Opini, Piye Kabare

Bangsa Besar yang Kehilangan Mimpi Besar

 

SOEHARTONESIA.COM


Oleh : Okky Ardiansyah
Analis Annas Digital

Bangsa ini sedang mencari sosok untuk mengatur jalanya tata kehidupan sesuai norma. Mencari pemimpin yang memiliki kualitas untuk mempengaruhi rakyatnya dan jika perlu dunia. Lalu, jika debat pilpres hanya dijawab : “jika memang ada, silahkan laporkan.” Bisakah kita berharap ?

Bahwa rakyat telah berdamai dengan keputusan wasit pemilu, itu nyata. Tetapi, meski kisi-kisi telah diberikan, seharusnya dengan kesadaran kualitas putra terbaik bangsa, paparan demi paparan tidak kalian gantung-gantung hingga tak menyentuh realita yang justru sedang dihadapi bangsa ini.

Usai debat, keduanya pun kembali memasang topeng ekspresi yg biasa mereka tunjukkan. Dan, kembali riuh media tanpa akal budi dan nurani memberi nilai, mengukur pasangan mana yg menang dengan argumennya. Rakyat digiring untuk lupa, bahwa : sesungguhnya argumen yang tepat dari seorang pemimpin itu justru berujung pada kesunyian, bukan keriuhan.

Okky Ardiansyah
Kisah, Opini, Piye Kabare

Masih Tentang Janji Jokowi

 

SOEHARTONESIA.COM


Oleh: Okky Ardiansyah
Analis Anas Digital

Provinsi Nusa Tenggara Barat terdiri dari dua pulau besar, Lombok dan Sumbawa. Suku Sasak adalah sukubangsa yang mendiami pulau Lombok.

Sebagian besar suku Sasak beragama Islam. Kehidupan Islami tercermin kental dalam keseharian masyarakat. Mushola – mushola kecil di tengah sawah atau dipinggir aliran sungai yang masih jernih, tak jarang kita temui.

Beralas sejadah tikar anyaman pandan sederhana, dihembus angin sawah, menghadap Illahi Rabbi serasa paripurna.

Tidak cukup dengan itu, Masjid masjid besar pun tampak berdiri kekar dan megah. Dengan jarak tidak terlampau berjauhan, kampung per kampung seolah berlomba membangun serta memperindah masjid nya. Pulau Seribu Masjid, sah.

Nusa Tenggara Barat sedang tumbuh dengan pesat. Pariwisata sebagai sektor andalan ke dua setelah pertanian menggeliat setelah lama tidur panjang .

Dulu, Joop Ave, mentri pariwisata menggalakkan “Visit Indonesian Years.” Di Era Pak Harto, Lombok-Sumbawa termasuk salah satu tujuan primadona pariwisata. Sempat terlelap kembali, sejak BIL (Bandara Internasional Lombok ) beroprasi, gairah usaha sektor pariwisata bangkit lagi.

Agustus 2018 lalu, gempa mengguncang Lombok – Sumbawa.Provinsi yang sedang elok-eloknya memoles diri ini harus kembali berjuang untuk bangkit. Tidak sedikit infrastruktur rusak, dan ribuan rumah penduduk roboh, rusak ringan maupun parah.

Presiden Jokowi dan jajarannya beberapa kali meninjau langsung daerah yang rusak parah terdampak gempa. Foto-foto epic beliau banyak beredar di sosial media maupun media arus utama.

Alhamdulilah, dari jauh saya menyimak melalui media, penanganan pemerintah terkait rehabilitasi pemukiman pun sarana prasarana termasuk sarana ibadah akan digenjot pembangunannya.

Sebagai putra Lombok, yang pernah tinggal dan tumbuh dewasa di pulau nan elok itu, saya turut bersyukur. Apalagi, presiden Jokowi dengan gamblang menjajikan bantuan kepada korban gempa dengan nilai nominal rupiah yang saya rasa cukup.

Janji Jokowi tersebut tertuang dalam Inpres Nomor 5/2018 dan Peraturan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 2/2018 tentang penggunaan dana siap pakai (DSP).
Dalam dua aturan dasar tersebut, dijelaskan besaran dana bantuan yang akan diterima masyarakat korban gempa, antara lain Rp 50 juta untuk kategori rusak berat, Rp 25 juta untuk kategori rusak sedang dan Rp 10 juta untuk kategori rusak ringan.

Pemimpin sejati tidak akan pernah ingkar janji, baik pada janji yang diucapkannya secara sadar, lebih-lebih janji yang dilontarkan kepada rakyat secara langsung lewat lisannya sendiri.

Dan, sebagai masyarakat berkultur agamis, masyarakat Lombok tentunya meyakini itu. Hal tersebut Menjadi panduan hidup untuk memilih pemimpinnya.

