Piye Kabare

“Lebih Baik Beras Ini Untuk Afrika”

SOEHARTONESIA.COM

“Kelebihan stock beras, Soeharto lebih memilih meminjamkan beras ke Afrika saja”

Pencapaian Indonesia dalam swasembada beras pada 1985 tak lepas dari peranan para petani. Semangat para petani begitu berpengaruh besar pada peningkatan produktivitas beras. Bulog (Badan Logistik) memiliki peranan penting dalam membeli kelebihan seluruh stock beras untuk mencegah kelebihan stock beras yang beredar di pasaran.

Kelebihan stock beras di pasaran dapat mengancam penurunan harga beras, penurunan kesejahteraan petani, serta turunnya semangat petani untuk menanam beras. Jangan sampai membuat petani merasa rugi menanam beras, karena hal tersebut bisa membuat petani memilih untuk menanam tanaman lain selain beras yang dianggap lebih menguntungkan.

Stabilitas harga beras di pasaran menjadi hal yang sangat penting bagi Indonesia dan Negara-negara penghasil beras lainnya. Saat dihadapkan pada kelebihan stock beras beberapa Negara memiliki ciri khas masing-masing dalam mengatasinya.

Amerika dan Jepang memilih pemerintah untuk membeli kelebihan stock beras tersebut. Bahkan petani yang tidak menanam beras sempat diberikan uang agar menjaga kepercayaan para petani dan kestabilan stock beras di pasaran.

Dalam pidato Soeharto di sidang peringatan 40 tahun FAO (Food And Agriculture Organization) dengan tegas ia mengkritik kebijakan suatu Negara yang memilih membuang stock beras demi kestabilan harga di pasaran. Bagi Soeharto

“….Kita menyaksikan sesama umat manusia di dunia ketiga meninggal dunia melalui kesengsaraan dan kenistaan karena kelaparan.”

Jika Indonesia mengalami kelebihan stock beras, Soeharto tidak ingin memusnahkan beras tersebut, ia lebih memilih meminjamkan beras tersebut kepada Negara-negara yang membutuhkan salah satunya Negara-negara di benua Afrika.

Sumber : Majalah Tempo, 23 November 1985 Halaman 12-13