Opini, Sosial

Pak Harto Guru Korupsi ? Aah, Kau Tidak Bercermin ! !

 

SOEHARTONESIA.COM

Oleh: H.ANHAR,SE.
Politisi Partai Berkarya.
Anggota DPR-RI Priode 2004-2009

Silahkan anda coba iseng-iseng saja memancing pembicaraan terkait tindak korupsi, mungkin saat santai berbincang di pos ronda atau di warung kopi emperan jalan dimana masyarkat kecil kita berkumpul.

Pasca reformasi, mental korupsi belum dapat dikebiri, justru semakin menjadi-jadi. Bahkan timbul semacam anggapan di masyaraka bahwa pejabat pemerintahan itu kalau kaya, ya
pasti karena bisa punya kesempatan untuk melakukan tindakan korupsi, dan fakta anggapan demikian sudah sego jangan ( umum / lumrah) kata orang Jawa.

Bagaimana tidak, hampir setiap hari masyarakat disuguhi berita tentang korupsi, bukan prestasi yang patut diapresiasi. Para pejabat tinggi satu demi satu antri ditangkap KPK, kejaksaan, dan polisi.

Lalu, beberapa bukan-nya malah terlihat malu, malah dengan senyum sumringah dan seolah menantang kamera wartawan seraya mengacungkan tiga jari yang kerap digunakan anak band musik metal. Moralitas ? Nol besar.

Bahkan menurut Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Agus Raharjo, saking parahnya, semua penyelenggara negara bisa saja ditangkap oleh lembaga antirasuah melalui Operasi Tangkap Tangan (OTT).

Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Prof. Mahfud MD, dalam satu acara diskusi di
Televisi. Mahfud mengatakan bahwa saaat ini perilaku korupsi yang terjadi di Indonesia jauh lebih parah dari jaman pak Harto.

Selain itu ketimpangan ekonomi juga semakin parah. Seharusnya kita malu dan apa kita tidak merasa berdosa pada pak Harto ? Ucap Mahfud.

Tentunya menjadi ajaib sekali ketika seorang politisi PDIP, Ahmad Basarah, yang mengatakan bahwa guru dari korupsi Indonesia sesuai TAP MPR Nomor 11 tahun 1998, adalah mantan Presiden Soeharto.

Pada media on line saya membaca, ia mengucapkan pernyataan itu untuk menanggapi ucapan Porabowo yang mengatakan bahwa korupsi saat ini sudah mencapai stadium empat. Politis, sah. Tetapi, ia tidak bercermin. Rakyat sudah sangat cerdas.

Jika kita menggunakan kalimatnya yang mengatakan bahwa Pak Harto sebagai guru korupsi, maka tentunya ia sebagai elit partai penguasa saat ini harus memiliki standar moral maupun hukum yang juga mengacu pada tap MPR yang ia sebutkan.

Sebagai partai penguasa, standar moral pun hukum itu tentunya harus diwujudkan-nya dengan turut mendukung pemerintah untuk mampu mewujudkan pemerintahan yang bersih. Faktanya ? Kader-kadernya yang duduk di pemerintahan justru ramai digelandang KPK.

Bahkan, jika kita mengacu pada berbagai hasil riset lembaga-lembaga survei , justru partai tempat Basarah bersarang ini menduduki peringkat kedua partai yang kadernya paling banyak terjaring operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Lalu, dimana logika seorang elit partai penguasa jika demikian? Bukankah hal tersebut tak ubahnya pernyataan anak yang masih duduk di Sekolah Dasar (SD).

Padahal, dalam tap MPR yang ia kutip sama sekali tidak menyebut personal terkait Pak Harto. Jadi, wajar jika kemudian kita katakan bahwa pernyataan yang diucapkannya adalah cermin cacat logika berfikir seorang elit partai penguasa. Menyedihkan.

Uncategorized

Julukan Suharto Bapak Pembangunan Indonesia Adalah Pembohongan Publik !

SOEHARTONESIA.COM

Kalian saya tantang nih, kalau ada yang bisa memberikan bukti hasil pembangunan presiden sebelum pak jokowi…. pasti kalian tidak bakal bisa memberikan bukti hasil pembangunan sebelum era pak jokowi, pasti tidak ada!

Selama ini kita selalu dicekoki doktrin bahwa Suharto adalah bapak pembangunan Indonesia itu adalah doktrin menyesatkan yang hanya bertujuan menjatuhkan citra pak jokowi sebagai presiden terbaik sepanjang sejarah Indonesia.
Kita semua tahu bahwa pak jokowi is the best, hasil kerja pak jokowi selama 3 tahun setara dengan hasil kerja Suharto selama 32 tahun.

