

“Selain itu, yang saya pahami, sejatinya kerj-kerja politik itu haruslah kerja yang bersentahan langsung dengan masyarakat, sehingga para calon anggota legeslatif harus mau melakukan kegiatan sosial yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, karena hal itulah yang kemudian harus dinilai dengan cerdas oleh calon pemilih,” ujarnya.menambahkan.

” Saat ini, sering sekali kita menyaksikan anggota legeslatif yang setelah menjabat justru terjerat berbagai kasus, terutama korupsi, sehingga lembag DPR yang seharusnya bekerja untuk rakyat, justru menjadi sorotan publik, kinerja anggota DPR dinilai buruk dan bermasalah saja, tentu kita tidak menginginkan hal ini terus terjadi,”

“Oleh sebab itu, sangat penting para Caleg dalam kegiatan kampanyenya untuk melakukan dialog agar masyarakat dapat menilai karakter diri seorang caleg, sehingga masyarakat dapat menentukan pilihannya secara obyektif, dengan menilai visi misi maupun rekam jejak kandidat calon legislatif di dapilnya,” tutup M.Sajid.

Apresiasi, Tokoh

Tutut Soeharto : Kerja Iklas Caleglah yang Akan Dinilai Masyarakat

SOEHARTONESIA.COM

Dua bulan lebih sedikit jelang Pencoblosan, partai Berkarya agaknya tak ingin buang waktu. Partai besutan Tommy Soeharto ini All Out terjun menyapa masyarakat.

Bahkan, figur Tutut Soeharto pun kita simak sudah berkali-kali turun Gunung menyapa masyarakat untuk melakukan konsolidasi dengan caleg dan kader Partai Berkarya.

Selain kegiatan kepartaian, Tutut juga turut terjun langsung dalam berbagai kegiatan bantuan bencana, termasuk, menyerahkan langsung bantuan perahu tangkap ikan untuk nelayan di Way Muli Lampung, putri sulung mantan presiden Soeharto itu terbukti mampu menggetarkan psikologi massa. Sambutan masyarakat, pecah.

Rindu terhadap era kepemimpinan Pak Harto di tengah masyarakat memang tak bisa dipungkiri, terlebih di pedesaan. Romantisme negara aman dan rakyat tidur dengan perut kenyang, serta pendidikan murah memang kerap kita simak ramai dalam konten-konten di ranah sosial media.

Hal itulah yang diangkat Tutut Soeharto Pada acara silahturahmi dengan masyarakat Tasikmalaya Jawa Barat, Jumat 1/2/2019 kemarin. Pada acara yang dikemas sekaligus untuk memberikan arahan kepada Caleg partai Berkarya tersebut, Tutut Soeharto menegaskan bahwa para Caleg partai Berkarya harus bekerja dengan iklas, karena keiklasan itulah yang akan dinilai oleh rakyat : “tidak perlu banyak berjanji, bekerja yang iklas saja, ujarnya.”

Tutut Soeharto juga meminta kepada seluruh Caleg Berkarya, khususnya Tasikmalaya dan Garut, untuk bekerja keras, meluruskan niat dalam mensosialisasikan program-program ekonomi kerakyatan pada saat mereka memperkenalkan diri kepada masyarakat.

Politik sejatinya adalah momentum,dan kali ini dengan tampilnya Partai Berkarya sebagai kekuatan politik dalam pemilu 2019 tentunya diharapkan dapat menjawab kerinduan masyarakat Indonesia pada era dibawah kepemimpunan pak Harto. (Ardi)

Apresiasi, Kisah

Buahtangan Supersemar Untuk Anak Indonesia

Oleh : H.ANHAR ,SE
Politisi Partai Berkarya

Jelang bulan maret. Bulan bersejarah. Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) lahir dibulan maret. Surat ini berisi perintah yang menginstruksikan Mayjend Soeharto, yang kala itu selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu. Tahun 1966.

“Mas Anhar, Sebaiknya jika menulis tentang bapak, gunakan saja kalimat yang akrab di ucap masyarakat kita: Pak Harto,” ujar putra beliau, Hutomo Mandala Putra, berujar pada saya pada satu kesempatan.

Setidaknya ada dua point penilaian saya mengenai apa yang diucapkan mas Tommy. Pertama, ia memposisikan diri sebagai anak biologis bapak pembangunan itu. Kedua, ia sangat memahami bahwa pak Harto bukan hanya miliknya, tetapi adalah bapak bagi rakyat Indonesia. Dan, saya berterima kasih diingatkannya.

Berbekal Supersemar, Pak Harto memimpin pemulihan keamanan. Dan, keberhasilannya mengatasi situasi kala itulah yang kemudian menghantarkankannya menjadi presiden Republik Indonesia kedua. Pita sejarah bangsa diputar ulang dengan konsep berbeda.

Pak Harto dalam pemerintahannya lebih mengedepankan pembangunan. Pasca Orde Lama yang meninggalkan carut marut di segala lini ber-negara ia tata. Pemerintah orde lama tak mampu keluar dari kubangan masalah ekonomi. Krisis ekonomi terjadi di pengujung 1950-an. Imbasnya, inflasi meroket (hiperinflasi) mencapai 635% di 1966.

