Opini

Merealisasikan Janji Gagal Jokowi

Oleh : H.ANHAR,SE, Politisi Partai Berkarya, SOEHARTONESIA.COM

Prabowo pun kali ini masih tidak jauh berbeda dengan 2014 lalu. Gaya pidato menggugah rasa Nasionalismenya masih mengambang di awang-awang.

Pidato menggelegarnya kurang konteskstual. Visi Misi-nya sama saja, berbasis janji. Lalu, apa beda dengan Jokowi?

Ramai diungkap di Sosial Media mengenai 61 janji Jokowi yang sukses menghantarkan ia duduk di Istana tak ter-realisasi. Kini, Jokowi bikin janji lagi. Alangkah naifnya kalau kemudian penantang juga hanya buat janji. Tiga paket janji dalam dua kali pemilu.

Kegagalan Jokowi merealisasikan janji harusnya diangkat dengan cerdas oleh Prabowo, tidak hanya sekedar dijadikan amunisi debat kusir tim kampanyenya untuk menyerang Jokowi. Karena sejatinya rakyat ingin melihat solusi .

Setidaknya solusi dari Prabowo untuk merealisasikan kegagalan janji Jokowi. Kini, Jokowi berusaha mengaburkannya dengan janji-janji baru, seolah tak pernah berjanji di 2014 lalu.

Sedangkan Prabowo tak mengangkat solusinya. Sebut saja mobil ESEMKA. Sejak awal saya tidak pernah percaya Jokowi akan mampu merealisasikan mobil Nasional itu. Apa sebab? ASTRA!

Lalu, beranikah Prabowo menggebraknya? Jika tidak, ya sama saja. Narasi Nasionalis berapi-api harusnya menawarkan kepada rakyat solusi nyata dan terukur, misalnya akan memaksa ASTRA harus terjun langsung menggarap mobil Nasional, solusi terhadap kegagalan Jokowi akan janji Mobil Nasionalnya.

Prabowo harus mengimbangi program kerja andalan Jokowi membagi-bagikan jutaan sertifikat tanah yang patut kita waspadai keberadaan-nya kelak kemudian hari justru akan menimbulkan masalah.

Prabowo bisa saja mengimbanginya dengan membagikan sebagian lahan milik-nya yang begitu luas kepada Petani yang tidak memiliki lahan sebagai langkah nyata Pengejawantahan semangat Reforma Agraria.

Mengajak, mendesak para konglomerat dan penguasa yang memiliki tanah lebih untuk melakukan hal yang sama sebagaimana yang ditentukan oleh Undang undang agar dengan sukarela menyerahkan kepada Rakyat melalui Pemerintah sebagai perwujudan Reforma Agraria.

Probowo harus mampu lepas dari tekanan kekuatan Industri Asing, juga tekanan konglomerat hitam dengan mengangkat rasa Nasionalisme berbasis industri dan reforma Agraria. Karena, jika hanya meniru narasi bung Karno namun tidak kontekstual, maka akan terasa ketinggalan zaman.

Yang harus dilakukan Prabowo adalah mununjukkan kepada rakyat bahwa ia mampu memberi solusi dan membuat tunduk raksasa-raksasa industri asing dan konglomerat-konglomerat hitam.

Jika Prabowo hanya menawarkan visi misi berbasis janji, saya tak yakin ia akan mampu mengalahkan Jokowi yang dalam dua bulan jelang pemilu ini akan terjun dengan kekuatan logistik tambun, karena di saat rakyat sedang sulit semacam ini, uang maha kuasa.

Tentunya rakyat Indonesia akan iklas menahan lapar untuk berdiri dibelakang Prabowo, seperti Soekarno dulu mengGanjal perut rakyat dengan pidatonya, asalkan, yang ditawarkan dua bulan ke depan adalah solusi kongkrit.

Kecenderungannya sudah tampak, bahwa rakyat kecewa, Jokowi gagal mengelola Negara, gagal merealisasi janji-janjinya, tinggal bagaimana Prabowo membuktikan dengan menawarkan solusi yang tepat sasaran, bukan yang hanya mengambang di awang-awang.