Hidup di jaman sekarang serba enak dengan semua pembangunan yang ada sekarang, ini semua adalah hasil kerja jokowi. Tak ada pembangunan infrastruktur apapun sebelum era jokowi. Pasti kalian nggak percaya bukan?
Coba saja tanya sama para pendukung pak jokowi, adakah pembangunan di era Suharto apalagi era SBY? pasti jawaban mereka nggak ada !

Sebelum era pak jokowi menjadi presiden semua bagian negara ini adalah hutan rimba belantara yang hanya dihuni oleh kodok, kecebong, kambing hitam, pokoknya ngeri deh…

Sebelum jokowi jadi presiden sama sekali tidak ada pembangunan jalan raya, jembatan, bandara, pelabuhan laut, tidak ada gedung sekolah SD, SMP, SMA apalagi perguruan tinggi negri, rumah sakit, pasar tradisional, kantor pemerintah daerah, pembangkit listrik, satelit, terminal bus, stasiun kereta api, jembatan, pokoknya tidak ada hasil pembangunan apapun.

Indonesia 100% masih primitif dan sangat terbelakang, bahkan pak jokowi waktu nyagub di DKI beliau dari Solo ke Jakarta dengan cara ngesot sebab ketika itu, ketika beliau belum jadi presiden belum ada infrastruktur dan fasilitas apapun untuk menuju Jakarta.

Hmm… pasti nggak percaya kan…? COBA TANYA SAJA SAMA PENDUKUNG JOKOWI !

Jadi, kalau ada yang bilang suharto itu bapak pembangunan Indonesia percayalah itu adalah fitnah keji untuk menjatuhkan reputasi pak jokowi yang merupakan presiden terbaik sepanjang sejarah Indonesia, Cuma di jaman jokowi pembangunan merata dan digalakan, sosok jokowi juga benar-benar peduli rakyat, dan merakyat.

Di era jokowi ini segalanya serba enak, BBM, gas, tarif listrik murah, pajak ringan, sembako SEMUA MURAH, harga-harga tersebut jauh lebih murah daripada era pemerintahan sebelumnya, bisa swasembada pangan, dan para petani sejahtera.

Pokoknya jokowi is the best lah…. jadi besok-besok kalian jangan ASAL KLAIM HASIL KERJA PEMERINTAHAN SEBELUMNYA YA… SEMUANYA HASIL KERJA NYATA JOKOWI KOK…..

#Salam 7 periode, Alpaaatekah…..
(Awas… postingan ini mengandung satire tingkat tinggi yg sangat mematikan)

Sumber : https://www.facebook.com/416639802074572/posts/451407461931139/

Piye Kabare, Tokoh

Angkatan Muda Partai Berkarya Lahir Atas Kecintaan Pada Pak Harto

Generasi milenial atau juga biasa disebut Generasi Y, lahir pada kurun waktu 1980-2000. Diakui, sebagai generasi yang cerdas dan melek teknologi. Keberadaan generasi milenial menjadi sangat berharga untuk mewarnai perpolitikan di Indonesia. Lumrah saja, karena dengan berbekal kemampuan lebih mereka yang dominan di bidang teknologi dan informasi, mereka bisa menggerakkan sebuah pergerakan yang masif untuk mendukung hal-hal positif

Demikian juga dengan AMPB Berkarya yang merupakan salah satu sayap organisasi kemasyarakatan Partai Berkarya. AMPB Berkarya adalah generasi Muda Partai Berkarya yang kelahirannya merupakan Pengejawantahan atas kecintaan para anak-anak muda kaum Milenial kepada sosok Pak Harto.

“Banyak sekali disinformasi yang sengaja disebarkan pihak-pihak yang mencari keuntungan dengan menjatuhkan Citra pak Harto yang tidak berdasarkan fakta, hal inilah yang akan kita lawan, kami akan memaparkan berbagai fakta keberhasilan pemerintahan presiden RI ke-2 yang sesuai dengan fakta sejarah yang ada,” ujar Bung Kapten Indonesia Oktoberiandi dihadapan Sekjen Partai Berkarya H Priyo Budi Santoso dalam rangka persiapan peringatan Hari Sumpah pemuda 28 Oktober, senin 15 Oktober di kantor DPP Partai Berkarya.

Menanggapi apa yang dikatakan Oktoberiandi, H.Priyo Budi Santoso mengatakan : “Generasi Milenial tidak boleh menjadi bidak-bidak politik, yang gampang disesatkan melalui isu-isu yang belum jelas keabsahannya dan terhasut oleh info-info serampangan, yang sengaja dihembuskan oleh para aktor-aktor politik untuk mendiskreditkan Pak Harto demi kepentingan Citra politik mereka.”

