Piye Kabare

Menjawab Kerinduan Masyarakat Akan Figur Pak Harto, Bapak Pembangunan

Hakikat politik adalah ilmu Sosial kemasyarakatan, namun selama ini pemahaman masyarakat umum terkait politik lebih kepada nada-nada minor (negatif), trik dan intrik. Tentunya, upaya untuk meluruskan pemahaman yang salah harus terus diaktualisasikan dengan beragam teknik.

Kerja-kerja politik dari politisi maupun partai politik sejatinya haruslah dirasakan masyarakat sejak awal melalui kegiatan-kegiatan sosial, sehingga masyarakat dapat menilai sejauh mana pemahaman politisi atau partai politik mengenai berbagai kondisi sosial di masyarakat.

Demikian yang ditangkap dengan menyimak pergerakan politisi-politisi Partai Berkarya. Partai baru yang digawangi putra-putri mantan presiden Soeharto itu terasa demikian elok berdansa di medan politik tanah air.

Belum usai kita simak bagaimana Hutomo Mandala Putra, atau biasa disapa Tommy Soeharto, ketua umum Partai Berkary itu beberapa kali menerjunkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat Kec Sumur, Banten.

Diantaranya, Tommy melalui perusahaannya, HUMPUS, membagikan ribuan tas sekolah dan keperluan anak sekolah berlogo Pancasila : “untuk mempertebal jiwa Pancasilais sejak dini,” ujar Tommy saat itu .

Demikian juga yang dilakukan Siti Hardianti Rukmana, akrab disapa mbak Tutut Soeharto, beserta adik bungsunya Siti Hutami Endang Adiningsih atau akrab Disapa Mamik Soeharto, yang masih meninggalkan kesan di masyarakat Tasikmalaya dan Garut terkait Kegiatan Sosial Operasi Katarak serta Santunan Kepada Masyarakat kurang mampu yang dikemas dengan humanis: “silahturahmi dengan masyarakat.”

Sebelumnya, Ibu Tutut Soeharto berdasarkan pantauan kami, dua kali turun untuk menemui masyarakat korban bencana Tsunami di Lampung: Sepuluh perahu nelayan dan berbagai bantuan kemanusiaan ia serahkan langsung ke masyarakat .

Demikian juga yang dilakukan Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, selain aktif terjun langsung dengan Rabu Birunya untuk mengkampannyakan pasangan Capres dan Cawapres Prabowo – Sandiaga Uno, Titiek hari ini, Minggu (3/2/2018) sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya, juga turun menyapa masyarakat Tanggerang Selatan, Banten.

Dalam rangkaian Turba tersebut, Titiek Soeharto menyerahkan bantuan Speaker kepada pengamen penyandang disabilitas dan juga menyerahkan Mesin Jahit kepada seorang penjahit keliling.

Penyerahan bantuan tersebut dilakukan pada saat menggelar pertemuan dengan kader Partai Berkarya di rumah salah satu artis yang juga simpatisan Partai Berkarya, Camelia Malik.

Tentunya kerja-kerja sosial seperti tersebut di atas-lah yang pada akhirnya akan mampu merubah paradigma masyarakat dalam menilai politik, politisi, maupun partai politik. Sejatinya, politik juga adalah persoalan momentum, dan tampaknya kali ini putra-putri pak Harto dengan kendaraan Partai Berkarya-nya sedang menjawab kerinduan masyarakat terhadap figur bapak Pembangunan itu. (Ardi)

Piye Kabare

Titiek Soeharto Berharap, Shinta Danuar Bisa Segera Pulang

SOEHARTONESIA.COM

Pemerintah RI belum juga memulangkan Shinta Danuar, Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Banyumas yang mengalami kelumpuhan di Taiwan.

Hal tersebut menjadi keprihatinan tersendiri bagi Titiek Soeharto. Shinta Danuar merupakan TKI atau Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di Taiwan sejak 13 Maret 2014 sebagai caregiver (penjaga orang sakit). Namun, sejak 31 Desember 2014 lalu, Shinta mengalami kelumpuhan diakibatkan oleh virus di sistem saraf tulang belakang.

“Sudah empat tahun ini, Shinta sudah terbaring tak berdaya. Kami sedang mengusahakan agar Shinta bisa kembali pulang ke Jakarta, dan bisa bertemu dengan anak dan keluarganya. Saya mohon, Pemerintah Indonesia, khususnya BNP2TKI segera bisa membantu kepulangan Shinta ke Indonesia. Cepat pulang ya, Nak..” kata Titiek Soeharto kepada Shinta ketika menjenguk Shinta Danuar di RS Heping, Hsinchu City, Taiwan, pada Minggu (18/11/2018).

Sebelumnya, pada 7 November 2018 lalu, ayah dan ibu dari Shinta Danuar, datang berkunjung ke Rumah Aspirasi Prabowo Sandi di Jalan Cut Mutia 18 Jakarta.