Anhar, Caleg DPR RI Partai Berkarya Dapil Banten I Nomor 1
Anhar, Caleg DPR RI Partai Berkarya Dapil Banten I Nomor 1
Opini

Biaya Mahal Kualitas Asal -Asalan, Infrastruktur Era Jokowi ?

SOEHARTONESIA.COM
Oleh: H.ANHAR, SE Politisi Partai Berkarya Ketua Umum Masyarakat Anti Korupsi.  

Reputasi proyek di Indonesia berkualitas rendah dan tidak direncanakan dengan baik, tulis laporan Bank Dunia. Menurut Bank Dunia Hal itu menjadi kendala utama bagi Pemerintah Indonesia untuk memobilisasi lebih banyak modal swasta ke dalam berbagai proyek pembangunan infrastruktur. Artinya, Indonesia akan kesulitan menarik investasi asing untuk melanjutkan proyek yang belum terselesaikan. Dan, apabila bangunan infrastruktur itu tidak terselesaikan, tidak bergulir untuk mendatangkan pemasukan, lalu bagaimana cara negara membayar hutang biaya pembangunan nya? Hutang lagi? Apa hanya dengan kalimat harus optimis saja, tanpa ada kejelasan langkah-langkah kongkritnya?

Berselang hari, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa pemerintahan kabinet kerja gencar membangun infrastruktur karena sudah ada rancangannya semasa SBY masih menjadi presiden.

Loh, kok balik ke SBY, bukankah sebelumnya semua kebanggaan, kehebatan sebagai pelopor pembangunan infrastruktur hanya terjadi di era Jokowi memimpin?

Kalau bukan Jokowi presiden-nya pembangunan infrasrtuktur di seluruh pelosok Indonesia ini tak akan terjadi, demikian bayak media arus utama mempropagandakannya.

Sampai hari ini, setelah kurang lebih se-pekan berita terkait pernyataan Bank Dunia tersebut, belum ada saya temui berita terkait klarifikasi pihak pemerintahan Jokowi yang masuk pada substansi untuk menanggapi pernyatan Word Bank tersebut.

Belum usai keterkejutan publik terkait apa yang dikatakan World Bank, Wakil presiden Jusuf Kalla turut mengeluarkan pernyataan keras terkait biaya pembangunan LRT yang dinilanya berbiaya luar biasa mahalnya. Projek LRT Jabodetabek berbiaya 500 milyar per kilometer. Padahal, Projek LRT termasuk Projek mercusuar Jokowi, Infrastruktur kebanggaan Jokowi.

Apa kemudian salah jika kita menduga dan mengaitkan dengan pernyataan Bank Dunia di atas bahwa dengan biaya semahal itu ternyata kualitas infrastruktur yang dibangun asal-asalan. Tentunya menimbulkan keanehan. Logikanya, high cost haruslah high quality, mengapa yang terjadi justru sebaliknya? tentu patut diduga potensi korupsi besar-besaran sangat mungkin terjadi.

Apapun alasannya proyek infrastruktur sudah dijalankan, proyek yang sebelumnya menjadi jargon utama kampanye pemerinahan Jokowi ini harus dikritisi, diaudit melalui mekanisme yang benar.

BPK dan KPK harus terjun untuk melakukan audit, sehingga permasalahan bisa kembali on the track. Dan, apabila BPK dan KPK tidak berani meng-audit, tentunya anggota DPR RI khusus-nya komisi tiga haruslah berani angkat suara. Jika hanya bungkam duduk manis dan diam Seribu Bahasa, patut kita menduga DPR pun turut tersandera.

Bukankah sudah terang benderang bahwa langkah awal untuk mencurigai adanya potensi korupsi sudah dibuka ke publik oleh Bank Dunia juga oleh Wapres Jusuf Kala? Jangan sampai rakyat lagi yang akan merasakan getirnya, kemudian permasalahan ini hanya ditarik ulur ke ranah politik lalu dikaburkan dengan berita Jokowi belanja Cilok.

Ulasan

Perisai Berkarya Desak DPW DIY Pecat Kadernya Pelaku Asusila

SOEHARTONESIA.COM

Ketua Umum Perisai Berkarya, Tri Joko Susilo, SH mendesak pengurus DPW Partai Berkarya DIY memecat oknum yang menciderai institusi Partai Berkarya dimana telah melakukan berbuat asusila yg diberitakan banyak media sebagai keanggotaan Partai Berkarya.

