Berkarya, Opini

Urgensi Keterwakilan Perempuan

 

Selama dua kali pemilu sejak ditetapkannya
UU No. 2 Tahun 2008 yang memuat kebijakan mengharuskan partai politik menyertakan keterwakilan perempuan minimal 30%, jumlah perwakilan perempuan di parlemen belum terpenuhi.

Namun tentunya pemenuhan kuota 30 persen itu tidak hanya untuk menandingi caleg laki-laki secara kuantitas, tetapi Lebih dari itu, keterwakilan perempuan di parlemen memiliki urgensi tersendiri dalam konteks proses pembangunan yang ada, terutama, untuk mengakomodir kepentingan kaum perempuan.

Menurut Raslinna Rasidin, ditemui saat melakukan kegiatan belusukan di kecamatan Koja Jakarta Utara : “keterwakilan perempuan yang proporsional pada wilayah-wilayah pengambil dan pembuat kebijakan sangat penting fungsinya, dikarenakan yang paling mengerti mengenai persoalan perempuan tentuny ya adalah perempuan itu sendiri.”

Caleg DPR-RI dari partai Berkarya Untuk Daerah Pemilihan DKI 3 : Jakarta Utara, Barat dan Kepulauan Seribu itu juga menambahkan,
“dengan jumlah populasi perempuan yang besar, representasi perempuan sudah seharusnya besar pula, supaya bisa berbicara atas nama perempuan, sehingga secara otomatis dapat memajukan kepentingan perempuan dengan porsi yang adil,” ujarnya.

“Selain itu, kegiatan-kegiatan sosial terkait kepentingan anak sangat membutuhkan kepekaan seorang perempuan, sehingga dengan kepekaan itu, masalah-masalah sosial terkait anak dapat dibahas dengan tajam di parlemen,” ujar Raslinna, artis yang juga aktivis perempuan itu, mengakhiri pembicaraan dan melanjutkan belusukannya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: