Opini, Piye Kabare

Rakyat Dikuras Tarif Listrik

SOEHARTONESIA.COM

“Inilah Kapitalisme Perlombaan Tarif” (Bung Karno)

Oleh : Salamuddin Daeng

Hari ini menjadi hari hari yang makin berat bagi rakyat, orang kecil, wong cilik. Bagaimana tidak ! harga listrik makin mencekik. Harga listrik PLN sudah setara dengan harga listrik di Amerika Serikat dan satu setengah kali lebih mahal dari harga listrik di China. Hebat memang, mungkin Pemerintah berfikir bahwa rakyat Indonesia sudah lebih kaya dari rakyat Amerika Serikat dan Rakyat China.

Tarif listrik di Indonesia begitu tinggi, yakni 1465,74/kwh. Jika ditambah pajak, PPJ, dan biaya bank maka harga per kwh untuk pembelian Rp. 100 ribu mencapai Rp. 1562,5/kwh. Sudah diatas rata rata harga listrik di USA 10,28 cent. Kalau pada tingkat kurs sekarang maka tarif listrik USA sama dengan Rp. 1490,6/ kwh.

Tarif listrik di Indonesia sudah hampir satu setengah kali harga listrik di China yang hanya 8 cent dolar per kwh. Kalau di rupiahkan harga listrik di China ini hanya Rp. 1160,0 /kwh. Apakah proyek jalur sutera sudah membuat Indonesia sama jayanya dengan China, sehingga harga listrik harus lebih tinggi dari China.

Perhitungan harga listrik di USA dan di China di atas didasarkan pada asumsi nilai tukar rupiah terhadap USD saat ini rata rata Rp. 14.500/USD. Bayangkan jika kita hitung berdasarkan nilai tukar rupiah rata rata Rp. 9000/USD seperti pada masa pemerintahan sebelumnya, maka harga listrik Indonesia satu setengah kali lebih besar dari harga listrik USA dan tiga kali lebih tinggi dari harga listrik di China.

Itulah mengapa kegagalan Pemerintah dalam menjaga nilai tukar adalah kegagalan yang paling memalukan sekaligus menyakitkan, karena harga listrik yang dijual di Indonesia mengambil patokan nilai tukar rupiah terhadap USD. Jadi pelemahan rupiah berdampak langsung pada makin menderitanya rakyat Indonesia. Jadi Pemerintah seharusnya diminta tanggung jawabnya atas masalah ini dan mereka yang bertanggung jawab harusnya mundur.

Sekarang Menteri BUMN dan dirut PLN dengan seenak perutnya menumpuk utang BUMN yang menguasai hajat hidup orang banyak ini. PLN diserahkan oleh mereka kepada rentenir global. Nasib rakyat Indonesia dijadikan sebagai santapan para rentenir.

Utang PLN & Pertamina Capai Rp 522 T  https://www.cnbcindonesia.com/market/20181203164053-17-44769/utang-pln-pertamina-capai-rp-522-t

Bayangkan sekarang rakyat Indonesia harus menanggung beban :

1. Beban merosotnya nilai tukar rupiah

2. Beban kenaikan harga energi primer batubara dan gas,

3. Beban meningkatnya suku bunga global, yang kesemuanya dimasukkan ke dalam hitungan tarif listrik yang dijual kepada masayarakat, rakyat, kepada wong cilik.

Inilah yang disebut Bung Karno Paduka Yang Mulia Pemimpin Besar Revolusi Indonesia, sebagai penjajahan bangsa sendiri, kapitalisme bangsa sendiri, kapitalisme perlombaan menaikkan tarif.