Kami Perisai Berkarya sebagai Ormas yang sedari awal mengawal verifikasi faktual utk lolos menjadi peserta pemilu dan selalu mengawal membentengi Marwah Partai Berkarya sangat kuatirkan “Jika tidak dipecat dan pembiaran, khawatir ada kader Partai Berkarya yang berulah seperti itu lagi. Ini sangat berbahaya,” tegas Tri kepada media, Rabu (12/12/2018).

Tri Joko Susilo.SH yang rencananya juga akan mencalonkan sebagai Bupati Gunung Kidul 2020 ini mengakui, kasus asusila yang menimpa kader Partai Berkarya Romie Hartanto sekaligus caleg Partai Berkarya untuk DPRD Bantul menjadi pukulan partai pimpinan Tommy Soeharto. Kami berharap para pejabat teras struktur kepartaian di Partai Berkarya dalam menyikapi kasus kasus anggotanya yg terlibat asusila,narkoba,korupsi jangan diberi ampun,berikan sangsi tegas .

Apalagi Partai Berkarya baru pertama menjadi peserta pemilu dan sedang berusaha keras merebut simpati rakyat agar lolos ke Senayan.

Hingga saat ini Pimpinan Partai Berkarya DPW dan DPD DIY belum mengambil tindakan tegas dengan alasan masih menunggu proses hukum yang sedang berjalan dan memantau hingga nanti sampai ke persidangan dan vonis hakim.

Seperti diberitakan, Caleg DPRD Bantul bernama Romie Hartanto digerebek oleh polisi saat bermesraan dengan wanita selingkuhannya, Kurnia Dewi Agustin, di rumah kontrakannya di Desa Condongcatur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Minggu dini hari.

Penggerebekan bermula dari informasi bahwa Romie dan Kurnia pergi bareng pada Sabtu malam, 8 Desember 2018. Sang suami diam-diam mengetahui kabar itu.

Sang suami lantas menguntit mereka, yang intensif berkomunikasi dalam dua bulan terakhir. Sang suami menguntit hingga Sukoharjo, Jawa Tengah, dan kembali lagi ke Yogyakarta menuju sebuah rumah indekos di Desa Condongcatur.

Setiba di rumah indekos yang juga berfungsi gudang obat kecantikan itu, sang suami tak langsung menggerebek istrinya, namun melapor ke Polsek Depok Timur. Lantas mereka bersama ketua RT setempat menggerebek rumah itu.

Tukiman, sang ketua RT, mengaku bahwa saat dia diminta datang, ada dua mobil yang sudah menunggu di depan indekos tempat menginap pasangan itu.

Polisi membenarkan informasi penggerebekan itu dan membenarkan juga nama atau identitas yang digerebek.

“Ini penyidik sedang melakukan penyelidikan. Yang laki-laki R (Romie Hartanto) dan K perempuan (Kurnia Dewi Agustin),” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda DI Yogyakarta, AKBP Yulianto.

Sosial, Tokoh

Tutut Soeharto : Pesantren Merupakan Benteng Moral dan Sumber InvestorDalam Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

SOEHARTONESIA.COM ,-Pernyataan PolitikSiti Hardijanti Rukmana atau akrab disapa Tutut Soeharto memberikan sambutan dalam peresmian berdirinya Rumah Sehat di Komplek Pondok Pesantren Al-Ishlah, Bondowoso, Jawa Timur, Sabtu 3 November 2018 pekan lalu. Dalam sambutannya, Tutut menuturkan bahawa pesantren merupakan benteng moral dan sumber investor dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. “Pesantren sebagai sebuah sistem pendidikan khas Indonesia merupakan benteng moral bagi bangsa, dan salah satu sumber investor dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujar Tutut dalam kesempatan tersebut.