Orde Baru dibawah pak Harto mampu menekan inflasi menjadi 112%. Namun, tidak sedikit yang mengatakan gaya pemerintahannya mengkebiri Demokrasi. Tetapi pak Harto tak peduli. Faktanya: Rakyat kelaparan. Mengatasi itu yang ia kedepankan. Agar tercapai, stabilitas politik harus diraih.

Roda pemerintahan dijalankannya. Ia membuat jalurnya, dan fakta sejarah mencatat hasil dari apa yang ia kerjakan: Ekonomi membaik, Indonesia menjadi macan ekonomi Asia. Politik, stabil. Rakyat, tidur dengan perut kenyang. Dan, esok harinya anak-anak berangkat sekolah dengan riang.

Perjalanan Supersemar tak hanya sebagai dasar bagi pak Harto untuk mengambil tindakan untuk memulihkan keamanan negara kala itu. Supersemar hingga kini terus mengabdi. Berjalan dalam hening, berkarya untuk mendorong lahirnya anak-anak bangsa yang akan mengharumkan nama bangsanya.

Saya memilah segala kontroversi terkait pak Harto, saya lebih mengedepankan fakta ketimbang tafsir. Faktanya, belum ada keputusan sah yang mengatakan pak Harto korupsi, jika fakta pak Harto mengabdi, banyak. Tuduhan-tuduhan terkait korupsi pak Harto, tidak pernah terbukti.

Prof. Mahfud MD mengatakan: “Korupsi justru saat ini semakin parah dari era pak Harto memimpin. Ya, memang hampir di segala lini. Professor yang juga alumni penerima Beasiswa Supersemar itu juga mengatakan bahwa kini kesenjangan ekonomi makin tajam. Supersemar turut melahirkan profesor hukum tatanegara ini, dan, 2 juta lebih alumni lain-nya teresbar di penjuru negeri.

Semoga saja ke depan kita sebagai anak bangsa ini bisa memperbaiki dan menjadi lebih baik .

Saya menulis ini sambil memandang ribuan tas sekolah yang sedang disiapkan. Buku dan alat tulis tertata rapi dikemas dan dimasukkan ke dalamnya. Tak lupa secarik amplop berisi sangu. Di bagian depan tas sekolah itu bergambar Pancasila dengan Lima Silanya. Buah tangan dari putra Pak Harto melalui Yayasan Supersemar, untuk anak Indonesia yang ber-Pancasila.

“Mas Anhar, Supersemar lahir dikala bangsa ini carut marut, dikala Pancasila terancam idiologi komunis, disaat PKI sedang kuat-kuatnya, dan saya rasa Pancasila harus senantiasa terpatri dalam jiwa anak-anak kita, sejak dini.”

“Seperti apa yang acapkali diucapkan Almarhum bapak, bahwa kewajiban kita untuk membentengi generasi bangsa ini dari idologi komunis.” Saya terkesima, saya melihat pak Harto dalam ucap mas Tommy.

Apresiasi, Kisah

Desa Karang Bolong Pandeglang dan 120 Perahu Cantrang Pak Harto

 

SOEHARTONESIA.COM

Oleh: H.ANHAR,SE
Politisi Partai Berkarya

Sorotan matanya masih tajam, ya, mata yang telah merekam banyak kejadian di bawah langit. Di usianya yang menginjak 70 tahun itu, ia masih begitu lancar mengisahkan berbagai kenangan tentang Dasa-nya, Desa yang kini luluh lantah usai diterjang Tsunami .

Pak Guru Mastra, masyarakat desa memanggilnya demikian. Warga Desa Karang Bolong Kecamatan Sumur yang saya temui saat menyerahkan bantuan kemanusiaan atas nama Ketua Umum Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra, untuk korban bencana Tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 lalu .

Desa Karang Bolong adalah nama salah satu desa di Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Salah satu desa yang berada di kawasan ujung kulon Indonesia ini adalah Desa yang termasuk dalam katagori terparah mengalami kerusakan usai diterjang Tsunami.

Desa karang bolong, Desa nelayan itu ternyata menyimpan kisah tersendiri tentang Pak Harto, presiden ke 2 Republik Indonesia.

Berkisah pak Guru Mastra, bahwa pada tahun 1977 masyarakat Desa karang Bolong mendapat bantuan dari presiden Soeharto berupa 120 unit kapal Cantrang. Kapal penangkap ikan bermesian tersebut mampunyai kapasitas muat per unit, 7 sampai dengan10 Gros Ton. Disertakan pula 25 set jaring Cantrang bukuran besar untuk dikelola serta dipergunakan sebagai sarana melaut oleh 1000 nelayan di Desa Karang Bolong, dan pak Guru Mastra lah yang menerima secara simbolis di Istana Negara kala itu

Saya menangkap ada rasa haru
dari sorot matanya saat berkisah kepada kami. Bibirnya yang bergetar menahan haru saat mengucap nama pak Harto, tak serta merta menghalangi lancar mengalir kalimat demi kalimat yang ia ucapkan untuk menggambarkan setiap detail dari momen yang ia katakan tak akan pernah hilang dari ingatannya itu.