Priyo juga menambahkan : “Anak-anak muda yang tergabung dalam AMPB diharapkan untuk berperan aktif dan bersikap elegan dalam menyuarakan kebenaran akan keberhasilan pemerintahan era Soeharto serta mampu memilah isu secara selektif sekaligus menepis isu-isu negatif yang tidak sesuai dengan kenyataan, ” tutupnya. (Red)

Memorial

KAMU HARUS KUAT

SOEHARTONESIA.COM

Oleh : Siti Herdijanti Rukamana

Pagi itu saya berpakaian rapi dan resmi, karena pagi itu bapak akan menyampaikan pidato berhentinya dari Presiden di istana Merdeka. Di Cendana saya menemui bapak yang sudah duduk di ruang keluarga.

Bapak melihat saya berpakaian rapi bertanya pada saya: “arep nang endi kowe (mau kemana kamu).”

“Mau nderek (ikut) bapak ke istana,” saya menjawab lirih.

Bapak agak kaget, lalu beliau mengatakan: ”Kamu di rumah saja, ini acara resmi kenegaraan.”

“Tapi saya mau ikut bapak,” saya bersikeras memohon.

“Lihat di TV saja nanti, kan sama saja, lagi pula ini bukan acara keluarga,” bapak pun bersikeras.

Saya tetap pada pendirian saya: “Kali ini saya mau ikut bapak, saya mau menemani bapak.”

“Kamu nanti nggak kuat mendengarnya,” bapak menjelaskan.

“In sya Allah saya kuat pak, saya ikut ya pak,” saya memohon.

Pak Harto membacakan pidato menyatakan berhenti

Akhirnya bapak mengizinkan saya ikut ke istana. Sampai di istana bapak menuju ruang keluarga sambil menunggu waktu upacara dilaksanakan. Tidak lama kemudian, Ajudan dan Protokol istana masuk ruangan memberi tahu bahwa acara segera dimulai. Bapak berdiri lalu berjalan menuju ruang upacara. Sayapun berdiri ikut berjalan di belakang bapak.

Melihat saya ikut, bapak berhenti sambil berkata : “Kamu tunggu di sini saja wuk. Biar bapak sendiri.”

Saya jawab : “Tidak pak, saya ikut, saya mau menemani bapak terus.”

“Bapak kan sudah bilang ini acara kenegaraan, jadi kamu tunggu disini saja.”

“Saya nggak mau bapak sendiri, saya mau menemani bapak.”

“Ini bukan acara keluarga, tidak ada keluarga yang boleh ikut, kowe nunggu ning kene wae (kamu nunggu di sini saja). Dan nanti kamu nggak kuat, malah nggak baik jadinya.”

Karena bapak selalu berbicara bahwa ini bukan acara keluarga, akhirnya saya menyampaikan satu kenyataan yang mungkin bapak lupa :
“Bapak… saya tahu bahwa ini bukan acara keluarga, tapi saya tetap akan ikut dengan bapak sebagai putri bapak, tapi bapak jangan lupa bahwa hingga saat ini saya masih Menteri bapak, jadi saya akan ikut juga sebagai salah seorang pembantu bapak, izinkan saya mendampingi bapak.”

Mendengar jawaban saya, bapak memandang saya agak lama, lalu berkata : “Ya sudah, tapi kamu harus kuat ya.”

“In sya Allah pak,” saya menjawab dengan menahan berlinangnya air mata agar bapak tidak melihat, karena akhirnya saya bisa menemani bapakku tercinta yang telah mengabdikan sebagian besar usianya untuk masyarakat, bangsa dan Negara, pada momen yang sangat penting dalam perjalanan sejarah Republik Indonesia tercinta ini.

Bapak kami seorang negarawan yang selalu menjunjung tinggi prinsip aturan, undang-undang yang berlaku di Negara Indonesia, tapi juga seorang bapak yang selalu melindungi keluarganya. Beliau sangat mengkhawatirkan perasaan saya menerima kenyataan bahwa bapak akan berhenti dari jabatan Presiden yang dipilih oleh masyarakat melalui wakil-wakilnya di MPR-RI. Alhamdulillah beliau bapakku…, terima kasih Tuhan.

Pak Harto membacakan pidato menyatakan berhenti

Bapak, apapun yang bapak putuskan, kami anak-anak bapak, akan selalu mendukungmu setulus hati, sepenuh jiwa. Bapak sampaikan kepada kami, jangan berkecil hati akan apa yang terjadi saat itu, karena Allah tidak pernah tidur, suatu saat masyarakat akan bisa menilai sendiri.

Doa kami selalu menyertai Bapak dan ibu, bahagialah bapak dan ibu berdua di atas sana, di surga-NYA …. Aamiin.
Bapak, Ibu….. we love you.

Jakarta, 31 Mei 2018