Tentunya di sisa waktu ini, masyarakat masih berharap janji Presiden Jokowi dapat direalisasikan, karena tentunya masyarakat akan menilai bahwa nilai utama seorang manusia terletak pada konsistensinya menepati janji (jujur).

Jika tidak, maka bisa jadi pak Jokowi akan dinilai masuk dalam ketegori sebagai seorang yang “Munapek” ( kalimat orang sasak untuk menyebut “Munafik “).

Sosial, Tokoh, Ulasan

Siti Hardijanti Rukmana : Allah Akan Mengganti Dengan yang Lebih Baik, Insya Allah

SOEHARTONESIA.COM

“Que Sera, Sera… Whatever will be, will be – Apa yang terjadi ,terjadilah.” 

Lima hari yang lalu kami masih menikmati menatap keceriaan anak-anak bermain dibawah sinar lampu jalan yang meskipun telah diresmikan belasan tahun yang lalu, cahanya-nya masih tidak pudar, dan senantiasa menjadi sumber kegembiraan mereka.

Saat ini, begitu terasa suasana bermain itulah yang dirindukan anak-anak. Kini, mereka harus beradaptasi dengan lingkungan di pengungsian.

Sedikit gambaran dapat saya tuliskan dari apa yang diceritakan serta dirasakan korban bencana Tsunami Selat Sunda – Lampung yang berada di pengungsian, pasca desa mereka diterjang Tsunami.

“Tentunya sebagai manusia, dalam menghadapi bencana ini kita hanya dapat berpasrah dan berdoa, mas.”

“Dan, terima kasih kami kepada seluruh relawan dan pemerintah, serta khususnya kepada ibu Tutut Soeharto yang pada hari ini berkunjung, juga menyempatkan diri untuk memberi motivasi kepada anak-anak,” ujar salah seorang pengungsi.

Hari itu Sabtu 29 Desember, Siti Hardijanti Rukmana, akrab disapa Mbak Tutut bersama rombongan menyambangi korban bencana Tsunami Selat Sunda Lampung .

“Anak- anak, kalau sudah besar nanti mau jadi apa ? “

“Jadi Presiden bu, jadi Dokter, saya jadi Guru, bu.”

Sahut – menyahut suara anak-anak menjawab pertanyaan Mbak Tutut, di posko pengungsian lapangan tenis indoor Kalianda, Lampung Selatan, lokasi para pengungsi dari Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku.

“Boleh.. boleh, jadi Presiden boleh, jadi Dokter, jadi Guru, semua boleh.”

“Tapi, ada syaratnya, hayo apa Syaratnya, siapa yang tahu ?”

“Belajarrrr..!!”

“Ya.. bener, harus belajar yang rajin, biar pinter. Dan, harus di-ingat juga, harus banyak ber doa pada Allah, setuju ?”

“Setuju buu,” anak-anak menyahuti.

Mbak Tutut Soeharto tampak ceria berbincang dengan anak-anak pengungsi pulau Sebesi. Tanpa skat, tanpa rikuh, bahkan beberapa anak tampak dipeluk-nya dengan hangat.

Selain mengajak mereka bernyayi bersama, Mbak Tutut juga memberi motivasi kepada anak-anak, serta orang tua mereka.

Menurut Mbak Tutut, “Penting untuk senantiasa membangkitkan motivasi kepada anak-anak dengan berbagai kegiatan termasuk mengajak mereka untuk menyanyi, dan berbagai kegiatan untuk menghilangkan trauma pasca bencana.”

“Bagi para orang tua harus tetap tegar, tidak larut dalam kesediahan, karena Allah akan mengganti semua dengan yang lebih baik, Insya Allah,” tambahnya.

“Saya melihat, penanganan terhadap para pengungsi oleh pemerintah Lampung Selatan sangat baik, anak-anak tersebut sudah mulai dalam kondisi normal, meski pendampingan tetap harus dilakukan,” ujar putri mantan Presiden HM. Soeharto itu saat diwawancarai wartawan.

Dan, saya pun teringat walau hanya sepenggal, bukankah “jika Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka karena Allah Mencintainya, dan Barangsiapa yang sabar maka dia mendapat pahala atas kesabarannya.”

“Que Sera… Sera… Whatever Will be .. Will be”  – Doris Day, melantun dalam Ruang Kabin. Dan, kami melanjutkan perjalanan.

Dalam Doa, Insya Allah mereka Tegar. (Ardi)

Apresiasi

Pak Harto Atau Jokowi Yang Memuliakan Petani ?