Putri mantan Presiden RI ke 2 HM. Soeharto ini juga mengungkapkan bahwa dahulu banyak pesantren dipersepsikan sebagai lingkungan yang standar kesehatannya kurang bagus. Namun, sekarang kini sudah banyak pesantren dikelola dengan manajemen yang semakin baik, sebagaimana Ponpes Al-Ishlah ini. “Bahkan, kini mendirikan Rumah Sehat untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi keluarga besar pondok pesantren dan masyarakat sekitar,” ungkap Tutut.Selain itu, Tutut pun berharap, Rumah Sehat KH Muhamad Ma’shum ini dapat semakin berkembang dan menjadi inspirasi bagi pesantren-pesantren lainnya dalam menyelenggarakan lingkungan pendidikan yang dikelola dengan baik. “Pendidikan pesantren yang dikelola dengan baik, akan melahirkan berbagai sumber daya pembangunan yang semakin baik pula.

Selamat berkarya untuk bangsa, dan semoga keluarga besar pondok pesantren dan masyarakat sekitar semakin sehat,” tegas Tutut.Pesantren Al-Ishlah, sebagimana disampaikan Siti Hardijanti Rukmana, pertama kali didirikan oleh KH Muhammad Ma’shum di atas lahan seluas setengah hektare, pada tahun 1970, dan diberi nama Pondok Pesantren Miftahul Ulum. Artinya, ‘kunci ilmu pengetahuan’. Namun pada tahun1973, namanya diubah menjadi Ponpes Al-Ishlah, yang berarti ‘perbaikan’, dan luasannya berkembang menjadi 10 hektare. “Dan, Ponpes Al-Ishlah sebagaimana pondok pesantren lain di Indonesia pada saat ini, tidak hanya mengajarkan pendidikan agama, namun juga mengajarkan wawasan pengetahuan sebagaimana pendidikan formal, sekaligus melengkapi peserta didiknya dengan keterampilan,” ungkap Tutut.

Berkarya.id

Piye Kabare, Tokoh

Angkatan Muda Partai Berkarya Lahir Atas Kecintaan Pada Pak Harto

Generasi milenial atau juga biasa disebut Generasi Y, lahir pada kurun waktu 1980-2000. Diakui, sebagai generasi yang cerdas dan melek teknologi. Keberadaan generasi milenial menjadi sangat berharga untuk mewarnai perpolitikan di Indonesia. Lumrah saja, karena dengan berbekal kemampuan lebih mereka yang dominan di bidang teknologi dan informasi, mereka bisa menggerakkan sebuah pergerakan yang masif untuk mendukung hal-hal positif

Demikian juga dengan AMPB Berkarya yang merupakan salah satu sayap organisasi kemasyarakatan Partai Berkarya. AMPB Berkarya adalah generasi Muda Partai Berkarya yang kelahirannya merupakan Pengejawantahan atas kecintaan para anak-anak muda kaum Milenial kepada sosok Pak Harto.

“Banyak sekali disinformasi yang sengaja disebarkan pihak-pihak yang mencari keuntungan dengan menjatuhkan Citra pak Harto yang tidak berdasarkan fakta, hal inilah yang akan kita lawan, kami akan memaparkan berbagai fakta keberhasilan pemerintahan presiden RI ke-2 yang sesuai dengan fakta sejarah yang ada,” ujar Bung Kapten Indonesia Oktoberiandi dihadapan Sekjen Partai Berkarya H Priyo Budi Santoso dalam rangka persiapan peringatan Hari Sumpah pemuda 28 Oktober, senin 15 Oktober di kantor DPP Partai Berkarya.

Menanggapi apa yang dikatakan Oktoberiandi, H.Priyo Budi Santoso mengatakan : “Generasi Milenial tidak boleh menjadi bidak-bidak politik, yang gampang disesatkan melalui isu-isu yang belum jelas keabsahannya dan terhasut oleh info-info serampangan, yang sengaja dihembuskan oleh para aktor-aktor politik untuk mendiskreditkan Pak Harto demi kepentingan Citra politik mereka.”

Priyo juga menambahkan : “Anak-anak muda yang tergabung dalam AMPB diharapkan untuk berperan aktif dan bersikap elegan dalam menyuarakan kebenaran akan keberhasilan pemerintahan era Soeharto serta mampu memilah isu secara selektif sekaligus menepis isu-isu negatif yang tidak sesuai dengan kenyataan, ” tutupnya. (Red)