“Sebelum bencana Tsunami ini, pak, Desa kami ini adalah Desa penghasil ikan terbesar di povinsi Banten hingga Jakarta,” ujarnya melanjutkan cerita.

Dari sebelumnya yang merupakan Desa tertinggal, Desa kami menjadi desa Nelayan yang berkembang, dan itu semua tak lepas dari jasa pak Harto .

“Saat ini, kami rasakan kehidupan nelayan seolah kembali ke titik terendah, para nelayan hampir putus asa menghadapi kenyataan untuk memperjuangkan hidup dengan memulai dari awal lagi,” ujarnya pula.

Apa yang diucapkan Guru Mastra dapat dimaklumi, berbagai sarana prasarana saya saksikan rusak parah. Perahu yang merupakan alat kerja utama masyarakat Desa Karang Bolong kami saksikan sebagian besar rusak berat, sedangkan mata pencaharian utama mereka adalah melaut .

Terselip harapan pada ucap pak Guru Mastra dan masyarakat yang saya temui, “semoga akan hadir kembali pak Harto pak Harto baru, sosok pemimpin yang memahami kebutuhan rakyat kecil ya, pak,” ujar mereka.

Insya Allah, masih ada Putra Putri beliau, dan insya Allah, buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya, saya berujar, dan masyarakat yang hadir meng-amini .

Sejatinya di balik semua bencana yang terjadi tentunya terselip pesan bahwa terdapat ladang Amal Shalih yang sangat luas bagi masyarakat yang tidak terkena bencana, dan inilah saat bagi masyarakat untuk meluangkan waktu, tenaga, fikiran, harta benda serta keahlian, guna membantu korban bencana.

Di sini sesungguhnya Allah hendak menguji seberapa jauh kepedulian pemimpin-pemimpin kita, serta ketanggapan kita sebagai bagian dari masyarakat dalam besikap untuk menolong saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah, karena uluran tangan betul-betul sedang sangat mereka butuhkan.

 

Opini, Sosial, Tokoh

Raslina Rasidin : Caleg Perempuan Harus Lebih Extra Terjun ke Masyarakat

 

SOEHARTONESIA.COM

Meski representasi di ranah politik praktis sudah didorong sedemikian rupa melalui berbagai kebijakan, keterwakilan perempuan di lembaga legislatif masih belum dapat tercapai.

Jika mengacu pada hasil Pemilu 2014, di tingkat DPR pusat, keterwakilan perempuan hanya mencapai 17.32% atau 97 perempuan dari 560 anggota menduduki jabatan legislatif. Begitu pula di DPRD pun kota, statistik-nya tidak jauh berbeda.

Hal tersebut menjadi perhatian khusus bagi partai Berkarya yang pada pemilu 2019 ini memasang target tinggi untuk mendudukkan kadernya di kursi legislatif.

Raslina Rasidin, Caleg DPR-RI dari Partai Berkarya, untuk Daerah Pemilihan DKI III Jakarta mengatakan, tentunya dalam menyikapi hal tersebut para Caleg perempuan harus mampu bekerja exstra untuk melakukan sosialisasi di masyarakat.”

Ditemui di sela acara diskusi terbatas Caleg perempuan partai Berkarya, ia menambahakan, bahwa “kehadiran perempuan di ranah politik praktis harus-lah dibuktikan dengan keterwakilan perempuan di parlemen, karena syarat mutlak bagi terciptanya kultur pengambilan kebijakan publik yang ramah dan sensitif pada kepentingan perempuan haruslah melibatkan perempuan dalam jumlah proposional.”

Ia mengatakan juga, “oleh sebab itu para Caleg perempuan tidak lagi bisa hanya bekerja dengan mengandalkan tim sukses untuk melakukan sosialisasi, tetapi mutlak harus langsung bersentuhan dengan masyarakat dalam memaparkan visi misinya, sehingga masyarakat betul-betul merasa ada kedekatan dengan caleg yang akan dipilihnya.”

“Hal tersebut yang nantinya akan meningkatkan nilai tawar Caleg perempuan untuk memenangkan hati pemilih, sehingga tercapailah target keterwakilan perempuan di lembaga legislatif.”

“Para Caleg tidak bisa lagi hanya mengandalkan rumus deret hitung deret ukur, pemetaan suara kemudian menyebar baliho, spanduk dan sebagainya, lalu merasa sudah bekerja dan layak dipilih.”

Ia, Raslina, mengatakan demikian karena kecenderungan ini banyak sekali terjadi, khususnya bagi para Caleg perempuan.

“Oleh sebab itu, ia menekankan kepada Caleg perempuan partai Berkarya untuk sungguh-sungguh memahami berbagai masalah, tidak hanya yang berhubungan dengan Ekonomi Kerakyatan saja, tetapi juga masalah sosial terkait perempuan, anak, lansia, dan hal itu juga harus mereka sampaikan kepada masyarakat secara langsung,” tutupnya. (Ardi)