 

SOEHARTONESIA.COM


Saya sedikit melamun, meniti tarian-tarian alam di luar jendela Bus malam yang terjebak pagi. Aktifitas di luar tampak bersemangat, awan-awan yang tersenyum pada tipis rajutannya dan sinar matahari yang masih ramah seolah memberi waktu bagi halimun tipis untuk bercengkrama dengan ujung-ujung padi.

Waktu itu pukul tujuh pagi, dari jendela Bus saya menyaksikan ribuan hektar hamparan hijau tanaman padi yang begitu nyata dirawat dengan hati. Padi tumbuh di tanah yang subur, air melimpah dan insan tani yang selalu menengadahkan tangan pada Illahi Rabi untuk keberkahan atas apa yang ditanamnya. Lalu, kurang apa lagi ?

Masih melekat diingatan saya saat kampanye Capres 2014 silam, Jokowi menyatakan : petani harus dimuliakan. Harus stop impor. Bukan cuma impor beras. Dia juga berjanji, kalau terpilih menjadi Presiden, akan menyetop impor daging, stop impor kedelai, sayur, buah, dan ikan. Alasannya, Indonesia punya semua itu, dan berlimpah-ruah.

Janji yang bagi Insan tani Indonesia se-akan guyuran hujan saat kemarau panjang itu ternyata tak kunjung datang. Pada kenyataannya, kembali petani harus berjibaku melawan dua juta quota impor beras untuk sekedar mencari tetesan keringat dari hasil panen mereka.

Pada media On line saya juga membaca, ternyata tidak hanya padi, bahkan secara akumulatif sejak Januari hingga November terjadi peningkatan impor sayuran, dan telah mencapai 732.715 ton, dengan keseluruhan nilai impor telah mencapai USD 602 juta.

Lalu, bagaimana dengan janji Jokowi memuliakan Petani ?

Indonesia pernah mencapai swasembada beras pada era Orde Baru, swasembada berhasil dicapai dengan dukungan teknologi dan manajemen budidaya padi yang tarafnya lebih rendah dibanding sekarang.

Tentunya fakta tersebut mematahkan argumen yang menuduh kelemahan teknologi dan manajemen sebagai penyebab kegagalan swasembada beras sehingga impor harus terus dilakukan demi menjaga kebutuhan beras Nasional.

Orang boleh-boleh saja tidak suka dengan pak Harto, tetapi faktanya kebijakan harga padi yang diterapkan pada era pak Harto memimpin, dapat membuat petani tersenyum. Hasil panen mereka cukup, dibagi untuk mengirim wesel ke anak-anak mereka yang bersekolah di kota.

Bagi negara Agraris, Impor beras adalah langkah anti-kedaulatan pangan. Dan bagi petani, impor beras yang dilakukan rezim Jokowi kali ini berarti mengkhianati janjinya sendiri.

Maka tidaklah heran jika terpatri dalam ingatan petani : Pak Harto tidak pernah berjanji, tetapi ia berupaya sepenuh hati untuk memuliakan petani. Dan untuk kali ini, masihkah kita percaya janji ?

 

Opini

Rindu Pak Harto Itu Nyata, 2019 Ganti Presiden Itu Fakta

 

SOEHARTONESIA.COM

Menyalakan sebatang rokok menghisapnya dalam-dalam sambil membuka beberapa pesan
Whatsapp yang masuk.

Mata saya tertuju pada salah satu link portal berita on line yang dikirim seorang kawan. “Surat terbuka Adian Napitupulu,” demikian se-penggal judul yang tertulis dengan huruf kapital, mencolok.

Deg-degan saya membacanya perlahan-lahan, menghayati paragraf demi paragraf berharap menemukan sesuatu yang spektakuler dari tulisan Adian.

Ealah, sampai usai saya membaca ternyata isinya cuma berputar-putar pada isu-isu zaman-ku kuliah ndisek (dulu), yang ia sedikit ramu dengan tambahan analisa konyol. Ternyata, menjadi anggota DPR-RI yang terhormat tak mengubahnya menjadi lebih smart.

Sudah tentu, ia merasa mendapat panggung kembali, rasanya tidak hanya saya yang menilai bahwa di berbagai kesempatan ia selalu berusaha menunjukkan bahwa ialah yang paling paham mengenai Orde Baru, aktivis 98, ceritanya.

Kita ketahui, kini setelah dua puluh tahun Reformasi, nama Pak Harto ber-ubah menjadi simbol perlawanan terhadap ketidak mempuan Rezim Jokowi (junjungan si Adian), mengelola negara, mengemban amanat rakyat.

Bagaimanapun saat ini tidak mungkin dapat mengelak dari kenyataan bahwa Rakyat rindu Soeharto itu suatu hal yang nyata, dan 2019 rakyat ingin ganti presiden itu sebuah fakta.

