Kisah, Memorial

Desa Cinta Karya. Pasti Ingat Zaman Pak Harto

 

SOEHARTONESIA.COM,–Langit merah merona, sebenarnya saya hanya ingin mengatakan warnanya oranye saja, tapi, ujung-ujung sebaran sinarnya yang tampak menyentuh pucuk-pucuk pohon yang membatasi pandangan saya berwarna merah, jika menggambarkannya dengan satu atau dua warna saja, menjadi tidaklah cantik.

Di kota Musi Banyuasin ini pohon-pohon besar masih rimbun, tertata apik. Di halaman rumah warga atau di pinggir-pinggir jalan utama pohon dengan diameter satu meter hingga lebih, masih berdiri kekar. Semoga akan terus begitu. Rumah-rumah warga tampak masih berhalaman lebar, asri, sorga bagi anak-anak usia bermain.

Harga tanah di daerah ini tentunya masih tidak seperti di kota besar, puluhan juta per meter. Salah satu dampak negatif dari mahalnya harga tanah di kota akhirnya mengorbankan pohon-pohon besar, ditebangi, kota tak lagi sejuk.

Di kota besar, sedikit saja tanah, berharga mahal. Kalau dihitung untuk dijual dan kemudian dibangun gedung-gedung besar tinggi menjulang menggantikan pohon-pohon yang telah ditebang, secara ekonomi tentunya saku jadi lebih tebal. Iya, langit memang belum disertifikatkan, masih gratis, dan kita lebih butuh uang ketimbang langit merona indah.

Musi Banyuasin adalah salah satu kabupaten kaya di Sumatera selatan. Kaya akan kandungan gas alam, minyak, juga perkebunan yang menjadi penopang ekonomi masyarakat kabupaten ini.

Seorang kawan berkisah bahwa kini pipa-pipa gas alam sudah masuk ke rumah-rumah warga. Program pemerintah yang sangat tepat sasaran. Angkat topi tinggi-tinggi untuk Pemerintah daerah.

Sebagai salah satu daerah tujuan trasmigrasi sejak era Orde Baru, Musi Banyuasin kini maju dengan pesat.

Pak Narto berkisah kepada saya, beliau warga Desa Cinta Karya. Desa Transmigrasi yang di bangun pada tahun 1981, termasuk dalam proyek pembangunan lokasi Transmigrasi Sekayu Mangunjaya dan terbangun dalam lokasi spc-3.

Pada mulanya, Desa Cinta Karya lebih di kenal dengan sebutan Trans Sekayu Mangunjaya UPT SPC C3 bahkan sampai sekarang masih ada yang menyebutnya C3.

Pada tahun 1994, wilayah binaan transmigrasi ini diserah terimakan oleh pemda TK II Musi Banyuasin sebagai desa definitip dan diberikan nama Desa Cinta Karya.

Adapun daerah penempatan awal berasal dari beberapa kabupaten di pulau Jawa, berdasarkan tanggal kedatangan dan jumlah kepala keluarga. Diantaranya yaitu : Jepara, Tegal, Brebes, dan Madiun. Pak Narto sendiri, beliau berasal dari Madiun Jawa timur.

Menurut cerita masyarakat sekitar, asal mula memberi nama Desa Cinta Karya dikarenakan masyarakat yang datang ke wilayah tersebut, mereka banyak yang ahli dalam pertukangan, dari situlah mereka berpikir untuk membuat sebuah nama desa yaitu Desa “Cinta Karya”

Walaupun ukuran kesuksesan itu tidak bisa dilihat dari harta kekayaan, intinya mereka sukses bertahan hidup sampai sekarang baik menjadi pedagang atau jenis profesi apapun, lanjut pak Narto, dan bagi dirinya, dengan telah mampu menyekolahkan anaknya hingga kini menjadi Dokter di kota Palembang adalah sebuah kesuksesan yang tidak pernah ia bayangkan sebelum berangkat mengikuti program transmigrasi di era pak Harto.

” Lha wong biasa macul (mencangkul) di Jawa, datang ke daerah transmigrasi pasti rajin bekerja. Dan, orang rajin bekerja pasti sukses. “Cuma keyakinan itu bekal kami berangkat merantau ikut program transmigrasi pak Harto, selebihnya semua disiapkan pemerintah.” Tentu saja jika kami mengenang semua itu, maka, kami sangat merasa berhutang budi kepada beliau (Pak Harto), mas .

Wi – Ar     #MerayapiSumsel