Ketika menyampaikan aspirasi, kedua orang tua dari Shinta meminta kepada Titiek Soeharto agar bisa membantu memulangkan Shinta ke Indonesia.

Dalam kunjungan tersebut, Titiek Soeharto didampingi Farid Maruf (Staf BNP2TKI), Lieus Sungkharisma (Pelaksana Harian Rumah Aspirasi Prabowo Sandi-Cut Mutia), Siswadi (Wakil Kepala KDEI Taipei) bersama istrinya, Ibu dari Shinta, serta Kao Mei Hua (majikan Shinta).

Beberapa waktu sebelumnya, sejak kasus Shinta mencuat di media massa, Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid menyatakan, Pemerintah RI masih menunggu notifikasi dari rumah sakit dan belum mendapat izin dari dokter yang merawat.

Opini, Tokoh

Prabowo Agaknya Perlu Membaca Kembali bab Khadijah dan Rasulullah

SOEHARTONESIA.COM

Oleh : H. ANHAR. SE. MM

Sejatinya pertarungan pilpres 2019 kali ini tidak hanya bicara untuk 5 tahun ke depan saja 2019 -2024 tetapi, lebih.

Pertarungan kali ini tidak bicara mengenai Jokowi Vs Prabowo saja tetapi bicara mengenai perebutan kekuasan untuk 15 tahun ke depan, bicara mengenai kontestasi tiga blok politik besar yang setelah berakhirnya Orde Baru tiga blok ini menguasai perpolitikan di Indonesia.

Megawati dengan PDIP nya, Prabowo dengan Gerindranya dan SBY dengan Demokratnya. Sementara Golkar lebih kepada mencari posisi Aman saja.

Saya menilai dengan terpentalnya Mahfud MD sebagai wakil Jokowi adalah upaya untuk menghadang kembalinya trah politik Gusdur di kancah perpolitikan Indonesia. PKB masih Cak Imin, fakta, persoalan Cak Imin dengan PKBnya akan berkibllat ke mana itu soal lain, dinamis.

Jika Jokowi ditakdirkan menang untuk 2019 tentunya PDIP selama 5 tahun akan lebih sibuk memparsiapakan kadernya untuk pillpres berikutnya, masa tugas untuk Jokowi sebagaimana yang sering disebut-sebut Megawati sebagai petugas partai sudah berakhir, telah 2 periode.

Pertarungan kali ini bisa menjadi pertarungan totalfootbal antara kedua kubu.

Di kubu Prabowo sendiri ,SBY, kali ini saya rasa cukup bijak dengan akhirnya mau mengalah untuk tidak memaksakan AHY menjadi Wakil Prabowo.

AHY tentunya akan dipersiapkan lebih matang untuk 2024.

Namun hal itu akan menjadi sulit bagi Demokrat jika kubu Prabowo kalah lagi untuk pilpres kali ini, karena saya merasa penjajakan Demokrat sebelumnya ke kubu Jokowi untuk memasangkan JKW -AHY tentunya sudah dibaca oleh PDIP sebagai upaya untuk mempersiapkan AHY di 2024 dan tentu saja Megawati tak mau kecolongan.

Realistis  Demokrat masuk koalisi Partai – Partai pengusung Prabowo dan akan kerja total untuk memenangkan Prabowo-Sandi

Terlepas dari perjanjian apa dan apa dibelakang yang terjadi di koalisi partai pendukung Prabowo, dengan keluarnya Sandiaga Uno sebagai kader Gerindra maka sudah dapat dinilai bahwa hal tersebut adalah permintaan koalisi partai pengusung, posisi calon wakil presiden harus netral, bukan dari unsur partai. Tak ubahnya di kubu Jokowi.

Lalu bagaimana dengan langkah politik Prabowo?

Menurut saya, di sini Prabowo harus benar-benar jeli. Prabowo harus mampu menangkap apa yang disiratkan alam baginya jika benar segala niatnya adalah demi rakyat Indonesia. Prabowo harus bisa mengalahkan dirinya.

Kerinduan masyarakat akan Soeharto sebagai kekuatan politik itu nyata, dan harus dijawab tidak hanya dengan lips servis saja.
Menggalang doa rakyat kecil yang selalu terhantar bagi Soeharto dan keluarganya adalah kunci bagi Prabowo sebelum menggalang suara.

Dan bagi saya langkah awal untuk mejawab kerinduan rakyat itu adalah dengan kembali rujuk dengan Titiek Soeharto, sudah selayaknya itu terjadi. Bukankah Rasullulah juga menikahi Khadijah adalah sebaik-baik wanita yang mendukung Rasulullah dalam melaksanakan dakwahnya, baik dengan jiwa harta maupun keluarganya?