Ndeso ? Ooo, iyo. La wong ulasannya masih seputar Freport , UU Penanaman Modal Asing, yang dikait-kaitkan bahwa itu semua kesalahan pak Harto.

Bagi saya, sederhana saja : ia tidak bercermin. Mangkane (mangkanya) kumus-kumus, (Baca muka berminyak, lusuh ) padahal sogeh (kaya).

Jika dahulu, mungkin isu yang ia coba angkat kembali tersebut mengena dikalangan mahasiswa, tetapi di era keterbukaan informasi ini sudah harusnya dia bercermin dan memahami bahwa kontrak Freeport pertama itu terjadi pada tahun 67, dan itu-pun soal tembaga, kontrak-pun hanya berjangka 30 tahun saja, harusnya berakhir di era siapa ?

Selain itu, secara geografis Freport berada di daerah pegunungan Papua yang sulit. Bangsa kita di ujung kebangkrutan, secara teknologi tidak mumpuni untuk menggarap sendiri, bahwa justru di era bangsa kita ber-teknologi seperti saat ini Soal Freeport harusnya ia pertayakan pada pejabat-pejabat era reformasi, kenapa kontrak dan konsesi-konsesinya justru diperluas, itu baru tjerdas. Bukankah hal tersebut juga merupakan tugas anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ?

Reformasi digulirkan bertujuan ingin memperbaiki keadaan, jika demikian tentunya kontrak Freeport justru tidak malah diperluas dan diperpanjang ? Coba kau pertanyakanlah itu, bukan hanya tidur di ruang sidang.

Coba juga kau tanyakan mengapa justru dengan kemajuan teknologi saat ini malah negeri ini tak mampu mencapai swasembada pangan? Malah di era junjunganmu import digenjot ugal-ugalan.

Bukankah hal itu adalah sebuah bukti kegagalan ? Ojo ngisin-ngisini (malu-maluin) lah, Aku yo tau kuliah, yo aktivis, yo tukang Demo.

Adian juga menutupi kebenaran bahwa pada awalnya PORKAS diniatkan untuk menggalang dana masyarakat untuk membiayai PON (Pekan Olah Raga Nasional ), dimana ia katakan bahwa di era Orde Baru judi dilegalkan, rasanya ia sesat dalam menarik kesimpulan.

Bahwa judi kupon pada saat itu dilegalkan, benar. Tetapi, masih di era Orde Baru juga judi itu ditutup/ dibatakan.

Bahwa dalam perjalanannya, pak Harto memandang teramat besar mudharat yang disebakan judi Kupon itu, sehingga kemudian dibubarkan. Bukankah seharusnya memang begitu itu pemimpin yang sadar ? Melakukan evaluasi. Lalu, apa nya yang salah?

Kecuali, mungkin jika masih berlangsung hingga kini, kemudian atas dasar ke-imanan junjunganmu yang bersorban musiman itu, dan menimbang kemaslahatan, sehingga kemudian junjunganmu membubarkan, baru itu point plus. Mosok mikir sederhana ngono ae ora iso ?

Yang lucu lagi, ia menyoal sebuah gedung yang ia bahasakan sebagai monuman Gay, karena mirip kelamin laki-laki. Gedung itu dibangun era Pak Harto. Ia membahasakan bahwa pengakuan terhadap kaum Homo itu sudah dilakukam sejak Orba. Lah, kalau membahas sesuatu mbok yo ojo nanggung-nanggung, sekalian aja dari zaman kaum luth. Lol.

Di era pak Harto, tidak pernah saya menyaksikan pasangan Gay berpeluk mesra, berciuman dimuka umum laiyaknya kini, kalaupun ada prilaku demikian masih merupakan aib di lingkungan masyarakat. Mereka tak berani muncul dipermukaan.

Dan, untuk kau ketahui, temuan terbaru, ada 17 ribu pemuda pria sekolah menegah atas pisitif terjangkit HIV di Jawa tengah , dominan disebakan prilaku menyimpang tersebut. Jadi, apa dengan adanya temuan kasus itu kau juga akan menyalahkan pak Harto ?

Dan, coba mungkin perlu kau kritisi,junjunganmu, mengapa di era pemerintahan kekinian ini biaya pendidikan di perguruan tinggi menjadi sangat tidak ramah kepada orang miskin ?

Mengapa justru di era pak Harto pendidikan dapat dikondisikan dalam harga yang bisa terbeli bagi siapa saja, bagi semua anak bangsa, bukankah kau termasuk yang mampu menjangkaunya ?
Bangun, bersihkan matamu !!

Okky Ardiansyah
Analis di Annas Digital

Okky Ardiansyah